Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Nisyan dan Sebab-Sebab Lupa dalam Al-Quran

Nisyan
Gambar: navipos.com

Kata nisyan merupakan bentuk mashdar dari lafadz nasiya yang mempunyai arti melupakan atau melalaikan. Dalam Lisanul Arab disebutkan bahwa kata nisyan merupakan lawan dari kata adz-dzikir yang memiliki arti mengingat. Di dalam Al-Qur’an kata nisyan dan derivasinya disebutkan sebanyak 45 kali, baik dalam fiil madhi, fiil mudhari’, fail, mashdar, dan yang lainnya. Kemudian pertanyaan dalam hal ini, apa makna nisyan dalam Al-Qur’an? Berikut penjelasannya.

Makna Nisyan dalam Al-Quran

Pertama nisyan bermakna meninggalkan, sebagaimana firman Allah Swt surat Thaha ayat 115:

وَلَقَدْ عَهِدْنَآ إِلَىٰٓ ءَادَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِىَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُۥ عَزْمًا

Artinya: Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.

Mengutip tafsir dari At-Thabari bahwasanya disebutkan dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwasanya kata nasiya pada ayat ini bermakna meninggal. Dalam hal ini Nabi Adam yang mana pada waktu itu meninggalkan apa yang diperintah oleh Allah Swt, dan mengikuti bujukan setan.

Selain itu makna nisyan yang berati meninggal juga terdapat pada surat Al-An’am ayat 44:

فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوٓا۟ أَخَذْنَٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

Artinya: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.

Kedua nisyan bermakna melupakan, lupa, atau dilupakan, sebagaimana firman Allah Swt surat al-Kahfi ayat 63:

 قَالَ اَرَاَيْتَ اِذْ اَوَيْنَآ اِلَى الصَّخْرَةِ فَاِنِّيْ نَسِيْتُ الْحُوْتَۖ وَمَآ اَنْسٰىنِيْهُ اِلَّا الشَّيْطٰنُ اَنْ اَذْكُرَهٗۚ وَاتَّخَذَ سَبِيْلَهٗ فِى الْبَحْرِ عَجَبًا

Artinya: Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh”.

Ayat ini merupakan potongan kisah perjalanan Nabi Musa AS. dengan pembantunya. Mengutip pandangan Quraish Shihab bahwasanya dalam ayat ini pembantu Nabi Musa lupa akan hal ihwal dari ikan yang pernah ia temui. Pembantu Nabi Musa mengemukakan faktor yang membuatnya lupa yang tidak lain adalah setan.

Baca Juga  Empat Klasifikasi Anak dalam al-Quran

Surah Al-An’am Ayat 68

Selain itu makna nisyan yang serupa dengan ayat di atas juga terdapat dalam firman Allah Swt surat Al-An’am ayat 68:

وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya: Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).

Penyebab Terjadinya Nisyan

Adapun dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang lain disebutkan bahwasanya terdapat 3 kategori seseorang lupa, melupakan, meninggalkan, dan dilupakan.

Pertama nisyan yang disebabkan oleh setan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Yusuf ayat 42:

وَقَالَ لِلَّذِى ظَنَّ أَنَّهُۥ نَاجٍ مِّنْهُمَا ٱذْكُرْنِى عِندَ رَبِّكَ فَأَنسَىٰهُ ٱلشَّيْطَٰنُ ذِكْرَ رَبِّهِۦ فَلَبِثَ فِى ٱلسِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

Artinya: Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”. Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.

Pada ayat ini telah tampak bahwa setan merupakan penyebab terjadinya lupa pada manusia.

Kedua nisyan yang disebabkan oleh diri sendiri dalam sebuah perjanjian. Sebagaimana dalam firman Allah Swt surat al-Kahfi ayat 24:

إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ وَٱذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰٓ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّى لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

Artinya: Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.

Ayat ini mengingatkan bahwasanya kita dianjurkan untuk mengucapkan lafaz “Insya Allah” ketika sedang berjanji. Jika megutip pendapat Ibnu Abbas bahwasanya pengucapan “Insya Allah” itu dimaksudkan benar-benar terjadi. Namun jika seseorang yang bersangkutan tidak mengucapkannya, maka Allah bisa saja menjadikannya seseorang itu lupa terhadap janji yang dibuatnya.

Baca Juga  Menyayangi Semut: Kisah, Hukum, dan Hikmahnya dalam Al-Qur'an

Lupa Karena Melakukan Keburukan

Yang ketiga dan yang terakhir ini ialah disebabkan diri sendiri dengan sengaja melakukan keburukan. Sebagaimana dalam firman Allah Swt surat al-A’raf ayat 51:

ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا ۚ فَٱلْيَوْمَ نَنسَىٰهُمْ كَمَا نَسُوا۟ لِقَآءَ يَوْمِهِمْ هَٰذَا وَمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَجْحَدُون

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.

Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya seseorang yang sengaja melakukan perbuatan maksiat, maka akan mendapatkan siksaan nanti di akhirat.

Pada hakikatnya, setan merupakan musuh yang paling nyata bagi manusia. Terkadang godaan mereka sangat kuat sehingga dapat menjerumuskan kita kedalam larangan agama. Namun pada hakikatnya juga Allah Swt senantiasa menjaga manusia dari godaan setan yang terkutuk. Selanjutnya tinggal bagaimana manusia itu mau melakukannya atau meninggalkannya. Wallahu A’lam

Penyunting: Bukhari