Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menuju Proyek Manusia-Dewa dan Tantangan terhadap Al-Quran

Agama dan
Gambar: gramedia.com

Membaca buku Yuval Noah Harari berjudul Homo Deus memang sangat mengasyikkan sekaligus menyentak kesadaran. Bagaimana tidak, dalam analisanya mengenai pola perilaku dan kecenderungan manusia secara historis, Harari mengemukakan perkiraannya bahwa perkembangan teknologi manusia di masa depan akan digunakan untuk mewujudkan manusia setengah dewa. Ya, landasan pikiran dari ramalannya tersebut adalah kecenderungan manusia yang terobsesi pada kekuatan-kekuatan dewa yang diceritakan dalam kronik dan mitos sehingga membuat dirinya ingin melangkah ke sana. Singkatnya, manusia ingin memiliki kekuatan-kekuatan super itu.

Perkembangan teknologi kian hari makin mengarah ke sana. Proyek pencarian habitat di luar planet bumi beserta rencana usaha kolonisasinya, proyek manusia bionik, rekayasa genetika, hingga proyek manusia abadi berkembang, meski pelan, namun pasti. Proyek-proyek ilmu pengetahuan dan teknologi seperti ini jika ditanggapi dengan gagap dan latah oleh umat Islam, akan memunculkan polemik menantang keilahian Tuhan. Lantas, bagaimana dan sejauh mana umat Islam mengantisipasi usaha yang demikian?

Agama dan Pengendalian Tiga Masalah Utama

Perkembangan historis menunjukkan, dalam kurun waktu beberapa abad terakhir, manusia telah dapat mengatasi sebagian besar dari tiga masalah utama kemanusiaan: kelaparan, perang, dan wabah. Perkembangan teknologi pangan dan pendukungnya telah membuat produksi dan industri pangan ada di mana-mana sehingga pangan menjadi surplus. Bahkan sepertiga orang di seluruh dunia dikatakan mengalami obesitas dengan jumlah yang lebih besar ketimbang jumlah orang yang kelaparan. Bencana kelaparan dapat teratasi di sebagian besar wilayah di dunia. Hanya tinggal sebagian kecil yang belum teratasi dengan beragam faktor.

Keberlimpahan sumber daya pangan dapat mengurangi jumlah perang atau konflik karena faktor perebutan sumber daya pangan. Memang perang masih ada, namun dalam jumlah yang relatif kecil bila menengok sejarah manusia terdahulu dan lebih dikarenakan alasan ideologis ketimbang faktor perut. Kehidupan damai tanpa perang kemudian memunculkan kesadaran berharganya hidup dan mengutuk perang sebagai sebuah kejahatan.

Baca Juga  Dilema Hermeneutika dalam Tafsir al-Quran

Perkembangan ilmu kedokteran dan biologi berkontribusi besar pada penanganan wabah sehingga kian hari wabah semakin cepat teratasi dalam waktu yang relatif singkat dan semakin memperkecil persentase jatuh korban jiwa. Tidak hanya wabah penyakit menular, namun banyak penyakit lawas yang tidak menular di kemudian hari ditemukan obat dan cara mengantisipasinya. Ini tentu saja berdampak positif pada meningkatnya angka harapan hidup manusia.

Kehidupan yang semakin membaik berkontribusi positif pada berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Dalam pengamatan Harari, mengarah pada tujuan besar untuk memberikan manusia kekuatan ilahiah. Hal ini juga disokong menguatnya paham humanisme yang meletakkan manusia dan kepentingannya sebagai sumber nilai universal. Tak ayal, kepentingan manusia untuk memperoleh kekuatan super hingga obsesinya untuk mencapai kehidupan juga adalah nilai kebaikan yang harus didukung.

Menguji Klaim Integrasi Agama dan Ilmu Pengetahuan

Kondisi yang demikian ini tentu saja akan mengguncang tatanan umat manusia yang telah lama dibangun. Agama sebagai sumber ajaran yang telah lama dibangun di atas landasan teologis ilahiah tentu saja akan terguncang dengan kenyataan ini. Agama Islam, di samping agama langit lainnya, meyakini bahwa Tuhan adalah zat yang tak terbatas, sedangkan manusia adalah makhluk-Nya yang memiliki banyak keterbatasan.

Perkembangan iptek dalam sejarahnya memang beberapa kali mengguncang agama dan memaksa beberapa kali agar agamawan merumuskan kembali atau melebarkan batas-batas keterbatasan manusia itu. Begitu juga ke depan, apakah agamawan akan mempertahankan batas-batas yang disusun pada masa lalu ataukah memperlebar batas tersebut?

Fase paling awal dalam sejarah Islam adalah perdebatan mengenai keterbatasan akal dalam mengetahui hakikat Allah. Para filsuf berpendapat bahwa akal dapat mengetahui Tuhan bahkan tanpa adanya wahyu sekalipun, sementara para mutakallimin berpendapat sebaliknya. Tentu saja ini adalah perdebatan wacana atau ranah idea dan metafisis.

Baca Juga  Al-Jabiri (2), Kritik Nalar Arab dan Tradisi dengan Modernitas

Sedikit melenceng, dalam bidang sosial, sebagai contoh, pengertian mengenai tasyabbuh mengalami pergeseran. Man tasyabbaha bi qaum fahuwa minhum (barang siapa tasyabbuh dengan suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut). Dahulu, tasyabbuh dimaknai teologis dan sempit sehingga melahirkan makna bahwa meniru prilaku dan gaya orang kafir adalah haram. Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, tak jarang dituduh kafir karena pemahaman demikian. Namun seiring perkembangan iptek, dipahami bahwa isolasi budaya di dunia yang semakin global ini adalah suatu hal yang tak mungkin. Dan setiap ada pertemuan budaya maka akan ada penyerapan budaya. Dengan ini pemaknaan taysyabbuh tidak mungkin lagi dipahami secara sempit dan teologis seperti dahulu.

Tantangan Al-Quran

Kali ini, tantangan yang dihadapi berbeda karena bersentuhan dengan dunia fisik nan empiris. Proyek-proyek menjadikan manusia melampaui batas kemanusiaan natural dengan bantuan iptek. Di samping kembali menggeser batas keterbatasan manusia secara teologis, juga mengancam posisi sentral Tuhan yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya zat yang tak terbatas. Proyeksi semacam ini mau tak mau akan menguji klaim integrasi ilmu dan agama.

Tantangan di atas penulis pandang sejajar dengan ranah kreasi (penciptaan). Karena berurusan dengan material fisik makhluk, tentu saja bukan dalam makna menciptakan sesuatu dari tiada menjadi ada. Namun itu merekayasa hakikat atau sifat dari makhluk sehingga berbeda dari sifat alaminya ketika “diciptakan” Tuhan secara alamiah. Dalam hal ini, barangkali bisa kita analogikan dengan menengok pada al-Qur’an.

Dalam QS. al-Hajj: 73 di mana Allah menyatakan bahwa sesembahan selain diri-Nya tidak akan dapat menciptakan lalat. Andaipun mereka dapat menciptakannya, hal tersebut tidak akan berguna. Penulis memandang ayat ini sebagai tantangan, seperti di ayat lain yang menantang manusia dan jin untuk membuat semisal al-Qur’an jika mereka mampu. Di ayat-ayat tantangan seperti ini, biasanya al-Qur’an menggunakan redaksi lan (tidak akan) dengan narasi mempersilakan.

Baca Juga  Rukun Moderat dalam Berbangsa dan Beragama

Posisi inilah yang penulis pandang saat ini. Silakan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun akan terkesan menantang atau menentang Tuhan, namun selagi itu memang bukan ranah manusia dan hanya ranah Tuhan, manusia tidak akan bisa.

Namun kembali lagi kepada apa dan bagaimana autoritas keagamaan melemparkan wacana dalam merespon tantangan seperti ini di masa depan: apakah akan menyerukan larangan dengan alasan doktrin? Atau dengan alasan ilmiah dan rasional, atau berpandangan permisif seperti penulis? Dengan wacana responsif yang dilempar nantinya, kita dapat menilai apakah klaim integrasi ilmu dan agama hanya sekedar klaim atau memang nyata adanya.

Penutup

Proyek manusia abadi mungkin terdengar konyol dan sangat mustahil. Namun siapa tahu puluhan atau ratusan tahun mendatang bagaimana? Sebagaimana ratusan tahun lalu tidak terbayang akan ada bayi tabung ataupun komputer digital. Reinterpretasi “merubah ciptaan Allah” juga harus berkompromi dengan keadaan, tidak selalu tekstual. Apakah operasi bibir sumbing atau bayi kembar siam, yang mana mereka “diciptakan” Allah dengan kondisi demikian “alami” masuk ke dalam “merubah ciptaan Allah” secara tekstual? Bukankah operasi seperti ini yang sudah lama berjalan bahkan di kalangan umat Islam adalah kompromi antara nash keagamaan di satu sisi dan kemanusiaan di sisi lain?

Penyunting: M. Bukhari Muslim

Mufti Labib Jalaluddin
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Aktivis IMM Ciputat