Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Moderasi Beragama: Solusi Masyarakat Indonesia

Indonesia
Gambar: umj.ac.id

Seperti yang kita tahu bahwasannya Indonesia memiliki beragam suku, agama, ras dan budaya. Sehingga dari perbedaan yang kita miliki mampu hidup rukun, damai dan saling toleransi. Jika berbica mengenai agama, identitas beragama merupakan sesuatu yang fundamental bagi masyarakat Indonesia. Sebagai penganut agama Islam di Indonesia pasti dihadapkan bukan hanya dalam lingkup yang seagama melainkan juga yang berbeda agama.

Maka dari itu pemahaman agama yang dianut harus dibina ke jalan yang benar. Agar tidak menimbulkan sikap teroris yang paling sadis, sikap radikal yang paling brutal. Bahkan menjadi pemicu terjadinya konflik vertikal, diagonal bahkan horizontal. Bagaimanakah upaya untuk mengantisipasi agar ajaran dan perilaku umat beragama tidak memicu di negara republik tercinta ini?

***

Allah menciptakan kita dengan sebaik-baik penciptaan dikala kita masih memperdebatkan perbedaan dan masih mempersoalkan keberagaman. Di situlah sebagai umat muslim maka wajib untuk kita menguatkan akidah islamiyah, ukhuwah diniyah (keagamaan) bahkan ukhuwah wathaniyah (kebangsaan) dalam bingkai bhineka tunggal ika. Sebagaimana seperti landasan firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an surah al-Hujurat ayat 13:

اَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Menurut Quraish Shihab di dalam Tafsir al-Misbah penggalan pertama ayat di atas sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan adalah pengantar untuk menegaskan bahwa semua manusia derajatnya sama di sisi Allah. Pengantar tersebut mengantar pada kesimpulan yang disebut oleh penggalan terakhir ayat ini yakni sesungguhnya yang peling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertakwa.

Baca Juga  Kiat Kunci Berkah dan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Namun seperti yang pernah terjadi di negara kita tercinta ini, kini identik sebagai umat ekstremis dan radikal. Mengutip dari News Internasional, dijelaskan bahwa salah satu fenomena yang paling mengejutkan dan telah mencederai makna moderasi adalah terjadinya penembakan atau pembunuhan terhadap 51 jamaah masjid di Christchuch Selandia Baru.

Bahkan setelah kasus tersebut terjadi, pada tanggal 27 Juni 2021 telah terjadi pembakaran gereja di Sulawesi Barat dan dikabarkan bahwa sebuah gereja di daerah tersebut mengalami pengerusakan dan pembakaran yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Fenomena tersebut mengajak kita untuk dewasa dalam berfikir, bijak dalam menilai pendapat dan cermat dalam mengambil sikap. Iktilafu ummati rahmatun (perbedaan ummatku adalah rahmat).

***

Beragam budaya menjadi tradisi. Antar suku etnis tak pernah berselisih. Hidup rukun tak saling berambisi, berbeda bahasa tetap saling mengisi. Bahkan berbeda agamapun tetap saling asih. Sebagai rujukan firman Allah dalan QS. Ar-Rum ayat 30

فَاَ قِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا ۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّا سَ عَلَيْهَا ۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَـلْقِ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Quraish Shihab menjelaskan bahwa melalui ayat tersebut Allah mengisyaratkan kepada Nabi Muhammad dan ummat Islam untuk tetap berpegang teguh terhadap apa yang telah diisyaratkan Allah dan tetap berusaha mempertahankan fitrah keagamaan tanpa mengiraukan gangguan kaum musyrikin yang cukup banyak pada saat diturunkannya ayat ini, tepatnya di kota Makkah.

Baca Juga  Etika Beragama dalam Islam: Perbedaan adalah Saling Memahami (1)

Penjelasan tafsir tersebut mengajak kita untuk tetap berpegang teguh pada tali agama Allah sebagai bentuk fitrah keagamaan tanpa menghiraukan gangguan dari pihak yang lain. Mari wujudkan upaya keharmonisan hidup berbangsa dan beragama. Kita membutuhkan moderasi beragama, yakni umat yang posisinya berada di tengah sehingga mampu dilihat oleh banyak pihak dari segenap penjuru dan tidak menggunakan legitimasi teologis yang ekstrem serta tidak berafiliasi dengan kepentingan politik atau kekuatan tertentu.

Penyunting: Bukhari

Sofia Habibaturrahmania
Mahasiswa Semester 2 Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Islam Negri Sunan Ampel Surabaya