Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menghidupkan Spirit Ibrahim dalam Diri Seorang Muslim

Spirit Ibrahim
Gambar: Sindonews.com

Nabi Ibrahim adalah sosok teladan tentang bagaimana seharusnya menghamba dan mencintai Allah. Tidak hanya menjalankan apa yang diperintahkan. Namun beliau juga lulus menjalankan ujian dari Allah bahkan mendapat predikat mumtaz (nilai sempurna). Sebab itu beliau mendapatkan gelar khalil ar-rahman. Setelah artikel sebelumnya yang menggambarkan gagalnya Bani Israil dalam ‘case test’ yang diberikan Allah, pada tulisan ini akan mengisahkan teladan keberhasilan ujian hidup yang diterima Nabi Ibrahim.

Al-Baqarah Ayat 124: Ujian Allah kepada Nabi Ibrahim

Thabathaba’i mengutip Imam Ja’far ash-Shadiq berkata: “Sesungguhnya Allah menerima Nabi Ibrahim sebagai seorang hamba sebelum Dia mengangkatnya menjadi seorang nabi. Mengangkatnya menjadi nabi sebelum Dia memilihnya menjadi rasul. Mengangkatnya menjadi rasul sebelum Ia menjadikannya sebagai kekasih-Nya, dan menjadikannya sebagai khalilullah sebelum mengangkatnya menjadi seorang imam. Yaitu di kala Nabi Ibrahim berhasil menunaikan kalimah-Nya, ujian berupa perintah dan larangan dari Allah.” (Tafsir Al-Mizan Vol. I, h. 273)

Nabi Ibrahim telah diberi oleh Allah bermacam-macam pengalaman ujian dan cobaan. Menurut az-Zuhaili dalam konteks ini, ujian yang diberikan merupakan sebuah pilihan bagi Nabi Ibrahim antara menunaikan atau berpaling darinya. Hanya saja ujian bagi seorang hamba dari tuhannya tentu merupakan sebuah perintah yang harus ditunaikan.

Bukan hanya menjalaninya dengan baik. Namun perlu dicatat bahwa Nabi Ibrahim mengerjakan itu semua dengan sangat baik. Sebagaimana Ibnu Katsir (Vol. I, hal. 405) menjelaskan ayat ini membawa maksud bahwa beliau mengerjakan semua syariat yang diperintahkan oleh Allah kepadanya dengan sempurna. seperti yang disebutkan dalam firman lainnya: “Dan juga (dalam kitab) Nabi Ibrahim yang memenuhi dengan sempurna (segala yang diperintahkan kepadanya).” (QS. an-Najm [53]: 37)

Baca Juga  Kewajiban Berdakwah: Tafsir QS. Ali ‘Imran Ayat 110

Mengenai spesifik ujian Allah dengan lafadz بكلمات menimbulkan banyak perbedaan pendapat dalam kalangan mufasir. Di dalam tafsirnya sendiri Ibnu Katsir mengutip tujuh dari pendapat. Di antaranya pendapat dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan ketika ia ditanya, “Apakah kalimat yang diujikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim, lalu Ibrahim AS menunaikannya?” Ibn ‘Abbas menjawab, “Islam itu ada tiga puluh bagian: Sepuluh bagian terdapat dalam surat at-Taubah: 112, dan sepuluh lainnya di permulaan surat al-Mu’minun, dan sepuluh terakhir berada di surat al-Ahzab ayat 35.”

***

Kemudian pendapat Hasan al-Basri: kalimah itu berkaitan dengan ayat yang menerangkan tentang kisah Nabi Ibrahim. Di antaranya: Allah menguji Nabi Ibrahim, pertama, dengan bintang-bintang, matahari, dan bulan. Maka ia menunaikan ujiannya itu dengan baik dan menyimpulkan dari ujian tersebut bahwa Tuhannya adalah Zat Yang Maha Abadi dan tidak akan lenyap

Kedua, Dia menghadapkan wajahnya kepada Tuhan Yang Menciptakan langit dan bumi seraya mencintai agama yang hak dan menjauhi kebatilan; dia bukan termasuk orang yang musyrik. Ketiga, dengan hijrah, ia keluar meninggalkan negeri tercintanya dan kaumnya hingga sampai di negeri Syam dalam keadaan berhijrah kepada Allah SWT.

Keempat, dengan api sebelum hijrah, ternyata dia tabah menghadapinya. Kelima, dengan perintah menyembelih anaknya serta bersunat, maka dia menunaikan semuanya itu dengan penuh kesabaran.

Ibnu Jarir at-Thabari berkesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kalimat ujian adalah seluruh pendapat mufasir atau boleh juga sebagian tertentu darinya kecuali berdasarkan hadis dan ijma’. Tetapi dalam hal ini tidak ada khabar shahih yang dinukil baik oleh satu ahli hadits maupun oleh beberapa ahli hadits. (Tafsir Al-Tabari Vol II, h. 506).

Baca Juga  Jilbab dan Aurat Wanita dalam Al-Quran: Perspektif Al-Baghawi

Mengapa Allah tidak menerangkan macam-macam kalimat yang telah diberikan kepada Nabi Ibrahim. Hal ini mengisyaratkan bahwa ujian yang telah diberikan Allah itu adalah besar, berat, dan banyak. Sekalipun demikian beliau telah melaksanakan tugas dan beban itu dengan sebaik-baiknya yang membawanya ke tempat kedudukan yang sempurna.

Menghidupkan Spirit Ibrahim dalam Diri

Nabi Ibrahim mendapatkan posisi istimewa di sisi Tuhannya. Beliau diberi anugerah oleh Alllah namun kemudian diuji. Diberi kemudahan lalu mendapatkan kesulitan yang lebih berat. Diberikan kelapangan kemudian bahkan mendapatkan kesulitan baru dalam bentuk ujian yang tampak tidak ringan. Lantas dari sini timbul pertanyaan, jika ia adalah orang baik dan dekat dengan Allah, mengapa diuji dan mengalami hal-hal yang sebegitu beratnya?

Ya, beliau-lah seorang hamba, rasul, dan ayah bernama Nabi Ibrahim yang mempunyai kebesaran jiwa dan ikhlas rela mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya untuk menjalankan ujian demi ujian dari Tuhannya. Spirit Ibrahim ini perlu kita teladani. Seperti cobaan ketika Nabi Ibrahim yang terus menerus diteror oleh pembesar-pembesar kaumnya karena sejak awal dakwahnya menyeru kepada tauhid.

Bahkan, Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup di depan kaumnya oleh penguasa zalim ketika itu, namun kemudian Allah menyelamatkannya dengan menjadikan api yang membakar Nabi Ibrahim AS itu menjadi dingin. Padahal, sifat api adalah panas (QS. Al-Anbiya [21]: 69)

Lalu ketika istrinya baru saja melahirkan setelah penantian 86 tahun, turun perintah Allah yang diluar nalar untuk menempatkan keduanya jauh di padang tandus yang belum pernah dihuni oleh siapapun. Sebab ketaatan yang begitu besar Nabi Ibrahim tak bergeming, ia tetap pergi menjauh meskipun Siti Hajar berusaha mengejarnya.

Akhirnya istrinya pun pasrah serta paham bahwa itu adalah perintah dan Allah tidak akan meninggalkan keduanya. Sehingga dari peristiwa ini terdapat hikmah luar biasa yaitu, tentang salah satu rukun dari syariat haji; shafa dan marwa. Juga Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim; lembah yang dahulu istri dan anaknya ditinggalkan di tempat tersebut, kini ramai dan bahkan menjadi tumpuan hati umat muslim sedunia. (QS. Ibrahim [14]: 37)

Baca Juga  Kajian Tafsir: Al-Quran Perlu Didekati dengan Filsafat
*** 

Tidak berhenti disitu, tatkala anaknya telah tumbuh berusia tiga belas tahun, malah justru datang perintah baru dari Allah untuk menyembelih putranya sebagai qurban. Sebab begitu cintanya Nabi Ibrahim kepada Allah, mengalahkan rasa sayangnya pada Ismail dengan ikhlas beliau melaksanakan perintah tersebut, begitupula Ismail ia tabah dan sabar bersedia menjalani ujian itu. Karena itu Allah menggantikan tubuh Ismail dengan domba yang besar. (QS. as-Saffat [37]:102)

Makna atau spirit yang patut kita petik untuk dijadikan i’tibar adalah ketaqwaan, tawakal, dan kecintaannya Nabi Ibrahim, bahkan juga menurun kepada keluarganya- terhadap Allah yang rela mengorbankan segalanya untuk Allah semata. Sebagai imbalannya Allah akan memberikan hikmah luar biasa dan balasan cinta kepada mereka yang meletakkan rasa cinta kepadaNya lebih tinggi dari rasa cinta pada apapun.

Karena itu menghadirkan spirit ‘Ibrahim’ dalam diri adalah sebentuk upaya meneladani ketulusan dan keikhlasan Nabi Ibrahim, tanpa kepentingan apapun selain meraih ridha dan cintaNya. Akhir kata, parameter mencintai Allah itu sederhana namun berat. Karena pecinta tidak akan dikatakan terbukti mencintai kalau cintanya belum diuji terlebih dahulu []

Penyunting: Bukhari