Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Muhammadiyah dan Revolusi Industri 4.0

Industri
Gambar: medium.com

Allah SWT menjelaskan bahwa manusia mempunyai dua kecenderungan yang berbeda yang saling bertolak belakang satu sama lainnya. Kecenderungan untuk beriman dan kecenderungan untuk kafir, kecenderungan untuk berbuat baik dan kecenderungan untuk berbuat jahat. Namun demikian manusia dibekali akal dan hati dalam rangka mengendalikan dua kekuatan dalam jiwanya

Sebagaimana Allah firmankan pada QS. As-Syams 91: 8-10. Rasulullah SAW hanya diutus untuk memberi peringatan dan menunjukkan jalan yang baik dan benar untuk kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Serta membantu mereka menentukan pilihan mengajak mereka selalu memikirkan kejadian alam dan ciptaan Allah SWT.

Perintah Memerhatikan Alam Raya

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili didalam kitab tafsirnya Al-Wajiz, menjelaskan maksud dari QS. Yunus ayat 101 ialah Allah mengajak hamba-hamba-Nya agar melihat sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Maksudnya adalah melihat dengan merenungkan, memikirkan dan mengambil pelajaran terhadap apa yang ada padanya dan apa yang dikandungnya. Karena di dalamnya terdapat tanda-tanda dan pelajaran bagi kaum yang beriman.

Ia menunjukkan bahwa hanyalah Allah semata yang disembah, yang dipuji. Pemilik keagungan dan kebesaran, dan pemilik asma’ dan shifat yang agung. “Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. Mereka tidak mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah karena mereka berpaling dan menyombongkan diri.

Akan tetapi bagi mereka yang tidak meyakini akan adanya Pencipta alam ini karena jiwa insaniahnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Maka ke semua tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah dalam alam ini tidak bermanfaat baginya. Oleh karena itu, kita dituntut untuk menggunakan ataupun mengerahkan anugerah akal dan hati sebaik-baiknya. Untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya dan meningkatkan kualitas kehidupannya agar mereka selamat.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Tantangan Dakwah di Era Digital

Al-Quran dan Pengembangan Teknologi di Era Industri

Perintah untuk berfikir, perintah untuk melihat dan yang senada dengan ungkapan-ungkapan tersebut merupakan perintah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara khusus dan teknologi secara umum. Maka dari itu pengembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 saat ini menjadi keniscayaan. Mereka yang memiliki nalar murni, tidak diselubungi oleh ide yang melahirkan kerancuan dalam berpikir.

Rasulullah menyatakan, “Sungguh celaka bagi siapa yang membaca, tetapi tidak memikirkannya”. Jika pesan ini dibaca (dalam bahasa sekarang) yang menjadi kekhawatiran Rasulullah apabila umatnya menjadikan pesan hanya dijadikan sebagai bahan bacaan bukan sebagai pijakan ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam memecahkan berbagai persoalan kehidupan dan kemanusiaan.

Di era revolusi industri 4.0 ini yang merupakan perubahan dimana untuk memproduksi suatu barang, memanfaatkan mesin sebagai tenaga penggerak dan pemroses. Revolusi industri hadir untuk menjawab permasalahan efektifitas dan efisiensi dalam memproduksi suatu barang. Revolusi industri 4.0 ini mengintegrasikan antara teknologi cyber dan teknologi otomatisasi.

Dampak dari era ini adalah dalam pengaplikasiannya tidak lagi memberdayakan tenaga kerja manusia, sebab semuanya sudah menerapkan konsep otomatisasi.

Fenomena ini membawa banyak pengaruh, baik positif maupun negatif bagi masyarakat. Semua lini tengah berlomba untuk melakukan digitalisasi agar tidak tergerus oleh teknologi yang harus berkembang. Untuk itu masyarakat perlu mengetahui dampak dari adanya era ini, dan cara mengatasinya. Salah satu dampak yang akan terjadi adalah meningkatnya angka pengangguran yang berimbas pada perekonomian negara.

Muhammadiyah dan Tantangan di Era Industri 4.0

Untuk mengatasi permasalahan semacam itu, perlu adanya peraturan atau persiapan khusus untuk mengimbangi fenomena revolusi industri 4.0. Seperti tenaga kerja Indonesia dibekali dengan skill operasional mesin serta pengetahuan dasar yang relevan.

Baca Juga  Mengenal Para Nabi dan Rasul Allah

Kita sebagai hamba-Nya yang beriman, ketika kita mampu dan sudah memperhatikan apa yang ada disekitar kita dalam hal ini perkembangan kemajuan zaman. Maka kita seharusnya melakukan adaptasi dengan era yang sudah berkembang pesat seperti saat ini. Itu semua dilakukan agar kita tidak tergerus oleh teknologi. Syahdan dengan adanya teknologi canggih ini dapat meningkatkan efektifitas dan produktivitas.

Di era digital dan revolusi industri 4.0, Muhammadiyah juga semakin dinamis bertaawun untuk negeri. Mencerdaskan kehidupan bangsa dengan amal usahanya di bidang pendidikan. Salah satu contohnya adalah sekitar 2 tahun lalu Muhammadiyah merilis MOU (Muhammadiyah Online Univesity), yang mana MOU ini dipersiapkan Muhammadiyah sebagai satu sistem tersendiri yang bisa mencakup kampus Muhammadiyah seluruh Indonesia dengan basis kuliah online.

Selain itu juga memberdayakan sosial ekonomi masyarakat dengan berbagai panti asuhan, LazisMu, dan gerakan sosial ekonominya. Sebagai contoh masih pada sekitar 2 tahun yang lalu Muhammadiyah juga merilis iuranmu.org, yang mana iuranmu.org ini sendiri merupakan kanal pembayaran iuran dan infak yang ditujukan kepada warga Muhammadiyah baik yang sudah punya Kartu Tanda Anggota ataupun belum. Tujuannya adalah iuran ini untuk menyediakan dukungan finansial yang mencukupi guna mendukung kesinambungan dan kemandirian persyarikatan dalam menyampaikan Dakwah Islamiyah yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

Peneguhan gerakan salah satunya dengan humanisasi peradaban. Yang mana humanisasi peradaban urgensinya menjadi gerakan kemanusiaan. Masyarakat dunia secara tidak langsung menjadikan teknologi sebagai sarana aktualisasi nilai kemanusiaan, merengkuh kemuliaan dan kebahagiaan hakiki dengan menghadirkan Tuhan dalam kehidupan.

Humanisasi peradaban dapat dimulai dari pengembangan sistem pendidikan holistik integrative. Sistem yang menyeimbangkan orientasi dunia dan akhirat. Dalam konteks ini, dengan konsep pendidikan holistik integratifnya, Muhammadiyah mampu berkontribusi strategis dengan peneguhan gerakan sosial keagamaan.

Baca Juga  Merawat Moderasi Islam, Menjaga Indonesia

Mengukur Kesiapan Muhammadiyah

Peneguhan gerakan sosial keagamaan Muhammadiyah juga harus dibarengi dengan semangat liberasi, yaitu upaya pembebasan manusia dari sistem pengetahuan, sosial, ekonomi, dan politik yang membelenggu. Dalam hal ini, Muhammadiyah harus hadir memberi pencerahan kehidupan beragama, agar agama memiliki fungsi yang optimal sebagai transformasi sosial, spiritual, dan moral, sekaligus berperan sebagai perekat persatuan dan persaudaraan bangsa.

Maka dari itu, implementasi konsep khaira ummah dan baldah thayyibah yang menjadi rencana vital gerakan sosial keagamaan Muhammadiyah menjadi sangat penting dimaknai secara kontekstual. Di abad pertamanya, Muhammadiyah mampu menerjemahkan teologi al-Ma’un dengan menebar kebermanfaatan dan maslahat bagi bangsa dan umat melalui jalur pendidikan, kesehatan, pemberdayaan sosial ekonomi umat, dan jihad konstitusi pada abad keduanya.

Kesiapan Muhammadiyah menghadapi Revolusi Industri 4.0 penting dilakukan dengan merapatkan barisan, menyinergikan segala potensi dan sumber daya, dan tentunya meneguhkan gerakan sosial keagamaan yang mengakar dan mengaliri denyut nadi kehidupan umat dan bangsa. menyinergikan segala potensi dan sumber daya, dan meneguhkan gerakan sosial keagamaan yang mengakar dan mengaliri denyut nadi kehidupan umat dan bangsa.

Modal sosial, intelektual, rekognisi, dan ekspektasi yang tinggi itu merupakan kekuatan penggerak perjuangan Muhammadiyah yang perlu direspons dengan semangat yang diwariskan KH Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah’’.

Penyunting: M. Bukhari Muslim

Muhammad Iqbal
Llahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Juni 2000. Sekarang menetap di Yogyakarta dikarenakan sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik. Riwayat organisasi yang pernah di ikuti adalah PR IPM SMP Muhammadiyah 8 Antapani Bandung sebagai sekretaris bidang Kajian Dakwah Islam (2013-2014), PR IPM SMP Muhammadiyah 8 Antapani Bandung sebagai kepala bidang Perkaderan (2014-2015), PR IPM Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta sebagai anggota bidang Sosial dan Advokasi (2016-2017), PK IMM FT UMY sebagai anggota bidang Kader (2019-2020), Ketua bidang Kader (2020-sekarang).