Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Muhammad dan Konstruksi Negara Madinah

Haramayn
Sumber: www.freepik.com

Baldatun tayyibatun warabbun ghafur” merupakan potongan ayat yang sering didengar dari ayat 15 surah Saba. Suatu potongan ayat yang menggambarkan secara umum suatu negeri yang makmur; tidak lain negeri Saba lah yang menjadi gambaran jelas tentang ayat tersebut.

Selain Negeri Saba, banyak pendapat tentang penggambaran “baldatun tayyibatun warabbun ghafur” tertuju pada Yatsrib; negeri yang memiliki jarak kurang lebih 510 km sebelah utara kota Mekkah. Salah satu sumber peradaban penting bagi Islam bahkan dunia, negeri yang penamaannya setelah hijrah Nabi Muhammad diganti menjadi Madinah al-Munawwarah.

Mendalami peradaban tentang Madinah, berarti mendalami sumber-sumber kebijaksanaan dalam beberapa aspek. Betapa tidak, banyak hal yang terjadi dalam perkembangan peradaban di Madinah menjadi salah satu kajian penting; mulai dari agama, politik, budaya, ekonomi, dan hal-hal menarik lain.

Menjadi menarik karena perkembangan peradaban di Madinah adalah cikal bakal dan gambaran jelas tentang peradaban yang dicita-citakan. Aktor utamanya tak lain seorang Nabi keturunan Quraisy, sang pembawa risalah Tuhan. Nabi Muhammad saw yang membawa perubahan dan pengaruh besar bahkan bagi dunia, dan Madinah menjadi salah satu bukti nyata akan hal itu.

Gambaran Singkat Madinah

Madinah secara geografis memiliki keunggulan dibanding dengan kota-kota lain di wilayah Arab. Misalnya untuk bercocok tanam. Kesuburan di Madinah lebih baik dari Mekkah sehingga dapat ditemukan pada bagian selatan Madinah terdapat daerah pertanian yang sangat luas dengan potensi hasil yang melimpah. Bahkan ada yang menyebut Madinah menjadi salah satu pusat pertanian terkemuka.

Selain itu, dengan kondisi geografisnya. Madinah memiliki keuntungan wilayah dengan berbagai kondisi geografis di setiap perbatasannya. Dan satu-satunya daerah akses masuk-keluar Madinah adalah bagian Utara.

Baca Juga  Islam Kaffah Haruskah Khilafah?

Masyarakat Madinah sebelum Nabi hijrah adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai suku; seperti Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa yang merupakan Bangsa Yahudi. Selain itu ada dua suku besar yaitu Aus dan Khazraj. Bisa dikatakan masyarakat Madinah saat itu memiliki dinamika yang tidak sederhana. Hal ini tentu berimplikasi pada proses misi dakwah Nabi menjadi pekerjaan yang sulit nan rumit.

Karena walaupun satu bangsa, yaitu Bangsa Yahudi, nyatanya di antara mereka sering ada pertikaian berkepanjangan sehingga mereka tidak pernah rukun. Begitupun dengan konflik kabilah Aus dan Khazraj. Akan tetapi dengan banyaknya pertikaian di antara mereka, bukan berarti mereka tidak mau hidup rukun, aman, dan damai.

Justru keinginan kuat untuk kerukunan, keamanan, dan kedamaian itulah yang nantinya mengundang Nabi datang ke Madinah untuk menjadi pemimpin dan mengajarkan ajaran kepada mereka sebagai utusan Tuhan. Harapannya sehingga Muhammad menjadi perekat di antara mereka. Karena itu, diutuslah beberapa orang ke Mekkah untuk mendatangkan Muhammad.

Mekkah Tempat Membangun Pondasi

Sebelum lebih jauh membahas tentang perkembangan peradaban Madinah, tentu jangan terlupakan bahwasannya proses yang terjadi di Mekkah adalah modal besar yang mesti diperhatikan. Kota tempat awal Islam diturunkan itu adalah tempat Nabi Muhammad dan komunitas Islam dalam membangun pondasi, yang secara perlahan berkembang menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan. Hingga akhirnya menjadi kekuatan yang dirasa dapat mengganggu penguasa dengan berbagai ajaran Islam yang melawan status quo.

Meskipun pembangunan peradaban banyak terjadi di Madinah, kontribusi kader-kader Mekkah tidak bisa dianggap remeh. Pembangunan karakter dan pribadi muslim yang cakap terjadi di Mekkah. Itulah cikal bakal lahirnya masyarakat Islam. Peribahasa “apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai” kira-kira bisa digunakan untuk menggambarkan kondisi itu. Bahwa benih unggul hasil proses dan kontribusi kader-kader Mekkah, itulah “benih” yang nantinya “tumbuh subur” sehingga bisa dituai di “tanah subur” Madinah.

Baca Juga  Surah An-Nisa Ayat 59: Larangan Mengudeta Pemerintah Sah

Konstruksi Negara Madinah

Kedatangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya, yang disebut Muhajirin, di Yastrib membawa perubahan besar bagi masyarakat Yastrib. Dengan berbagai strategi, rekayasa, dan modifikasi yang dilakukan, perubahan yang terjadi merupakan perubahan radikal yang berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupan baik secara individu maupun secara sosial.

Misalnya tidak lama dari kedangan Nabi di Yastrib, Nabi mempersaudarakan Muhajirin dan Ansor (penolong migran yang melakukan hijrah) dan memberlakukan kebijakan yang mengharuskan tolong menolong dalam segala bentuk secara materil maupun non-materil. Usaha mempersaudarakan kedua kelompok itu bahkan sampai dalam hal warisan. Mereka dapat saling mewarisi meski tidak ada hubungan kekerabatan.

Strategi dan rekayasa itulah yang kemudian menjadi modal besar dan pondasi awal bagi masyarakat Yastrib yang heterogen. Apalagi setelah kedatangan Muhajirin, tentu hal ini langkah awal yang baik menuju pembentukan masyarakat Madinah.

Selain itu, masjid merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan peradaban Madinah. Selain sebagai tempat untuk mempelajari Islam, aktifitas dakwah juga digunakan sebagai sentral kegiatan sosial, masjid menjadi pusat kendali kegiatan masyarakat Madinah. Kemudian di sanalah terjadi interaksi yang juga dimanfaatkan untuk mengakomodasi kelompok Muhajirin dan Ansor.

Sehingga setelah keadaan di Madinah mulai terkendali dengan kondisi Nabi yang juga mulai memiliki kepercayaan dan otoritas politik, langkah berikutnya ditempuh dengan membuat hukum dengan perjanjian di antara masyarakat Madinah yang diwakili oleh tiga kelompok besar; yaitu kaum muslim (Muhajirin), orang Arab yang belum masuk Islam (Ansor), dan kaum Yahudi.

***

Perjanjian itulah yang dinamakan Piagam Madinah. Yang secara umum piagam tersebut sebagai konstitusi yang mengatur hubungan horizontal di antara kelompok masyarakat Madinah menjadi demi menggalang kesatuan yang harmonis. Lewat perjanjian ini, Muhammad yang dulunya hanya dikenal sebagai pemimpin agama kemudian diakui menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintah yang memiliki kekuasaan mengeluarkan dan menetapkan hukum dan peraturan.

Baca Juga  Muhammad Sang Demonstran Sejati

Piagam yang memiliki 47 butir pasal itu, secara de facto menjadi konstitusi negara yang mengikat. Secara khusus, piagam ini memiliki prinsip-prinsip yang meliputi: prinsip umat, persatuan dan persaudaraan, persamaan, kebebasan hubungan antar pemeluk agama, pertahanan, hidup bertetangga, tolong menolong dan membela yang lemah, perdamaian, musyawarah, keadilan pelaksanaan hukum, kepemimpinan, ketakwaan, amar ma’ruf dan nahi munkar.

Piagam Madinah juga sering disebut konstitusi tertulis pertama di dunia. Dalam pelaksanaannya, piagam ini berhasil mengubah tatanan masyarakat dan berkontribusi besar atas peningkatan kualitas kehidupan di Madinah. Piagam ini berhasil menghadirkan keharmonisan sosial. Perubahan ini juga menjalar kepada bidang-bidang lainnya dan terjadi pembenahan di berbagai bidang, seperti pembenahan ekonomi, politik, dan agama dengan bertambahnya pengikut Islam.

Hingga tinggal menunggu waktu saja, cita-cita masyarakat Madani yang disinggung dalam ayat 15 surah Saba menjadi konsekensi logis yang cepat atau lambat akan terjadi di Madinah. Sungguh, perjuangan dan kemampuan itu perlu menjadi gambaran baik secara individu maupun sosial dalam membangun peradaban Madani. Peradaban masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, peradaban yang sampai pada definisi “baldatun tayyibatun warabbun ghofur“.

Editor: Ananul Nahari Hayunah