Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Nabi Dari Kalangan Perempuan? Prespektif QS. Al-Imran

nabi perempuan
Sumber: https://freeislamiccalligraphy.com

Maryam adalah sosok perempuan yang sangat istimewa, ia dikenal sebagai wanita cerdas, salehah, dan berakhlak mulia. Maryam mendapat keistimewaan yang sangat luar biasa dari Allah, yaitu melahirkan Isa tanpa perantara seorang laki-laki. Ia juga mendapatkan wahyu serta mukjizat yang disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril, kurang mulia apa dia? Bukankah termasuk Nabi perempuan. Dalam surah Ali Imran ayat: 42 dijelaskan yang artinya “Dan (ingatlah) ketika malaikat berkata, ‘wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam.” 

Maryam adalah satu-satunya perempuan yang diabadikan namanya sebagai nama surah dalam Al-Quran, yaitu QS. Maryam surah ke-19 dalam Al-Quran, dan juga menjadi perempuan yang paling banyak disebut. Namanya dalam Al-Quran sebanyak 34 kali secara langsung dan 24 kali; yang berkaitan dengan putranya Isa, ia juga menjadi manusia ke-4 yang paling banyak disebut namanya di dalam Al-Quran.

Nabiah Nabi Dari Kalangan Perempuan

Sebelum kita membahas tentang Kenabian Maryam, perlu kita pahami dahulu apa itu definisi Nabi dan Rasul. Penulis berusaha mengambil pendapat dari alim ulama yang masyhur. Di antaranya Al Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Nubuwwah. Beliau menyatakan bahwa Nabi adalah seorang yang mendapatkan kabar besar dari Allah. Jika ia diperintahkan untuk menyampaikan itu guna meluruskan penyimpangan suatu kaum, maka ia menjadi Rasul. Dan dalam pandangan beliau seorang Rasul tidak harus membawa sebuah syariat baru, contoh seperti Nabi Yusuf alaihissalam.

Al Imam Qurthubi dalam tafsir beliau tafsir Al-Qurthubi menyebutkan, Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu melalui perantara malaikat Jibril. Sedangkan para Nabi mendapatkan wahyu melalui perantara mimpi yang benar. Beliau juga mengatakan seorang Rasul pasti seorang Nabi, dan Seorang Nabi belum tentu seorang Rasul. Menurut Imam Mahmud Al-Alusi dalam tafsirnya mengatakan, bahwa Rasul adalah seorang yang mendapatkan wahyu dan kemudian menyampaikan risalah kepada kaumnya. Sedangkan Nabi mendapat wahyu dan tidak mendapat perintah untuk menyampaikan kepada siapapun.

Baca Juga  Telaah Rasionalitas Pohon Zaqqum dalam Al-Qur'an

Imam Mawardi dalam kitabnya A’lamu An-Nubuwwah. Beliau menambahkan bahwasanya, Rasul itu datang dengan membawa risalah baru, sedangkan para Nabi diutus untuk menjaga risalah Rasul tersebut. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa seorang Nabi mendapat Wahyu melalui perantara Jibril. Namun itu hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan Rasul mendapat wahyu melalui perantara Jibril dan diperintahkan menyampaikan risalah tersebut kepada umatnya. Jika kita sandingkan pendapat ulama dengan kisah Maryam yang ada di dalam Al-Quran, dimungkinakan Maryam termasuk seorang Nabi, terlepas pro dan kontra yang juga akan kita bahas.

Pro dan Kontra di Kalangan Ulama’

Maryam mendapatkan berbagai mukjizat yang sangat mulia, dan yang paling mulia tentunya melahirkan Isa sebagai Nabi dan Rasul yang membawa risalah baru bagi kaumnya. Betapa mulianya seorang Maryam dengan kisahnya yang sangat menakjubkan. Ia menjadi salah satu dari para kekasih Allah yang didatangi oleh Jibril dalam wujud manusia yang sempurna, dan di situ ia diberitahu bahwa ia akan mengandung seorang yang mulia tanpa perantara laki-laki. Seperti para Nabi dan Rasul Umumnya perkataan Jibril itu juga sebagai ujian bagi dia. Namun ia menerima dengan lapang dada sebagai wujud pengabdian kepada Tuhannya.

Apakah kurang cukup bukti kenabian dari Maryam? Apakah karena ia seorang perempuan yang mana itu menghalanginya disebut sebagai Nabi? Padahal Allah sendiri telah melebihkan Maryam dari seluruh wanita di muka bumi. Bahkan secara tidak langsung Allah telah melebihkan Maryam dibanding laki-laki lainnya, namun hal ini perlu mendapat kajian khusus terkait kenabian Maryam. Ada beberapa ulama berpendapat bahwa Maryam termasuk Nabi perempuan, tetapi pendapat ini memang minoritas dan tidak diterima oleh mayoritas ulama.

Baca Juga  Hukum Menguasai Ilmu Bela Diri Bagi Perempuan

Salah satunya adalah Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Hazm al-Andalusy atau lebih dikenal Ibn Hazm. Ia berpendapat bahwa ada Nabi dari kalangan perempuan dan dia menulis tentang hal itu dalam karyanya. Al-Fahslu fi al-Milal wa al-Ahwai wa al-Nihal; ia juga berpendapat bahwa Maryam adalah Nabi perempuan, karena Allah menurunkan wahyu kepadanya sebagaimana kepada Nabi-Nabi yang lain. Mereka berpendapat didasarkan kepada beberapa ayat Al-Quran; yang menyebutkan bahwa Maryam mendapat wahyu dan mukjizat dari Allah, seperti dalam surah Ali Imran ayat: 37, 42-45.

***

Namun pendapat tersebut mendapat banyak kritikan dan penolakan dari ulama lain, yang mengatakan bahwa Maryam bukanlah seorang Nabi. Namun hanya seorang shiddiqah, yaitu orang yang sangat jujur dan benar dalam beriman dan beramal, sebagaimana tertuang dalam surah Al-Maidah ayat: 75. Mereka juga mengatakan, kriteria seorang Nabi adalah harus dipilih oleh Allah; mendapatkan wahyu dari Allah, dari umat Bani Adam, dan berjenis kelamin laki-laki.

Seperti pendapat yang diutarakan Imam Al-Qurthubi, ia menafsirkan ayat: 109 surah Yusuf dan ayat: 43 surah An-Nahl. Disebutkan bahwa Allah tidak mengutus sebelum Nabi Muhammad kecuali laki-laki yang diberi wahyu, dan ia juga mengatakan Maryam hanya diberi ilham bukan wahyu. Begitupula Imam Ghozali yang mengatakan dalam bukunya Ihya Ulumuddin. Bahwa Nabi adalah orang yang mendapat wahyu dari Allah berisi hukum-hukum atau petunjuk dari Allah. Dan bahwa Nabi harus berjenis kelamin laki-laki. Ia mengatakan bahwa Maryam hanya mendapat kabar gembira dari Jibril bukan wahyu.

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa masalah kenabian Maryam adalah masalah yang rumit dan tidak mudah untuk disimpulkan. Setiap pendapat memiliki argumentasi dan dalil yang kuat, tetapi juga memiliki kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kita harus bersikap adil dalam menyikapi pendapat tersebut, dan tidak mudah terjebak dalam fanatisme. Kita harus selalu menghormati dan jangan mencela orang yang berbeda pandangan dengan kita. Kita lakukan adalah mengambil hikmah dari kisah Maryam dan mengikuti teladannya, wallahu a’lam bish-shawabi.