Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengkaji Takhalli dan Tahalli ala Imam Al-Ghazaliy

Sumber: https://ghazalichildren.org

Konsep takhalli dan tahalli mungkin terlihat sederhana jika ditinjau dari aspek literal. Sesederhana mengosongkan sebuah gelas, misalnya, untuk kemudian mengisinya dalam rangka mencapai maqam tajalli. Namun dalam tradisi Islam, konsep ini tidak sesederhana seperti kelihatannya. Ia bahkan menjadi pola inti dalam setiap aktifitas keberagamaan.

Iman misalnya, yang mendasarkan pada kalimat tauhid –laa ilaah illallah-, sejatinya juga mengikuti pola takhalli dan tahalli. Takhalli dengan meniadakan segala bentuk penyekutuan dan tahalli dengan menetapkan keesaan Tuhan. Keduanya dapat ditilik dari adanya penggunaan redaksi nafi (laa) dan istitsna’ (illa) yang menunjukkan pada nafi dan itsbat.

Takhalli dan Tahalli dalam Tasawuf

Akan halnya tradisi tasawuf, takhalli dan tahalli bahkan hampir menjadi induk dari segala konsepsi di dalamnya. Takhalli yang secara literal berarti pengosongan menunjukkan pada pembersihan hati dari segala bentuk sifat-sifat tercela. Sementara tahalli yang berarti menghias menunjuk pada upaya internalisasi sifat-sifat terpuji. Itu lah mengapa disiplin tasawuf selalu berisi ulasan dua jenis sifat-sifat ini.

Adaptasi konsep takhalli dan tahalli yang cukup jelas sebagaimana ditemukan dalam tasawuf Al-Ghazaliy. Beberapa klasifikasi yang ia gunakan dalam karya-karyanya tampak menunjukkan demikian. Ihya’ ‘Ulum al-Din contohnya, membagi ta’lim di dalamnya menjadi empat bagian dengan dua bagian akhir berisi sifat-sifat tercela yang merusak (muhlikat) dan sifat-sifat terpuji yang menyelamatkan (munjiyat). Atau Al-Arba‘in fi Ushul al-Din, yang menjadi sekuel lanjutan kitab Jawahir al-Qur’an, juga berisi empat klasifikasi serupa dengan dua bagian akhir yang sama.

Isyarat mengenai konsep takhalli dan tahalli ini salah satunya dapat ditemukan dalam penafsiran isyariy Surah Al-An‘am ayat 91. Artinya: “Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang menurnkan Kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang tidak diketahui, baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu.” Katakanlah, “Allah-lah (yang menurunkan),” kemudian (setelah itu), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.”

Tafsir Isyariy Takhalli dan Tahalli

Wahbah al-Zuhailiy dalam Al-Tafsir al-Munir-nya menukil sebuah riwayat dari Ibn ‘Abbas ra. menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah perdebatan yang terjadi antara Nabi Saw. dengan kaum Yahudi yang meragukan turunnya Al-Qur’an. “Adakah Allah telah menurunkan sebuah kitab kepadamu? Sungguh demi Tuhan, tidak satu pun kitab telah Ia turunkan!”, begitu kata mereka. Sebuah perkataan yang juga menyiratkan adanya pengingkaran terhadap Taurat, kitab mereka sendiri.

Baca Juga  Integrasi Hakikat Nur dalam Al-Qur'an, Tasawuf dan Fisika

Itulah mengapa, selain menjelaskan pengingkaran kaum Yahudi terhadap Al-Qur’an, Surah Al-An‘am ayat 91 juga berisi gambaran umum interaksi kaum Yahudi terhadap kitab Allah. Bagaimana pengingkaran mereka terhadap Taurat, dengan hanya menunjukkan ajaran yang menguntungkan mereka dan menyembunyikan sisanya. Interaksi yang Allah sebut sebagai ‘tidak mengagungkan sebagaimana mestinya’ dan ‘mencerai-berai’.

Penafsiran isyariy tentang takhalli dan tahalli sendiri menurut Al-Ghazaliy terdapat pada bagian akhir ayat, tepatnya pada “Katakanlah, “Allah-lah (yang menurunkan),” kemudian (setelah itu), biarkanlah mereka”. Frasa pertama dari potongan ayat ini menurut Al-Ghazaliy berisi isyarat tahalli dengan redaksi itsbat-nya atas keberhadiran Allah. Sementara frasa kedua yang menggunakan redaksi nafi, menunjuk pada takhalli atau pengosongan dari selain-Nya.

Implementasi Takhalli dan Tahalli

Implementasi konsep ini menurut Al-Ghazaliy dapat dilihat dalam masalah yang berkaitan dengan qalb (hati) yang menjadi representasi ‘alam al-malakut dan jawarih (anggota tubuh) yang menjadi representasi ‘alam al-malak. Masing-masing takhalli dan tahalli dilakukan dengan membersihkan hati dan anggota tubuh dari segala etika yang tercela dan dosa maksiat serta menghias keduanya dengan amal ketaatan yang terpuji.

Lebih jauh, konsep takhalli dan tahalli bahkan menjadi langkah utama dalam prosesi tajalli. Dimana hakikat ma’rifatullah tidak mungkin tercapai kecuali dengan mengosongkan hati dari segala sesuatu selain Allah (takhalli). Karena Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya (Surah Al-Ahzab [33]: 4)

Masing-masing dari takhalli dan tahalli menurut Al-Ghazaliy memiliki bobot yang seimbang dalam membentuk kesatuan amal seorang salik. Jika takhalli bernilai setengah, maka setengah yang lain akan digenapi oleh tahalli. Hal ini dikarenakan pencapaian salah satu dari keduanya tidak akan mungkin terjadi manakala tidak disertai dengan kesempurnaan yang lainnya. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Baca Juga  Menyelami Paradigma Sufistik Hamka dalam Tafsir Al-Azhar

Selain itu, hal yang cukup menarik dari istinbath konsep takhalli dan tahalli tafsir isyariy ayat ini adalah pada praktik siklus keduanya yang berlaku secara berbeda. Apabila merujuk secara langsung tertib ayat 91 Surah Al-An‘am sebelumnya, maka didapati bahwa implementasi tahalli semestinya dilaksanakan terlebih dahulu sebelum menginjak pada tahapan takhalli, tetapi nyatanya tidak demikian.

Takhalli Sebelum Tahalli

Baik dalam karyanya Ihya’ ‘Ulum al-Din atau Al-Arba‘in fi Ushul al-Din, ulasan mengenai sifat-sifat tercela yang menjadi landasan melakukan takhalli selalu didahulukan mengakhirkan tahalli yang didasarkan pada sifat-sifat terpuji. Artinya, menurut Al-Ghazaliy, takhalli tetap didahulukan sebelum melakukan tahalli. Bagaimana mungkin seseorang mengisi sebuah gelas yang telah terisi penuh?

Namun dalam model tasawuf yang lain, tertib ayat 91 Surah Al-An‘am ini benar-benar diterapkan secara letterlijk (apa adanya): tahalli dilakukan sembari melakukan takhalli. Ibarat gelas yang penuh, dengan terus menuangkan air ke dalamnya akan menyebabkan pergantian isi. Hati yang kotor akan menjadi bersih dengan siraman amal bathiniyyah yang terus menerus dilakukan secara kontinu dan simultan.

Seluruh konsepsi mengenai takhalli dan tahalli ini oleh Al-Ghazaliy diringkas dalam sebuah hadis Nabi Saw., al-thahuru syathr al-iman, bahwa kebersihan dan kesucian yang menjadi simbol takhalli memiliki nilai setengah dalam keimanan. Karena setengah yang lain telah dimiliki tahalli sebagai media penghias yang meramaikan perjalanan amal seorang salik. Maka barangsiapa menginginkan adanya kesempurnaan iman, hendaklah ia mengumpulkan keduanya dalam dirinya. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho