Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mereboisasi Makna Cinta dengan Kajian Dalil Tentang Cinta

Cinta
Sumber: istockphoto.com

Cinta merupakan kajian ilmu hati yang paling rumit. Selain bersifat abstrak cinta juga tidak bisa ditebak, layaknya iman dan takwa, kadar iman dan takwa seseorang tidak bisa kita nilai seutuhnya, pun sama halnya dengan; kadar cinta seseorang dengan seseorang atau lebih lainnya. Sudah begitu banyak kajian soal cinta tapi tetap saja hasrat yang kuat dalam diri setiap manusia menuntut untuk tahu lebih banyak apa itu cinta, apa hakikat mencintai dan bagaimana harus melepaskan cinta. Dalil tentang cinta dalam al-Qur’an misalnya:

Dan kami menciptakan kamu berpasang-pasangan,” (QS. An-Naba’/78: 8).

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang“. (QS. Ar-Rum/30: 21).

Serumitkah Cinta?

Di dalam tulisan ini, tidak akan terlalu banyak akan mengkaji soal cinta. Karena jika mau dibahas sampai ke akar-akarnya perlu kajian puluhan jilid; bahkan ribuan jilid tulisan, karena cinta serumit itu, dalam sebuah quotes disebutkan “rindu adalah cinta teoritis tertinggi, bening dalam asumsi, pekat dalam metode,” maka sempurna sudah betapa rumitnya cinta itu. Lalu timbul pertanyaan, serumit itukah cinta?

Dan bukankah Kami telah menciptakan kamu, wahai manusia, berpasang-pasangan; lelaki dan perempuan agar kamu beranak pinak untuk terus mendiami bumi dan memakmurkannya?” Itu kata Allah, anjuran mencari pasangan hakikatnya; mencari rezeki pahala yang terbesar dengan harapan karunia dan nikmat Allah yang tak terhingga. Menikah merupakan jalan utama untuk mencari ridho Allah dan karunia-Nya serta jalan utama menemukan cinta yang sesungguhnya.

Dalam dalil surat An-Naba ayat 8 yang sudah disebutkan tadi, sebenarnya tidak perlu dijelaskan maksudnya; karena ayat itu sangat mudah dicerna maknanya,pada intinya ayat itu menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan agar yang satu merasa tenteram dengan yang lain, tumbuh rasa cinta dan kasih sayang, dan dari keduanya lahir keturunan. Kemudian dalam dalil surat Ar-Rum ayat 21, dalam tafsir Jalalain yang ditulis oleh Jalaludin Al-Mahalli dan Jalaludin As-Suyuthi disebutkan bahwa;

Baca Juga  Mengapa Engkau Menangis?

(Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri); Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam sedangkan manusia yang lainnya tercipta dari air mani laki-laki dan perempuan; (supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya) supaya kalian merasa betah dengannya (dan dijadikan-Nya di antara kamu sekalian) semuanya (rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu (benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir) yakni yang memikirkan tentang ciptaan Allah swt.”

Memaknai Cinta

Dalam tafsir Al-Misbah yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab disebutkan:

Dan di antara tanda-tanda kasih sayang-Nya adalah bahwa Dia menciptakan bagi kalian, kaum laki-laki, istri-istri yang berasal dari jenis kalian untuk kalian cintai. Dia menjadikan kasih sayang antara kalian dan mereka. Sesungguhnya di dalam hal itu semua terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir tentang ciptaan Allah.”

Dari dua penafsiran di atas para ulama secara sadar memaknai cinta itu dengan bahasa yang hampir sama. Karena memaknai cinta itu lebih mudah daripada melaksanakan cinta, buktinya saat mau menikah syarat-syarat yang harus dipenuhi sangatlah banyak; sehingga membuat pernikahan menyusahkan, padahal Islam secara pra syarat sangatlah mudah, maka yang membuat cinta itu rumit; adalah manusia itu sendiri. Namun itu menjadi perdebatan sampai saat ini, tetapi kembali lagi ke hakikatnya, “cinta itu mudah dalam pandangan Allah dan akan menjadi rumit ketika manusia yang menerjemahkannya.”

Cinta juga bukan sekedar suka sama suka terhadap manusia saja, tapi juga kepada Allah dan segala bentuk ciptaan-Nya. Tapi lebih dari itu; cinta bermakna “menerima”, baik buruknya, tinggi pendeknya dan lain-lain, cinta itu harus saling melengkapi dan saling bersinergi, karena mencari cinta; bukan mencari yang cocok tapi bagaimana kita bisa mencocokan diri.

Baca Juga  Kontekstualisasi Syariat sebagai Solusi Permasalahan Umat

Kekasih Allah Swt adalah Rasulullah, sebagaimana disebutkan dalam dalil QS. Taha ayat 41, maka kekasihku adalah wanita yang siap mencocokan dirinya kepadaku dan aku siap mencocokan diriku kepadanya.

Editor: An-Najmi

Diki Ramadhan
Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Cirebon Fakultas Agama Islam, Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir serta di Fakultas Hukum Program Studi Ilmu Hukum