Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menyambut Rizieq Shihab Dengan Santai

Rizieq
Sumber: bing.com

“Maka nikmat santuy mana lagikah yang kamu dustakan?”

Pertama, maafkan penulis untuk tidak menyebut “habib” di nama depan Rizieq Shihab. Sungguh ini bukan penistaan atas “kemuliaan” beliau. Bagi penulis, kualitas keilmuan seorang individu jauh lebih penting dari sekadar nasab. Jika Pak Rizieq yang keren itu berilmu, saya menghormatinya karena kualitas keilmuannya, bukan sebab garis nasabnya. Itulah mengapa penulis tidak begitu suka mengkultuskan seseorang dengan “habib” atau kyai sekalipun.

Kedua, saya meminta maaf untuk tidak datang menyambut beliau di Bandara Soekarno Hatta tadi pagi. Ini sebab saya sibuk ngopi di warung kopi, lagi pula saya khawatir keserempet virus covid di kerumunan manusia yang tumpah ruah di sana.

Mengapa Rizieq Disambut Banyak Orang?

Ini pertanyaan penting untuk meneropong, mengapa Imam Besar FPI itu disambut sedemikian meriah oleh pengikutnya. Bila pengamatan kita terang, 15 tahun yang lalu Rizieq dan FPI sesungguhnya bukan buah pembicaraan yang renyah. Ia tidak ada dalam diskusi kita di media sosial, warung kopi, dan seminar-seminar penting. Simpulnya, ia dan FPI bukan siapa-siapa. Namanya populer dibeberapa tahun belakangan lebih sebab keberaniannya berhadap-hadapan dengan rezim Jokowi.

Amarahnya bahkan acap sering diwujudkan dalam umpatan dan cacian. Keberanian itu disambut pula oleh publik yang memang sedang kehilangan arah. Namun di antara banyak sebab dari sambutan yang begitu ruah dari Rizieq, menurut penulis sebab utama adalah kecenderungan sebagian ummat Islam yang mendera diri dalam fanatisme. Untuk masalah dalam tulisan ini, fanatisme terhadap ketokohan Rizieq Shihab.

Lantas mengapa pula seseorang bisa semudah itu terjebak dalam fanatisme? Dalam pandangan psikologi, kecenderungan fanatisme lebih banyak disebabkan oleh reaksi kompleks, kumpulan dari potensi diri, lingkungan, pengetahuan dan sejurusnya yang cenderung bertumpu pada penyerahan diri pada diri orang lain dan lalu menegasikan diri sendiri. Maka fanatisme dalam hal ini adalah peleburan diri pribadi pada kepribadian orang lain. Fanatisme acap muncul dari perasaan cinta yang berlebihan pada suatu objek, bisa mungkin ideologi, komunitas, tokoh dan sebagainya yang turut berpengaruh pada pikiran dan sikap diri pribadi.

Baca Juga  Agama Itu Untuk Manusia, Bukan Tuhan!

***

Dalam al-Qur’an fanatisme tidak disebutkan secara implisit. Namun para mufassir acap menafsirkan fanatisme dengan perilaku ghuluw (berlebihan dalam agama). Bisa pula ditafsirkan dengan syiya’an yang bermakna menguatkan, menguatkan satu kelompok untuk melemahkan kelompok yang lain. Perilaku fanatisme demikian sering digambarkan seperti Yahudi dan Nasrani yang hidup dalam tabiat saling mengkafirkan, membid’ahkan dan bahkan saling membunuh. Dalam komunitas Islam, fanatisme sering diidentikkan dengan kaum Khawarij.

Nah, dari garis pemikiran itulah kita mengambil simpulan, fenomena meriahnya kedatangan Rizieq Shihab adalah wujud dari sebagin ummat kita yang tidak punya kepribadian diri dan lalu menyerahkan kepribadiannya pada orang lain: Rizieq. Dalam hubungannya dengan Islam, kecintaan yang berlebihan pada Rizieq itu adalah perilaku ghuluw (berlebihan). Bila sial, ia akan mewujud sikap penegasian pada orang lain.

Menyambutnya Dengan Santai

Bagi penulis, Rizieq Shihab tidak ada bedanya dengan manusia lainnya. Sama saja, ia adalah individu yang tidak sepenuh-penuhnya suci, sering keseleo ucapan, acap marah berlebihan, atau bertindak gegabah. Ia sama dengan kita sebagai manusia. Ajaran menghormati manusia bukan saja penghormatan pada Rizieq Shihab belaka, itu adalah ajaran universal yang berlaku untuk semua manusia, kita harus menghormati Rizieq sebagai manusia, seperti seharusnya menghormati Ahok, Jokowi, dan semua manusia.

Lantas bagaimana menyambut Rizieq Shihab dengan santai? Pertama, miliki integritas diri, jangan mudah menyerahkan kepribadian diri kepada orang lain. Militan boleh, tapi jangan fanatik, apalagi sampai fanatisme buta. Dasar dari itu perasaan sama dengan Rizieq dihadapan Tuhan, sebagai manusia ciptaan belaka.

Kedua, tingkatkan daya intelektualitas dan nalar kritis. Ini penting untuk meminimalisir kecenderungan fanatisme. Kita tahu, gejala fanatisme sering berasal dari komunitas yang daya nalarnya rendah. Untuk hal ini, pembaca bisa mengambil contoh dari timbulnya kelompok Khawarij. Mereka dalam kefanatikannya acap tidak mempertimbangkan nalar.

Baca Juga  Dahsyatnya Sebuah Amalan Bernama “Sedekah”

Ketiga, ambil sikap santai dalam segala hal. Santai dalam cinta pula santai dalam benci. Kita tahu, agama mengajarkan untuk bersikap moderat. Tidak berlebihan mencintai, juga tidak berlebihan dalam membenci. Sebaik-baik sikap adalah pertengahan. Penulis sering ucapkan “maka nikmat santuy mana lagikah yang kamu dustakan?”, ini untuk menggambarkan betapa bersikap moderat begitu pentingnya. Moderat adalah dasar dari ketenangan dan kedewasaan berpikir dan bersikap.

Akumulasi dari perasaan sama dengan orang lain, daya nalar yang kuat plus cara bersikap yang moderat akan membimbing kita dari pikiran hingga perilaku untuk bisa bersikap santai dalam memandang segala fenomena.

Rizieq dan Indonesia Kedepan

Kedatangan Rizieq bukan sepenuh-penuhnya anugerah di tengah kebingungan arah ummat. Penulis memandang bahwa, kedatangan Rizieq Shihab adalah kembali membesarnya suluh konflik di tengah masyarakat. Bila sikapnya sama dengan perilaku sebelumnya, ia lebih menggambarkan dirinya sebagai penyuluh konflik daripada penebar solusi.

Namun biarpun demikian, penulis tetap yakin bahwa Rizieq di kemudian waktu dapat menunjukkan sikap keagamaan yang lebih tenang, moderat dan bernalar luas. Mampu membimbing ummat Islam Indonesia untuk tetap pada orisinalitasnya sebagai subsistem kebangsaan yang menghargai pluralisme, bersikap toleran, dan terbuka.

Tulisan ini diakhiri dengan ajakan pada para pembaca untuk bersikap santai dan biasa saja dengan kedatangan Rizieq Shihab. Tetap gelar ngopi, membaca buku, jangan lupa selesaikan pekerjaan di kantor, mahasiswa akhir segera genapkan tugas skripsi, para pejabat tuntaskan amanah. Ohiya satu lagi, saya titip, jangan lupa sebar tulisan ini.

Editor: Ananul Nahari Hayunah