Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengkritisi Argumen Anti LGBT: Pentingnya Keilmuan Umum dalam Argumen Keagamaan

LGBT
Gambar: tirto.id

Pagelaran Euro 2020 yang dilangsungkan tahun ini karena pandemi Covid-19 memiliki beragam kejadian atau momen menarik. Mulai dari banyaknya jumlah gol bunuh diri (own goal), banyaknya tim besar yang kalah, dan yang tidak dapat luput dari perhatian banyaknya ornamen pelangi (rainbow) yang lekat dengan gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender).

Menariknya lagi, bukan saja hanya sekedar penghias saja, di lapangan pun beberapa tim menggunakannya sebagai identitas resmi seperti pada ban kapten dan juga visual stadion.

Hal ini khususnya di Eropa bukanlah hal baru. Liga Inggris sebelumnya sudah menaikan wacana ini dan disokong dengan kesediaan klub bola menggunakannya sebagaimana disebutkan di awal tadi (ban kapten, bendera sudut lapangan, visual, dll). Banyaknya penggunaan tagar “#pride” serta ornamen rainbow identitas LGBT di Euro 2020 seakan-akan menguatkan eksistensi mereka (LGBT) untuk bisa diterima di mata dunia.

Tentu hal ini akan menimbulkan perdebatan dan diskusi panjang. Terlebih jika dikaitkan dengan agama. Jangankan dengan agama, dalam lingkup turnamen Euro pun ada beberapa penolakan seperti yang dilakukan beberapa tim yang terang-terangan menolak segala ornamen politik termasuk bendera pelangi LGBT.

Catatan atas Argumen Anti LGBT

Dalam pembahasan lingkup agama khususnya Islam, dengan tinjauan nash-nash atau dalil yang ada serta ditunjang dengan akal sehat, jelas LGBT dan segala bentuk atau jenis yang megikutinya adalah terlarang. Tapi tulisan ini tidak akan membahas mengenai tinjauan agama Islam tentang LGBT dan perbuatan yang mereka lakukan. Tetapi bagaimana mengkritisi beberapa argumen yang sering disampaikan oleh pemuka agama ketika mencoba “meng-counter” apa yang LGBT percaya.

Menyamakan Seksualitas Manusia dan Hewan

“Kambing saja kalau kawin milihnya yang lawan jenis”, sepertinya ungkapan yang akan disampaikan pemuka agama ketika berceramah atau mencoba membalas argumen-argumen LGBT. Sekilas terdengar benar dan tanpa celah. Tetapi dengan tinjauan kelimuan kontemporer hal ini memiliki celah yang dapat dicounter balik oleh kaum LGBT.  

Cloud (2007) sebagaimana dikutip dalam Social Problem (2012: 277-278) menyatakan bahwa homoseksualitas cukup umum di dunia hewan yang mana telah ditemukan bahwa domba jantan menunjukkan homoseksualitas setidaknya sesering manusia. Sekitar 8 persen domba jantan ternyata berhubungan seks secara eksklusif dengan domba jantan lain.

Baca Juga  Islam Sebagai Agama dan Politik

Peneltian di Oregon Health and Science University juga menunjukan bahwa bahwa domba jantan gay memiliki struktur otak yang berbeda dari yang heteroseksual (Cloud 2007: 54).

Jelas di sini terlihat celah yang cukup terbuka pada penggalan kalimat di awal tadi. Jika memang sebagai muslim, atau pemuka agama berargumen dengan menyamakan antara manusia dan hewan dalam kegiatan seksual, maka keterangan mengenai adanya domba yang homoseksual atau memiliki ketertarikan sesama jenis dan penelitian di Oregon Health and Science University juga bisa jadi argumen kaum LGBT dalam menyuarakan pandangan yang mereka percayai. Karena masih banyak para penggiat anti LGBT yang berargumen dengan menyamakan seksualitas manusia dan hewan.

LGBT dan Ancaman Berkurangnya Populasi Manusia

Kalau mereka tetap ada, maka manusia akan habis karena tidak akan ada lagi anak yang akan lahir di dunia ini”. Argumen tersebut seolah terdengar kuat. Tapi kembali dengan tinjauan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hal ini sangat memiliki celah. Pertama, soal tidak adanya generasi lanjutan lewat lahirnya anak bukan saja isu atau problem dari LGBT saja.

Orang-orang yang percaya dengan konsep overpopulation memilih tidak memiliki anak atau penerus baik mereka menikah ataupun tidak. Hal ini karena mereka takut akan melahirkan anak di tengah kacaunya zaman yang penuh kemiskinan, ketidaksetaraan, dan kualitas lingkungan yang buruk. Dan permasalahan ini bukan masalah baru, bahkan di tahun 1798, Thomas Malthus membuat tulisan yang berjudul “An Essay on The Principle of Population” yang banyak menyinggung soal overpopulation.

Pertanyaannya jika memang esensinya adalah mengenai akan berkurangnya jumlah populasi manusia, mengapa soal-soal overpopulation ini tidak disinggung sebagaimana besarnya singgungan kepada LGBT?

Baca Juga  Hanya Umat Terbelakang yang Membelenggu Perempuan

Benar dalam tinjauan biologis jelas tidak akan pernah ada bayi yang lahir hasil hubungan 2 pria atau 2 wanita yang berhubungan seks. Tetapi apa sulitnya bagi mereka dalam lingkup gerakan LGBT membuat program bayi dengan “rekayasa”. Misal 2 pasangan gay ingin memiliki anak, maka salah satu dari mereka mencari rahim dari seorang wanita lesbian agar seorang anak bisa lahir ataupun sebaliknya? Sangat amat mudah bagi mereka.

Benar jika ditinjau dari agama hal ini sangat amat terlarang dan sangat amat merusak. Tetapi apa pedulinya mereka? Yang mereka (LGBT) tahu adalah kita punya pertanyaan mengenai ancaman berkurangnya populasi manusia, dan mereka (LGBT) punya solusi atau jawabannya.

Saatnya Berbenah

Masuk pada konklusi masalah tulisan ini yakni mengenai pentingnya pendekatan keilmuan umum terhadap argumen keagamaan. Sebab rasanya jika ditanya satu-persatu para pemuka agama yang sering berbicara argumen-argumen yang disebut lemah dalam tulisan ini, apakah mereka tahu tinjauan keilmuan modern yang menemukan berbagai fakta baru sebagaimana ditulis panjang lebar dalam tulisan ini ? Maka kemungkinan besar mereka akan berkata belum pernah tahu.

Kembali ditegaskan bahwa jelas dalam tinjauan agama Islam lewat dalil serta penggunaan akal yang sehat, LGBT dan segala perilaku yang mengarah pada mereka sangat terlarang.  Allah Swt. berfirman

وَلُوطًا ءَاتَيْنَٰهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْقَرْيَةِ ٱلَّتِى كَانَت تَّعْمَلُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ ۗ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ قَوْمَ سَوْءٍ فَٰسِقِينَ

Artinya: Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik. (QS. Al-Anbiya: 74)

HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa ayat ini menjelaskan bagaimana kejinya dan hinanya penduduk negeri Sodum yang melakukan perilaku laknat. Laki-laki lebih timbul syahwatnya bila melihat laki-laki daripada melihat orang perempuan. Akhirnya datanglah azab siksaan Tuhan (HAMKA VI, 1989: 4605).

Baca Juga  Benarkah Islam Bertentangan Dengan Komunisme?

Maka dari itu sudah menjadi kewajiban sebagai seorang muslim untuk menegakan amar maruf nahi munkar mengenai permasalahan LGBT ini agar mereka sadar atas perbuatan dan bisa kembali ke jalan yang diridhai Allah Swt.

Tentu tidak bisa sebagai seorang muslim di zaman sekarang ini untuk mengambil tindakan fisik kepada mereka dalam rangka melawan balik argumen-argumen dan pendapat mereka. Bagaimanapun salahnya mereka karena ada hukum yang mengatur kebebasan ini.

Tidak ada pilihan lain sebagai seorang muslim terlebih bagi pemuka agama untuk terus belajar memperkuat argumen-argumen keagamaan dan juga penguasaan pendekatan keilmuan umum untuk bisa menjawab soal-soal kontemmporer yang makin hari semakin rumit.

Apabila tidak dikuasai secara keseluruhan (agama dan umum). Sebut saja 2 argumen mengenai “menyamakan seksualitas hewan-manusia dan ancaman berkurangnya populasi manusia” terlalu banyak celah yang selama ini belum disadari dan bodohnya kita selalu merasa cukup dengan argumen-argumen demikian.

Hanya tinggal menunggu waktu dan momen yang tepat bagi mereka (LGBT) menyerang balik argumen-argumen keagamaan atau yang berpihak pada anti LGBT. Dan pada saat itu tiba, apakah kita sudah siap?

Penyunting: M. Bukhari Muslim