Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Muhammad Abduh (1): Maha Guru Mufasir Aliran Modernis

Muhammad Abduh

Jika ada kitab tafsir di era modern yang mempunyai pengaruh yang cukup besar, maka kitab itu adalah Tafsir Al-Manar. Kitab tafsir yang digubah oleh Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha muridnya. Penjelasan al-Quran di dalam tafsir ini tak dapat dibantah turut banyak mengilhami bangkitnya gerakan-gerakan Islam pembaharu seperti halnya Muhammadiyah dalam konteks Indonesia.

Tulisan berikut ini akan sedikit membahas bagaimana profil Muhammad Abduh dan dampak yang diberikannya pada tokoh-tokoh setelahnya yang kelak juga menjadi mufasir kondang layaknya dirinya.

Profil dan Perjalanan Intelektual Muhammad Abduh

Mufasir modernis ini lahir di Mahallat, Nasr, Bukhaira, Mesir pada tahun 1266/1850. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah (Amin Ghofur: 2013). Ia tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang petani. Akan tetapi, kenang Abduh, ayahnya adalah sosok yang cukup disegani dan dihargai di kampungnya. Setiap kali ada tokoh yang berkunjung ke kampungnya, rumah yang disinggahi adalah rumah ayahnya. Bukan rumah kepala desa, ketua lurah atau ketua RW.

Di antara saudara-saudaranya, Abduh termasuk anak yang paling disayang oleh ayahnya. Ketika sauadara-saudaranya yang lain fokus bertani, Abduh malah diminta untuk fokus menuntut ilmu. Ia disayang sebab ia diharapkan dan diproyeksikan ayahnya agar menjadi ulama atau cendekiawan muslim besar di masa depan. Makanya kemudian sang ayah mengirim anaknya ke Mesjid Al-Ahmad Thanta, sekitar 80 km dari Kairo.

Di sini Abduh belajar tentang ilmu tajwid al-Quran. Namun hal itu tidak bertahan lama. Abduh merasa tak betah belajar di tempat itu. Pembelajaran di sana dinilainya sangat kaku, terlalu monoton dan membosankan. Akhirnya setelah dua tahun berada di sana, ia memutuskan untuk kembali ke kampung dan bertani sebagaimana saudara-saudaranya. Pada momen kembali ke kampung ini ia juga dinikahkan oleh kedua orang tuanya (tepatnya ketika berusia 16 tahun) (Quraish Shihab: 2008, h. 7).

Baca Juga  Tafsir Al‐Jawahir: Mengurai Keajaiban Alam dalam Al-Qur'an (2)

Meski telah menikah, ayahnya tetap menyuruh Muhammad Abduh untuk terus melanjutkan pendidikannya. Namun Abduh menolak. Akhirnya ia kabur ke Thanta, desa tempat banyak paman-pamannya tinggal. Di sini ia bertemu dengan pamannya, Syekh Darwisy, orang yang paham al-Quran dan menganut aliran tasawuf Syadziliyah. Pamannya ini kelak yang mengubah pandangan Muhammad Abduh terhadap ilmu pengetahuan, dari benci menjadi cinta.

Karya-Karya di Bidang Tafsir

Dalam catatan Muhammad Quraish Shihab, setidaknya ada empat kitab tafsir yang sudah dilahirkan oleh Muhammad Abduh. Karya-karya itu antara lain ialah:

Pertama, Tafsir Juz ‘Amma. Kitab ini dikarang Abduh sebagai bahan ajar dan untuk menjadi pegangan bagi para guru mengaji di Maroko pada tahun 1321 H. Kedua, Tafsir Surah wa Ashr. Kitab ini awalnya merupakan isi dari kuliah-kuliah dan pengajian-pengajiannya di depan para ulama dan pemuka-pemuka masyarakat Aljazair.

Ketiga, tafsir ayat-ayat an-Nisa ayat 77 dan 87, al-Hajj ayat 52, 53, dan 54 dan al-Ahzab ayat 37. Menurut Quraish Shihab, karya ini ditulis oleh Muhammad Abduh sebagai kritik atas pandangan-pandangan negatif yang dilemparkan pada umat Islam. Kemudian karyanya yang terakhir adalah kitab yang kemudian dinamai sebagai Tafsir Al-Manar.

Kitab tafsir ini mulanya berasal dari pengajian yang disampaikan oleh Muhammad Abduh di Mesjid Al-Azhar dan kemudian disebarkan oleh muridnya Muhammad Rasyid Ridha melalui majalah Al-Manar. Namun pada kitab ini Abduh hanya memberikan penafsiran dari surah al-Fatihah sampai dengan surah an-Nisa ayat 129. Selebihnya diteruskan oleh Muhammad Rasyid Ridha. (Quraish: 2007, h. 18-19)

Pengaruh Muhammad Abduh Pada Mufasir Setelahnya   

Salah satu cara mengukur kebesaran dan kesuksesan seseorang adalah dengan melihat pengaruhnya pada orang-orang yang lahir setelahnya. Dengan parameter itu, saya kira Abduh adalah sosok yang masuk dalam kategori orang besar dan orang yang sukses. Karenanya tidak berlebihan jika saya menyebut Abduh sebagai maha guru mufasir-mufasir modernis. Sebab banyak di antara mereka yang mengambil inspirasi dan spirit dari apa yang telah diletakkan oleh Muhammad Abduh.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 4-5: Percaya Kepada Nabi Muhammad

Sebagai peletak asas-asas tafsir aliran modernis, Abduh memberi banyak pengaruh pada perubahan pola penafsiran al-Quran setelahnya. Abduh dikenal sebagai pelopor tafsir al-Quran dengan corak al-adab al-ijtima’i (sosial-kemasyarakatan). Di antara mufasir-mufasir yang banyak terpengaruh oleh Abduh adalah Rasyid Ridha, murid yang kelak bersamanya membuat Tafsir Al-Manar.

Ridha sepenuhnya sama dan seiring dengan gurunya dalam hal metode dan pendekatan. Jika pun ada perbedaan, maka hal itu hanya sedikit. Perbedaan itu pun oleh Masduki dinilai hanya sebagai pengembangan dan eksplorasi dari apa yang ditelah digagas oleh Abduh.

Muridnya yang kelak juga menjadi pemikir besar Islam dan mufasir adalah Muhammad Farid Wajdi. Ia menulis kitab Al-Mushaf Al-Mufassar. Di antara murid-murid Abduh, barang kali hanya Farid Wajdi yang menulis karya tafsir ringkas. Selebihnya menulis kitab tafsir dalam bentuk yang berjilid-jilid.

Mufasir modernis selanjutnya yang juga banyak mengambil spirit dan inspirasi dari Muhammad Abduh adalah Thantawi Jauhari. Ia menulis kitab Al-Jawahir fi Tafsir Al-Quran Al-Karim. Kitab tafsirnya tersebut dinilai sebagai tafsir yang memelopori tafsir yang kental akan nuansa sains dan ilmu pengetahuan modern. Karakteristik tersebut terbentuk oleh karena kekagumannya pada Abduh yang melihat bahwa ilmu agama dan ilmu sains-modern harus diintegrasikan untuk kemajuan peradaban Islam.

Menjadikan Al-Quran Berdialog dengan Zaman

Demikian sederet nama-nama mufasir modernis yang terpengaruh dan mendapat inspirasi dari Muhammad Abduh. Dan tentu masih banyak lagi yang lainnya. Seperti Al-Maraghi, Sayyid Qutb, Mahmud Syaltut dkk. Jika ada kesempatan, kita akan membahasnya pada kesempatan lain.

Hal utama yang saya kira harus menjadi perhatian kita adalah bahwa kita harus terus dan senantiasa menempatkan al-Quran sebagai ajaran yang dapat berdialog dengan zaman. Agar penafsiran yang dilakukan tidak kaku atau justru membawa kita pada “monumen” di masa lampau yang tentu konteks dan tantangan zamannya sangat berbeda dengan zaman kita.

Baca Juga  Mentadaburi Al-Qur'an Sebagai Kitab Dialog (1)