Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Nilai Sistem Demokrasi dalam QS Asy-Syura Ayat 37-40

Sumber: istockphoto.com

Demokrasi merupakan sebuah sistem pemerintahan di mana kekuasaan politik berada di tangan rakyat. Kata “demokrasi” berasal dari bahasa Yunani, di mana “demos” berarti “rakyat” dan “kratos” berarti “kekuasaan”. Dalam demokrasi, rakyat memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan politik, baik langsung maupun melalui perwakilan yang mereka pilih.

Dalam hal ini, sistem demokrasi di Indonesia memiliki ciri yang khas dibandingkan negara dengan sistem demokrasi lainnya. Demokrasi Indonesia merupakan sistem pemerintahan yang diterapkan di negara Indonesia, di mana kekuasaan politik berada di tangan rakyat. Sistem ini didasarkan pada Pancasila sebagai asas tunggal negara dan tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Dalam upaya menjalankan sistem demokrasi yang baik di Indonesia, tentunya kita harus dapat menciptakan kesadaran bahwa; kita adalah negara yang memiliki kebebasan berpendapat, toleransi di tengah keragaman, menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Serta mengutamakan metode musyawarah saat berhubungan dengan orang lain. Dalam hal ini al-Qur’an telah memberikan beberapa prinsip yang mengandung nilai-nilai demokrasi tersebut yang dijelaskan dalam QS asy-Syura ayat 37-40.

Nilai Demokrasi dalam Al-Qur’an

Surah Asy-Syura merupakan surah ke-42 dalam Al-Qur’an. Ayat 37-40 dari surah ini menyampaikan pesan tentang pentingnya berkonsultasi dalam urusan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun bunyi QS. asy-Syura ayat 37-40 adalah sebagai berikut,

Dan orang-orang yang menjauhi perbuatan-perbuatan keji dan perbuatan dosa dan apabila mereka marah, mereka memaafkan.” (QS. as-Syura (42): 37).

Ayat ini mengajarkan tentang pentingnya menjauhi perbuatan-perbuatan keji dan dosa serta menunjukkan kualitas mulia dalam memaafkan orang lain ketika marah. Dalam konteks demokrasi, hal ini mengingatkan kita akan perlunya mempraktikkan moralitas dan etika dalam hubungan sosial serta pentingnya membangun kesadaran kolektif untuk mencegah tindakan yang merugikan dan negatif dalam kehidupan masyarakat.

Baca Juga  Tradisi Muslim Di Indonesia yang Tidak Dilakukan Di Tempat Lain

“Dan balasan terhadap kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya. Tetapi barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya adalah atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. as-Syura (42): 38).

***

Ayat ini menggaris bawahi prinsip keadilan dan menunjukkan bahwa balasan terhadap kejahatan seharusnya seimbang dan setimpal. Namun, ayat ini juga mendorong umat Muslim untuk memaafkan dan berbuat baik. Serta menegaskan bahwa pahala bagi mereka yang melakukan hal tersebut akan ditanggung oleh Allah. Dalam konteks demokrasi, ayat ini menekankan pentingnya penegakan keadilan dan hukum yang setimpal serta upaya membangun budaya maaf dan perdamaian dalam hubungan sosial.

“Dan orang-orang yang apabila ditimpakan siksa oleh (penindasan) orang lain, mereka membela diri.” (QS. as-Syura (42): 39).

Ayat ini memberikan legitimasi kepada individu untuk membela diri mereka sendiri ketika ditindas atau disakiti oleh orang lain. Dalam konteks demokrasi, ayat ini menunjukkan hak individu untuk melawan ketidakadilan dan penindasan yang mungkin mereka alami, serta pentingnya membela hak-hak dan martabat manusia dalam masyarakat.

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka balasannya adalah atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. as-Syura (42): 40)

***

Ayat ini mengulangi prinsip balasan setimpal terhadap kejahatan, namun juga menggarisbawahi keutamaan memaafkan dan berbuat baik. Allah menjanjikan pahala bagi mereka yang memaafkan dan berbuat baik, sementara Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dalam konteks demokrasi, ayat ini mengajarkan pentingnya membangun sikap toleransi, memaafkan, dan berbuat baik dalam mengatasi konflik dan memperbaiki hubungan sosial dalam masyarakat.

Baca Juga  Menelisik Prinsip Meritokrasi dalam Al-Qur’an

Perintah nilai demokrasi dalam QS Asy-Syura ayat 37-40 memberikan pengertian tentang prinsip-prinsip moral dan etika, keadilan, maaf, pembelaan diri, dan penegakan hukum yang setimpal. Saat kita melihat relevansinya bagi demokrasi di Indonesia, kita dapat menarik beberapa poin penting.

Prinsip-Prinsip Demokrasi dalam Al-Qur’an

Pertama, perintah menjauhi perbuatan keji dan dosa (Ayat 37) yang mengajarkan tentang pentingnya menjauhi perbuatan keji dan dosa dalam kehidupan sosial. Relevansinya bagi demokrasi di Indonesia adalah bahwa masyarakat harus mempraktikkan prinsip-prinsip moral dan etika dalam partisipasi politik dan tata kelola negara. Partisipasi politik yang bertanggung jawab dan penuh integritas akan mendorong terciptanya pemerintahan yang bersih dan adil.

Kedua, perintah untuk saling memaafkan dan  berbuat baik (Ayat 38). Ayat ini menekankan pentingnya memaafkan dan berbuat baik sebagai tindakan moral yang dianugerahkan pahala oleh Allah. Relevansinya bagi demokrasi di Indonesia adalah bahwa dalam membangun masyarakat yang demokratis, penting untuk mempraktikkan sikap toleransi, menghormati perbedaan, dan memaafkan satu sama lain. Hal ini akan memperkuat kerukunan sosial dan mengurangi konflik yang dapat menghambat proses demokrasi.

Ketiga, membela diri (Ayat 39) dengan mengakui hak individu untuk membela diri ketika ditindas atau disakiti. Relevansinya bagi demokrasi di Indonesia adalah bahwa warga negara memiliki hak untuk melawan ketidakadilan dan penindasan. Dalam demokrasi, masyarakat memiliki hak untuk menyuarakan pendapat, mengkritik pemerintah, dan melibatkan diri dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Keempat, balasan setimpal dan penegakan hukum (Ayat 40) yang menekankan pentingnya balasan setimpal terhadap kejahatan. Dalam demokrasi di Indonesia, prinsip ini relevan dengan perlunya penegakan hukum yang adil dan setimpal. Sistem peradilan yang independen dan transparan juga akan memastikan bahwa pelanggar hukum dihukum sesuai dengan keadilan dan tidak ada yang dikecualikan dari akibat tindakan mereka.

Baca Juga  Kekuasaan Itu Bergulir: Tafsir Surah Ali 'Imran Ayat 140

***

Dalam konteks demokrasi di Indonesia, ayat-ayat tersebut juga memberikan pijakan etis dan moral bagi warga negara. Prinsip-prinsip seperti menjauhi perbuatan keji dan dosa, memaafkan, membela diri, dan penegakan hukum yang setimpal adalah landasan moral yang memperkuat demokrasi. Relevansinya terletak pada upaya membangun masyarakat yang adil, toleran, dan menghormati hak asasi manusia.

Selain itu, prinsip-prinsip ini juga mendorong partisipasi politik yang bertanggung jawab. Dialog yang konstruktif antara pemerintah dan masyarakat, serta pengambilan keputusan kolektif yang memperhatikan kepentingan dan aspirasi semua pihak. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini dalam praktek demokrasi, Indonesia dapat memperkuat fondasi moral dan etis serta memperkuat prinsip-prinsip demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan demikian, ayat-ayat tersebut menggarisbawahi nilai-nilai demokrasi, seperti keadilan, partisipasi, toleransi, penegakan hukum yang setimpal, dan membangun hubungan sosial yang baik. Kemudian prinsip-prinsip ini memberikan panduan dalam membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan beradab serta memperkuat pemahaman tentang demokrasi dalam Islam.

Editor: An-Najmi

Naufal Robbiqis Dwi Asta
Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya