Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Meninjau Body Shaming dengan Tafsir Maqashidi

shaming
Sumber: https://www.cahayaislam.id/

Saat dilahirkan ke dunia, manusia pasti akan diberikan kekurangan dan kelebihan dalam segala aspek baik sifat, fisik, maupun kemampuan. Terkait dengan fisik, masyarakat menilainya dari segi ketampanan dan kecantikan yang dimiliki oleh seseorang. Hal ini disebut dengan body shaming.

Adapun standar kecantikan dan ketampanan tersebut dapat berbeda tergantung pada tempat maupun kondisi suatu masyarakat. Sebab adanya standar kecantikan tersebut, seperti yang disebutkan Sakinah dalam Ini Bukan Lelucon. Setiap orang menjadi berlomba-lomba untuk dapat memenuhi standar tersebut sehingga dapat dicap sebagai wanita cantik ataupun laki-laki yang tampan.

Adapun dampak negatif dari adanya standar kecantikan tersebut. Menurut J.P dalam Kamus Lengkap Psikologi. Orang-orang yang dinilai tidak memenuhi atau jauh dari standar tersebut akan sering menerima komentar jahat, kritikan. Juga hinaan terkait fisik mereka atau yang biasa disebut dengan body shaming.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas mengenai bagaimana menyikapi body shaming ditinjau dari tafsir maqashidi.

Pengertian Body shaming secara Umum dan Islam

Secara umum, body shaming dapat diartikan dapat sebagai menghina fisik seseorang. Hal ini seperti disebutkan dalam Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Penghinaan Citra Tubuh. Menurut Hukum Pidana Indonesia, bahwa body shaming merupakan perbuatan menghina fisik seseorang terkait bentuk maupun ukuran badan yang dinilai tidak ideal.

Perilaku body shaming tergolong dalam tindakan bullying secara verbal yang dapat memberikan efek negatif pada mental korbannya. Adapun tindakan tersebut, ternyata telah muncul sejak zaman Nabi Muhammad saw. Hanya saja istilah body shaming baru muncul dan dikenal di Amerika Serikat pada tahun 1900-an.

Sementara itu, di dalam Islam, seperti yang terdapat dalam Tafsir fi Zhilal Al-Qur’an. Body shaming dipahami sebagai tindakan celaan, isyarat mata, bibir, maupun gerakan anggota badan lainnya. Kemudian yang ditujukan untuk menghina atau mengomentari seseorang. Terdapat pula, Ibnu Asyrur yang mendefinisikan bahwa body shaming adalah memberi gelar atau panggilan yang kurang baik kepada seseorang.

Baca Juga  Psikologi Al-Quran: Menyelesaikan Permasalahan Keluarga ala Nabi

Berdasarkan dua perspektif di atas, maka dapat diketahui bahwa body shaming merupakan tindakan mengomentari seseorang khususnya terkait fisik yang merupakan salah satu bentuk bullying secara verbal.

Memaknai Ayat Body shaming dalam Al-Qur’an

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang membahas terkait body shaming, namun kali ini penulis hanya akan fokus pada satu surat yakni Q.S. Al-Hujurat: 11 beserta pembahasan tafsirnya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Penafsiran ayat di atas, seperti yang terdapat dalam Tafsir al-Muyassar menjelaskan tentang larangan untuk menghina sesama mukmin. Disebabkan bahwa orang yang menghina mungkin lebih buruk daripada yang dihina. Dan sebaliknya orang yang dihina bisa jadi lebih mulia atau lebih baik dari yang menghina.

Oleh karena itu, berdasarkan penafsiran di atas. Maka perlu disadari bahwa seseorang tidak berhak mencela orang lain baik dari segi fisik, status sosial maupun yang lainnya menggunakan panggilan atau gelar yang buruk sebab hal tersebut sama saja berarti melanggar syariat Allah Swt serta mendzalimi saudara sendiri.

Baca Juga  Refleksi Konsep Gender dalam QS. Ali Imran (3): 36

Body shaming dalam Tinjauan Tafsir Maqashidi

Selain memahami body shaming melalui penafsiran di atas, terdapat beberapa aspek maqasidi yang dapat diketahui:

  1. Menjaga jiwa atau hifz an-nafs. Pelarangan body shaming, secara tidak langsung berarti menjaga mental atau kesehatan psikologis seseorang. Lebih lanjut, Ibnu Asyur menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan hal yang paling penting dari diri seseorang. Sebab tak jarang orang yang memiliki masalah pada kesehatan mentalnya seringkali berimbas pada menurunnya kondisi fisik. Seperti gangguan terlalu banyak atau terlalu sedikit makan.
  1. Menjaga pikiran atau hifz al-aql. Pada poin ini, mengisyaratkan bahwa orang yang memiliki akal sehat semestinya tidak akan pernah melakukan body shaming terhadap orang lain. Sebab orang tersebut pasti sadar bahwa dirinya pun bukanlah mahluk sempurna, juga menyadari bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dengan sempurna dengan  bentuk yang berbeda-beda.
  1. Menjaga agama atau hifz al-din. Seperti yang telah disebutkan dalam penafsiran di atas, bahwa pelaku body shaming sama saja telah mendzalimi saudaranya serta melanggar syariat Allah Swt. Oleh karena itu, pada poin ini ditegaskan bahwa pelaku body shaming sama saja tidak mau menjaga agamanya beserta syariat atau peraturan yang terdapat di dalamnya.

Kesimpulan

Body shaming merupakan perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh seseorang karena menghina fisik orang lain atau menyebutkannya dengan gelar yang tidak baik. Adapun body shaming juga dibahas dalam Al-Qur’an salah satunya Q.S. al-Hujurat ayat 11. Di mana dijelaskan bahwa pelaku body shaming sama saja tidak mentaati syariat Allah dengan menzalimi saudaranya sendiri pada tulisan kali ini. Dapat diketahui bahwa dilarangnya melakukan body shaming memiliki tujuan beberapa hal jika ditinjau dari tafsir maqashidi di antaranya menjaga agama, menjaga jiwa, serta menjaga pikiran.

Baca Juga  Inilah 7 Ayat Keutamaan Sedekah dalam Al-Qur'an