Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menyambut Bulan Rabi’ul Awal dengan Maulid dan Hari Santri

Sumber: https://www.freepik.com/

Seperti yang kita ketahui bahwa Rabiul Awal adalah bulan yang mulia. Bulan ketiga dari penanggalan Hijriyah ini juga biasa disebut dengan Bulan Maulud atau Maulid Nabi. Disebut demikian, karena bulan tersebut merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Yaitu manusia yang paling mulia serta junjungan umat Islam seluruh dunia.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitabnya Adz-Dzakhâir Al-Muhammadiyyah menjelaskan, Nabi Muhammad tidak mulia karena sebab masa atau waktu. Namun, justru masa atau waktu itulah yang menjadi mulia sebab Nabi Muhammad lahir. Artinya, Nabi-lah yang mengangkat derajat bulan tersebut, bukan sebaliknya.

Maulid Nabi Muhammad

Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun gajah atau 23 April 573 M. Beliau lahir dari pasangan Abdullah dan Aminah. Abdullah adalah putra dari Abdul Muthalib yang merupakan pemimpin suku Quraisy. Sementara Aminah merupakan putri dari Wahab, pemimpin Bani Zuhrah.

Pada tahun 2021, 12 Rabiul awal bertepatan pada hari Selasa, 19 Oktober. Pada hari tersebut, kerap diperingati oleh sebagian kaum Muslim di Indonesia dengan berbagai acara keagamaan seperti ceramah agama, kajian Islam, bersholawat, dan sebagainya. Peringatan tersebut bertujuan untuk menghormati serta memuliakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Namun, ada perbedaan pendapat oleh para ulama mengenai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ada sebagian ulama yang memperbolehkan perayaan Maulid Nabi, ada juga sebagian ulama yang menghukumi perayaan Maulid Nabi sebagai bid’ah yang munkar, dimana rukun-rukun yang tercakup didalamnya mengada-ngada dan tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dalil perayaan Maulid Nabi Muhammad

  1. Al-Quran

Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:

Baca Juga  Mengenal Buya HAMKA: Mufassir Kenamaan Asal Indonesia

Artinya: “Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya ( Nabi Muhammad SAW ), hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS.Yunus:58)

2. Hadist

Selain ayat Al-Quran di atas, hadis lain menerangkan bahwa Nabi Muhammad kerap berpuasa di hari Senin. Lantaran sebagai bentuk syukur terhadap hari kelahiran beliau dan hari di mana Rasulullah menerima wahyunya untuk yang pertama kali.

Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari Senin. Rasulullah SAW menjawab: “Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (H.R. Muslim)

3. Pendapat Ulama

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani mengatakan:

Artinya: Bahwa sesungguhnya mengadakan Maulid Nabi Saw merupakan suatu tradisi dari tradisi-tradisi yang baik, yang mengandung banyak manfaat dan faidah yang kembali kepada manusia, sebab adanya karunia yang besar. Oleh karena itu dianjurkan dalam syara’ dengan serangkaian pelaksanaannya. [Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahha, hal. 340]

Dari ketiga bukti tersebut menunjukkan bahwa perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW diperbolehkan. Meskipun ada sebagian ulama yang menganggap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bid’ah yang mungkar. Akan tetapi tradisi tersebut biasa diisi dengan suatu kegiatan yang memiliki nilai ibadah serta tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadist.

Hari Santri Nasional

Pada bulan Rabiul Awal kali ini, bertepatan juga dengan Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta. Penetapan ini dimaksudkan untuk meneladani semangat jihad para santri merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga  Mengenal M. Quraish Shihab: Sang Maestro Tafsir Nusantara

Dengan diadakannya perayaan Hari Santri ini, hendaknya kita sebagai umat muslim pada umumnya dan para santri pada khususnya untuk senantiasa meningkatkan peran dan kontribusinya dalam pembangunan bangsa dan negara serta berusaha bekerja keras mempertahankan keutuhan NKRI dengan bungkusan Islam yang rahmatan lil alamin.

Santri di sini tidak dimaknai hanya sebatas kaum sarungan yang belajar dan mengembangkan ilmu di pondok pesantren. Secara luas, santri dimaknai sebagai umat Islam Indonesia yang mengamalkan ajaran Islam sesuai konteksnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. –Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin–

Perpaduan antara urusan dunia dan urusan akhirat akan membuat bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang diridhoi oleh Allah SWT. Serta menjadikan negara Indonesia kita tercinta ini menjadi baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur yaitu negeri yang diberkati oleh Allah serta menjadi dambaan dan impian bagi penduduknya.

Ragam Cara Merayakan Hari Santri Nasional

Adapun cara merayakan Hari Santri Nasional bersamaan dengan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW supaya tidak melenceng dari aturan agama Islam antara lain:

  1. Memperbanyak membaca sholawat Nabi
  2. Senantiasa berdzikir dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT
  3. Memperbanyak sedekah
  4. Meningkatkan silaturahim
  5. Memperbanyak melakukan amal baik
  6. Menyantuni anak yatim
  7. Melaksanakan puasa sunnah

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho