Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menyoroti Kata Allah dalam Surah Al-Ikhlas Ayat 1: Pendekatan Semiotika Peirce

Pierce
Gambar: dara.co

Pada dasarnya, secara umum Al-Qur’an adalah kalam Ilahi. Di mana, peran Rasulluah menjadi figur utama dalam menyampaikan wahyu dari apa pun yang diturunkan Allah sebagai kalam Ilahi. Tentunya, banyak aneka ragam kalam Ilahi yang Rasulluah sampaikan dari Allah untuk menjadikan siapa pun di antara manusia agar memahami dengan baik sebagaimana mestinya.

Memilah sebuah pemahaman tersebut, maka suatu kata di dalam Al-Qur’an yang disandarkan dengan analisis semiotika Pierce, tentu saja tidak serta merta disalahkan jika digunakan menjadi sebuah pendekatan dalam menggali kata “Allah” dalam QS. al-Ikhlas [112]: 01.

Semiotika Charles Sanders Pierce

Charles Sanders Pierce dilahirkan di Cambridge Massachusetts Amerika Serikat pada tahun 1839. Ia merupakan anak kedua Benyamin Pearce, seorang professor matematika dan astronomi pada Universitas Harvard dan promotor matematika orang Amerika di zamannya (M. Arfan Mu’ammar, dkk, Studi Islam Kontemporer Perspektif Insider/Outsider, 19).

Bagi Pierce, yang merupakan ahli filsafat dan logika, tentu sebuah penalaran manusia yang senantiasa dilakukan melalui tanda. Dalam pemikirannya, logika sama dengan semiotika dan dapat diterapkan pada segala macam tanda. Dengan demikian, bahasa pun dapat dinamakan semiotika (Satinem, Apresiasi Prosa Fiksi: Teori, Metode, dan Penerapannya, 170).

Semiotika merupakan sebuah teori filsafat umum yang berhubungan dengan tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengkumunikasikan informasi. Semiotika meliputi tanda-tanda visual, verbal serta semua tanda yang bisa diakses oleh seluruh indera yang dimiliki manusia (Andi Mirza R, Tafsir Kontemporer Ilmu Komunikasi, 126).

Singkat kata, Pierce dalam mendefinisikan semiotika, maka diperoleh sebagai suatu hubungan antar tanda (simbol), objek, dan makna. Tanda mewakili objek (referent) yang ada di dalam pikiran orang yang menginterpretasikannya (interpreter). Peirce juga menyatakan bahwa representasi dari suatu objek disebut interpretant (Morissan, Teori Komunikasi Individu hingga Massa, 38).

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 62 (3): Iman dan Islam

Penerapan Semiotika Charles Chanders Pierce

Sebagai permisalan yang dasar, ketika kita mendengar kata “kucing”, maka kita akan mengasosiasikan kata tersebut dengan hewan tertentu. Kata “kucing” itu sendiri bukanlah binatang, namun asosiasi yang kita buat (interpretant) sebagai penghubung antar keduanya. Ketiga elemen yang meliputi kata “kucing”, di antaranya:

Pertama, tanda yaitu kata “kucing” yang terdiri dari banyaknya kata, atau singkatnya kata “kucing” adalah wakil dari tanda. Kedua, objek (referent) yaitu objek kata “kucing” yang tergambar di pikiran kita seperti halnya hewan berkaki empat. Ketiga, Makna yaitu hasil gabungan tanda dan objek yang terbentuk dalam pikiran, makna kucing bagi yang menyukainya, pasti hewan tersebut lucu, dsb (Morissan, Teori Komunikasi Individu hingga Massa, 39).

Aplikasinya dalam Al-Qur’an

Pendekatan semiotika Pierce dalam studi Al-Qur’an, secara implisit banyak mengandung substansi antara kajian tanda dan teks Al-Qur’an. Dengan begini, dari sekian banyak kata yang menarik di dalam Al-Qur’an, tentu saja kata “Allah” dalam QS. al-Ikhlas [112]: 01 tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan yang lain. Sebagaimana yang berbunyi:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Artinya: Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa (QS. Al-Ikhlas [112]: 01).

Berdasarkan ayat di atas, kata “Allah” yang didengar pada umumnya, bukan semata-mata sebuah reduksi makna dalam ruang lingkup yang sempit. Bahkan, kata “Allah” sendiri merupakan sebuah entitas yang sebagaimana manusia membuatnya (interpretant) di mana merupakan pula dari gabungan antara simbol dan objek. Ketiga elemen yang meliputi kata “Allah”, yaitu:

Tiga Elemen dalam Kata Allah

Pertama, yaitu tanda (simbol). Dalam bahasa melayu, kata yang berarti llah itu adalah dewa dan tuhan. Pada batu bersurah Trengganu yang ditulis dengan huruf Arab, kira-kira tahun 1303 Masehi, kata “Allah” telah diartikan dengan Dewata Muliya Raya. Dengan perkembangan pemakaian bahasa Melayu dan Indonesia semakin luas, memang bilamana menyebut Tuhan, tentu yang disebut oleh Muslim Indonesia dan Melayu, adalah Allah dan dengan huruf Latin pangkalnya (huruf T) di besarkan, dan kata-kata dewa tidak berlaku lagi untuk mengungkap Tuhan Allah (Hamka, Juz ‘Amma Tafsir Al-Azhar, 64).

Baca Juga  Pro dan Kontra: Bagaimana Hukum Vaksinasi Ketika Berpuasa?

Kedua, yaitu objek (referent). Kata “Allah” dalam Al-Qur’an selalu disandingkan dengan kata ahad. Berbeda tatkala Allah mewakili dirinya sendiri dengan llah (Tuhan) yang selalu bersanding dengan kata wahid. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan manusia di dunia ini akan adanya Tuhan itu tidak satu, tetapi berbilang, tergantung keyakinannya masing-masing (Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB, Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah Juz ‘Amma, 549).

Ketiga, yaitu makna (interpretant). Para sufi, menurut Dhun-nun, adalah mereka yang cintanya kepada Tuhan melebihi segalanya. Oleh karena itu, corak yang lebih kental lagi dalam pemikiran sufi adalah bahwa Tuhan seharusnya memerintahmu untuk membunuh dirimu sendiri. Supaya kamu hidup di dalam diri Tuhan’. Menurut al-Junaid, sufisme adalah menjadi sahabat Tuhan tanpa alat tambahan. Atau duduk dalam kehadiran Tuhan tanpa pemeliharaan (Zaehner, Hindu dan Muslim Mysticism, 07).

Maka dari itu, kesimpulan yang ditarik tentang menyoroti kata “Allah” dalam QS. al-Ikhlas [112]: 01, adalah mengandung sebuah kemurnian. Artinya, selain Allah membicarakan tentang diri-Nya sendiri, tentunya siapa pun yang mengimaninya, dialah termasuk orang yang ikhlas kepada Allah. Akhir kata, wallahu a’lamu bishawab. Semoga bermanfaat!

Penyunting: Bukhari