Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengurai Fenomena Guruh Dalam Al-Qur’an

Guruh
Sumber: https://muslimobsession.com/

Hujan merupakan anugerah dari Tuhan. Hujan berfungsi untuk menghidupkan kembali bumi yang sudah mati. Dalam peristiwa hujan tidak jarang kita sering mendengarkan suara petir yang biasa kita sebut dengan guntur atau gemuruh.

Dalam bahasa Arab Guntur disebut dengan ar-Ra’ad. Kata رعد dalam kamus al-ma’ani bermakna guntur, guruh. Kemudian dalam kamus al-Munawwir رعد yakni:الرّعد و الرّعود: مصدر من رَعَدَ-يرعدُ: صوت السحاب  (petir, guruh, halilintar) Sementara dalam kamus lisan al-Arab makna الرعد yaitu:الرعد: الصوت الذي يسمع من السحاب . Adapun merujuk KBBI kata Guruh memiliki arti suara menggelegar di udara disebabkan oleh halilintar.

Fenomena Guruh Di Semesta

Guruh (ar-Ra’ad) adalah suara menggelegar yang menyertai petir. Hal ini disebabkan oleh udara yang memuai secara tiba-tiba karena proses pemanasan oleh petir. Munculnya guruh diawali dengan adanya pelepasan muatan listrik positif (+) ke medan listrik yang bermuatan negatif (-) dari awan-awan yang disertai dengan adanya cahaya kilat.

Menurut Vladimir A. Rakov dan Martin A. Uman bahwa guruh adalah kata yang digunakan untuk mendeskripsikan gelombang kejut suara yang dihasilkan akibat terjadinya pemanasan. Serta adanya pemuaian udara yang sangat cepat ketika dilewati oleh sambaran petir. Sambaran tersebut menyebabkan udara berubah menjadi plasma dan langsung meledak sehingga menimbulkan suara yang bergemuruh.

Fenomena ini terjadi pada saat bersamaan dengan kilatan petir, tetapi suara gemuruhnya biasanya terdengar beberapa saat kilatan terlihat. Hal ini terjadi karena cahaya merambat lebih cepat (186.000 mil/299.338 km per detik) bila dibandingkan suara (sekitar 700 mil/1.126 km perjam, bervariasi tergantung temperature, kelembapan dan tekanan udara).

Guruh Dalam Al-Qur’an

Fenomena Guruh telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak dua kali yakni dalam QS ar-ra’d [13]: 13, QS al-Baqarah [2]: 19.

Baca Juga  Kloning Manusia Perspektif Al-Qur'an

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ

 مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

Artinya: “Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.”

Dalam tafsir Muyassar dijelaskan bahwa perumpaan bagi orang-orang kafir seperti orang yang sedang ditimpa oleh hujan yang lebat disertai dengan gelapnya malam. Serta pekatnya awan dan hitamnya mendung. Kemudian, gelegar dari suara petir yang mengejutkan mereka dan kelebatan kilat yang datang secara bertubi-tubi. Sebab orang munafik jika mendengarkan Al-Qur’an mereka merasa ketakutan terhadap ancaman dan perintah serta lari dari ajaran-ajaran-Nya

Sehingga, pada saat mereka mendengar Al-Qur’an mereka menutup telinga mereka. Dan meskipun demikian, Allah maha kuasa atas mereka, dan mereka tidak akan bisa luput dari-Nya karena Allah bisa mengawasinya.

Perumpamaan Orang Kafir

Dalam tafsir fi dzilalil qur’an menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan sebuah pemandangan yang mengagumkan. Penuh dengan gerakan, dan bercampur dengan kegoncangan. Keadaan ini terdapat kebingungan, kesesatan, kekagetan dan kekacauan serta cahaya dan gema suara. Kemudian turun hujan yang sangat lebat dari langit, “disertai gelap gulita, guruh, dan kilat…”setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu…”dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti.”

Berhenti karena kebingungan, tidak tahu arah dan entah kemana mereka akan berjalan dengan kondisi tersebut. Mereka ketakutan, “mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya (karena mendengar suara) petir, sebab takut akan mati….” Situasi yang memenuhi pemandangan tersebut adalah hujan yang lebat, kegelapan dan guruh.

Baca Juga  Tafsir Ilmi: Reaksi Redoks dalam Pembangunan Benteng Zulkarnain

Keadaan Jiwa Orang Kafir

Situasi yang terdapat dalam pemandangan ini sungguh melukiskan dengan pesan yang positif. Yaitu situasi kebingungan, kegoncangan serta kegoyahan dalam kehidupan orang munafik. Yang mana ketika mereka bertemu dengan orang mukmin dan kembali lagi kepada syaitan-syaitan mereka.

Antara apa yang mereka katakan sesaat, dan kemudian mereka ralat dengan serta merta. Mereka enggan terhadap petunjuk dan cahaya dengan kembalinya mereka lagi kepada kesesatan dan kegelapan. Hal ini merupakan pemandangan indrawi yang melukiskan kondisi jiwa serta perasaan mereka. Seperti ini cara Allah untuk melukiskan kondisi kejiwaan manusia yang berada dalam kesesatan.