Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

Mereka yang Mendustakan Agama

Mendustakan
Sumber: Unsplash.com

Dalam memahami Islam, kata kunci yang tak bisa diabaikan adalah kemanusiaan. Islam hadir memberi perlindungan atas dasar sisi manusianya. Misalnya, konsep zakat yang diterapkan Islam hakikatnya sebagai sindiran kepada kehidupan orang yang mampu, agar memberi nafas pada orang yang lemah meskipun sekali dalam setahun. Begitupun sedekah agar ada tali kasih yang tersambung kapanpun dan di manapun untuk berbagi.

Konsep berpikir itulah, Islam menentang keras pada setiap sikap dan tindakan yang menutup jalan kemanusiaan, bahkan Allah menyebutnya sebagai pendusta agama. Hal itu ditegaskan pada surah al-Ma’un ayat 1-3; Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin  (Q.S. al-Ma’un [107]:1-3)

***

Pertanyaan yang bernada “sindiran” itu sangat tegas disampaikan Allah terkait hakikat orang yang mendustakan agama. Imam Nawawi al-Bantani menafsirkan pertanyaan tahukan kamu orang-orang yang tidak meyakini atau mendustakan hari pembalasan? Tuhan sedang mengajak berpikir bahwa keyakinanmu pada-Ku sama sekali tak berarti atau malah membohongi dirimu sendiri jika abai pada orang miskin dan yatim.

Kenapa dianggap pendusta agama jika tidak peduli dengan kehidupan orang-orang lemah? Sebab, ruh keislaman seseorang adalah kesadaran bukan warisan apalagi persepsi. Itu sebabnya, kata iman kerap disandingkan amal shaleh, artinya kesadaran pada Tuhan harus tampil dalam bentuk laku sosial dan pengabdian. Alhasil, iman tak berarti jika tak dibuktikan dengan kesalehan, dan kesalehan tak berarti tanpa prinsip iman.

Mengabaikan kehidupan orang miskin dan yatim sebagai bentuk pendustaan terhadap agama sangat masuk akal. Sebab keyakinan akan terciderai jika ada orang yang selayaknya dibantu, harus disantuni, namun yang mengaku beragama dan mampu melakukankan hal itu, tapi ia tak peduli. Karena ruang kehadiran Islam adalah membawa perlindungan.  

Sisi lain yang dianggap mendustakan agama jika ia tak peduli dengan kehidupan anak yatim-piatu, sebab jejak emosional yang kita abaikan dari sosok Nabi yang tumbuh yatim dan piatu. Napak sejarah Nabi itulah sebagai satu sebab ajaran beliau berpihak pada yang lemah dan tak mampu. Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari disebutkan; “aku dan orang orang yang menyantuni anak yatim akan bersama di surga seperti ini (isyarat), kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya”.

***

Dalam ayat ini, Allah merangkaikan dengan celakanya orang-orang yang sholat; yaitu orang yang lalai dalam sholatnya dan beramal karena riya (ingin dilihat/pamer).  Artinya, ada bentuk sujud dan sementara sujud tapi bagi Allah itu sia sia bahkan dianggap celaka bagi mereka yang lalai (saahuun).

Lantas  lalai (saahuun) dalam sholat itu seperti apa? Imam al-Maraghi menafsirkan yaitu ucapan lidah dan gerakan anggota tubuh dalam sholat tapi tidak memberi dampak terhadap perilaku kesehariannya. Betul ia shalat, tapi Allahu Akbar yang ia baca sebagai pengakuan bahwa Allah itu Maha Besar; justru ia masih merasa diri lebih benar bahkan paling benar ketimbang orang lain. Ia menganggungkan Allah dalam shalatnya, tapi tak senang jika tak mendapatkan pujian bahkan sampai gila kehormatan.

Begitupun pengakuan diri pada Allah sebanyak 17 kali dalam shalat lima waktu; bahwa dirinya belum benar dan bisa saja tersesat. Karenanya 17 kali pula memohon kepada-Nya agar ditunjuki jalan yang lurus (ihdina al shiraatha al mustaqiim). Pengakuan itu dalam shalat adalah cara Tuhan mendidik umat agar menjadi orang yang rendah hati dan tak merasa paling ahli surga sendiri. Sebab bagi Allah sangat mungkin untuk tersesat sehebat apapun manusia.

Singkatnya, ibadah tak sebatas gerakan dan kewajiban, tapi menuntut merenungi diri dan belajar untuk memahami diri untuk menumbuhkan akhlak dan kesalehan sosial. Sebab ibadah yang baik adalah ibadah yang melahirkan akhlak yang baik pula, salah satunya sayangi dan lindungilah yatim-piatu.

Editor: Ananul Nahari Hayunah