Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menyoal Ridwan Kamil: Whataboutism dalam Al-Qur’an

whataboutism
Sumber: https://jabar.antaranews.com/

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil kembali menuai kritikan mengenai responnya terhadap kritik masyarakat soal urgensi pembangunan Masjir Raya Al-Jabbar yang menggunakan dana APBD. Berawal dari respon Ridwan Kamil yang membandingkan antara pembangunan Masjid Raya Al-Jabbar dengan pembangunan Pura Agung Besakih di Bali yang sama-sama menggunakan dana APBD. Masyarakat menilai bahwa argumen Ridwan Kamil tidaklah bijaksana jika membandingkan antara pembangunan Masjid Raya Al-Jabbar dengan Pura Agung Besakih. Artikel ini membahas whataboutism.

Masyarakat mengetahui bahwa Pura Agung Besakih adalah cagar budaya yang ada sejak zaman nenek moyang. Pembangunannya menggunakan dana APBD merupakan sebuah kebutuhan dan bentuk pelestarian cagar budaya. Masjid raya Al-Jabbar dibangun tanpa urgensi dan aspirasi yang jelas. Publik menilai bahwa argumen Ridwan Kamil hanya membelokkan fokus percakapan ke objek lain yang tidak setara dan relevan atau dikenal dengan istilah whataboutism.

Istilah Whataboutism

Diambil dari penjelasan akun media narasinewsroom, whataboutism merupakan gabungan dari dua kata what dan about. Keduanya berarti cara seseorang merespon sebuah argumen dengan membelokkan fokus percakapan ke subjek lain; yang dianggap setara namun sebenarnya tidak relevan. Berdasarkan telaah Leksikografer Ben Zimmer, istilah whataboutism muncul diera 93 -an. Istilah whataboutism kembali populer di era 2007 berkat buku The New Cold War karya Edward Lucas yang menyebut whataboutism sebagai senjata favorit propaganda soviet. Uni Soviet biasa merespon kritik yang ditujukan dengan menyebut peristiwa tertentu di Barat. Tidak hanya Uni Soviet yang menggunakan whataboutism dalam meng-counter argument di momen tertentu. Azerbaijan misalnya, menggunakan whataboutism untuk menanggapi tudingan pelanggaran HAM. Mereka mengadakan dengar pendapat parlemen tentang berbagai masalah di Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat ditanya mengenai alt-right ia malah mengembalikan pertanyaan soal alt-left.

Baca Juga  Pentingnya Pendekatan Historis dalam Menafsirkan Al-Quran

Dalam sastra Arab (balaghah) whataboutism dikenal dengan istilah uslub al-hakim. Uslub al-hakim merupakan satu kajian dalam ilmu balaghah (ilmu badi’) yang membahas tentang pengalihan pembicaraan. Konteksnya sang penanya akan menerima jawaban yang tidak ia kehendaki. Baik karena mengabaikan pertanyaannya dan menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan. Atau karena mengalihkan pembicaraan kepada sesuatu yang tidak ia maksudkan.

Uslub Al-Hakim

Dalam penelitiannya, Inggo Nugraha menjelaskan terdapat 82 ungkapan uslub al-hakim dalam al-Qur’an yang dapat diklasifikasikan kedalam empat bentuk:

1. Pertanyaan dan jawaban

Bentuk pertama. Seseorang bertanya tentang sesuatu namun dijawab dengan jawaban lain; yang tidak ia kehendaki. Misalnya dalam QS. Al-Baqarah ayat 189;

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِ ۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji”. (QS. Al-Baqarah 189

Wahbah Zuhaili menjelaskan ayat tersebut berkenaan dengan pertanyaan para sahabat mengenai ukuran hilal yang berubah-ubah disetiap bulannya. Namun, Nabi mengalihkan jawabannya dengan menjelaskan kepada mereka hikmah dari hilal yang lebih patut ditanyakan. Pertanyaan tentang ukuran besar-kecilnya bulan tidaklah penting.

2. Pertanyaan yang dipalingkan maknanya

Bentuk kedua. Seseorang berkata tentang suatu hal, kemudian orang lain datang dan memalingkan maknanya dengan mendatangkan makna baru. Sebagaimana dalam QS. al-Baqarah ayat 135

وَقَالُوْا كُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Mereka berkata, “Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah, “(Tidak.) Akan tetapi, (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-Baqarah 135)

Dalam contoh tersebut, sekelompok orang beranggapan bahwa hanya kelompok Yahudi dan Nasrani yang mendapat petunjuk. Namun, Allah memalingkan pernyataan mereka dengan berfirman bahwa yang mendapat petunjuk adalah orang yang mengikuti agama Ibrahim.

Baca Juga  Mengenal Ushul fi Tafsir Karya Utsaimin: Kitab yang Mudah Dipahami

3. Pertanyaan yang dijawab pertanyaan

Bentuk ketiga yaitu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan balik. Misalnya dalam QS. al-Anbiya’ 65-66

ثُمَّ نُكِسُوْا عَلٰى رُءُوْسِهِمْۚ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هٰٓؤُلَاۤءِ يَنْطِقُوْنَ قَالَ اَفَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يَضُرُّكُمْ ۗ

Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu berkata), “Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara.”Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? (QS. Al-Anbiya’ 65-66)

Dalam ayat tersebut para penyembah berhala kembali membantah Nabi Ibrahim. Saat mereka kebingungan, mereka pun mengajukan argumentasi kepada Nabi Ibrahim dengan berkata, “Kamu dan kami tahu bahwa berhala-berhala tersebut tidak dapat bicara, lalu bagaimana kamu meminta kami supaya bertanya kepada mereka? Nabi Ibrahim menjawab dengan pertanyaan balasan; mengenai alasan mereka menyembah tuhan yang tidak bisa mendatangkan manfaat maupun keburukan.

4. Pernyataan yang dijawab pertanyaan

Bentuk keempat yaitu pernyataan yang dijawab dengan pertanyaan. Sebagaimana dalam QS. al-Baqarah ayat 67:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai bahan permainan belaka?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah 67)

Dalam ayat tersebut pernyataan Nabi musa mengenai perintah Allah agar kaumnya menyembelih seekor sapi betina. Namun, dibalas kaumnya dengan pertanyaan meremehkan yang berupa pengingkaran akan perintah tersebut.

Dari keempat contoh tersebut, whataboutism digunakan al-Qur’an digunakan untuk meng-counter argumen lawan bicara. Al-Qur’an sudah mengenal whataboutism dengan istilah yang berbeda jauh sebelum peradaban modern mengenalnya.

Baca Juga  Tingkatan Makna dalam Kajian Al-Quran

Penyunting: Ahmed Zaranggi