Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengenal Tafsir Al-Misbah: Keunikan dan Keistimewaannya

Al-Misbah
Gambar: Bukukita.com

Dalam penulisan karya tafsir kontemporer, Prof. M. Quraish Shihab telah menjadi pilar utama bangsa Indonesia yang amat membanggakan. Selain itu, kontribusinya patut dianggap mewakili bangsa Indonesia dalam lintas kepenulisan karya kontekstualiasasi tafsir Al-Qur’an pada kancah internasional.

Latar Belakang Kepenulisan Al-Misbah

Pengarangan kitab itu disebabkan oleh dua faktor. Pertama, di tengah tingginya minat memahami Al-Qur’an serta kurangnya rujukan tafsir berbahasa Indonesia yang komprehensif kala itu. Karenanya Prof. Quraish Shihab bermaksud menjadikan tafsirnya dapat memudahkan umat Islam Indonesia dalam memahami Al-Qur’an.

Kedua, kelirunya umat dalam memahami fungsi Al-Qur’an seperti penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai amalan-amalan semata. Kemudian salah kaprahnya kaum akademisi terhadap sistematika kepenulisan Al-Qur’an serta banyak hal ilmiah lainnya terkait Al-Qur’an.

Kitab itu mulai Prof. Quraish Shihab karang pada Jumat, 14 Rabi’ul Awwal 1420 H / 18 Juni 1999 M kala beliau menjabat sebagai Dubes RI di Mesir. Lalu selesai pada Jumat, 08 Rajab 1423 H / 05 September 2003.

Bentuk Penyajian

Kitab al-Misbah menafsirkan Al-Qur’an lengkap 30 juz yang dibagi ke dalam 15 volume. Pada setiap volumenya terdapat penafsiran satu sampai tiga juz. Volume 1-13 dicetak pada 2001 M. Kemudian volume 14-15 menyusul dicetak pada tahun 2003 yang menandakan usainya penulisan kitab tersebut.

Hal yang menjadi ciri khas dari kitab al-Misbah adalah terdapatnya pemaparan tema pokok bahasan masing-masing surat. Amat disayangkan kurangnya footnote menjadikan kitab itu menjadi nampak kurang ilmiah.

Berdasarkan data yang telah diteliti secara mandiri, Yusuf Budiana dan Sayyid Nurlie Gandara memaparkan bahwa kitab tafsir al-Misbah karya Prof. Quraish Shihab menggunakan metode tahlili serta bercorak sosial budaya dan sastra.

Terkait metode pengambilan sumber rujukannya, kitab itu cenderung mengaplikasikan metode bi al-ra’yi. Lufaefi menambahkan bahwa kitab tafsir al-Misbah juga menggunakan metode objektif modernis. Yaitu metode penafsiran yang menyesuaikan konteks zaman dan lingkungan.

Baca Juga  Memaknai Covid-19 Sesuai Kitab Wabah Karya Atsqolani (2)

Pakar tafsir yang menjadi rujukan utama Prof. Quraish Shihab adalah Ibrahim Ibn Umar al-Biqa’i. Pakar tafsir lain rujukan beliau adalah Sayyid Qutb, Sayyid Muhammad Tanthawi, Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’I, Muhammad Ibn Asyur, Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi dan masih banyak lagi.

Selain pakar tafsir, beliau juga sempat mengutip pendapat pakar fisika Perancis atau ahli bedah bernama Alexis Carrel. Kemudian orientalis Barat bernama Mac Donald. Serta filsuf Jerman bernama Schopenhauer dan Immanuel Kant.

Bukan hanya firqah asy’ariyyah dan matudiyyah, Prof. Quraish Shihab juga menjadikan kitab tafsir firqah syi’ah dan muktazilah sebagai rujukan. Hal inilah yang membuat kitab itu semakin komprehensif. Lufaefi bahkan berpendapat bahwa kitab itu merupakan karya tafsir terkomprehensif di Indonesia sampai saat ini.

Kontekstualisasi Pemahaman Al-Qur’an ala Al-Misbah

Dalam penafsirannya, Prof. Quraish Shihab amat mempertimbangkan konteks zaman dan lingkungan lokal sehingga memudahkan pembaca, khususnya kaum muslimin Indonesia untuk mengaplikasikan apa yang telah dijabarkan. Contohnya dapat kita perhatikan bersama pada tafsir beliau terhadap Q.S. Al-Furqan ayat 63.

Jika ulama pada umumnya menafsirkan ayat tersebut sebagai larangan berjalan dengan cara yang sombong seperti berjalan sembari membusungkan dada. Maka Prof. Quraish Shihab berpendapat bahwa ayat tersebut merupakan larangan melanggar rambu-rambu lalu lintas.

Menurutnya, para pengguna jalan yang tertib berlalu lintas merupakan orang-orang yang rendah hati. Sebaliknya, para pelanggar lalu lintas merupakan orang-orang yang memiliki sifat sombong dan berhati angkuh.

Contoh lain dapat kita cermati pada penafsiran beliau terhadap Q.S. Al-Baqarah ayat 179 tentang qishash. Beliau banyak mengemukakan pendapat para ulama yang mendukung pergantian sistem qishash dari hukuman mati menjadi penjara seumur hidup atau kerja paksa.

Baca Juga  Tafsir Q.S. Al-Mu’minun Ayat 27: Hikmah Peristiwa Banjir Nabi Nuh

Hal ini menandakan bahwa beliau pun setuju dengan pendapat tersebut. Prof. Quraish Shihab mengemukakan alasan pergantian sistem tersebut karena hukuman mati dapat menimbulkan dendam antar keluarga jika dilakukan pada masa kini.

Pada Q.S. Al-A’raf ayat 189, Prof. Quraish Shihab memberikan contoh kontekstualisasi lagi ketika menjabarkan tentang kesetaraan gender. Secara tersirat beliau memaparkan bahwa sistem patriarki sudah tidak relevan pada masa kini.

Walaupun ayat tersebut seakan-akan menjelaskan bahwa perempuan terbuat dari tulang rusuk laki-laki, bukan berarti laki-laki lebih mulia. Prof. Quraish Shihab menjabarkan bahwa ayat tersebut berkorelasi dengan Q.S. Al-Hujurat ayat 13. Ayat tersebut menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan setara.

Hal ini mengindikasikan bahwa pada Q.S. Al-Baqarah ayat 179, Allah hanya menjelaskan terdapatnya perbedaan laki-laki dan perempuan dalam ranah biologi semata, bukan dalam interaksi sosial. Di hadapan masyarakat sosial, perempuan harus memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Penafsiran tentang Musyawarah

Contoh keempat terdapat dalam penafsiran Q.S. Ali Imran ayat 159 terkait musyawarah. Prof. Quraish Shihab menekankan kesadaran bahwa setiap manusia pada masa kini telah hidup dalam kemerdekaan yang penuh.

Oleh karena itu, setiap keputusan yang berdampak terhadap banyak orang harus diputuskan dalam musyawarah. Tidak boleh ada monopoli dalam hal tersebut. Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk berpendapat menurut Prof. Quraish Shihab.

Pembahasan terkait jilbab menjadi contoh terakhir dari kontekstualisasi penafsiran Al-Qur’an oleh Prof. Quraish Shihab. Dalam penafsirannya, beliau mencantumkan banyak pendapat ulama terkait bagian tubuh perempuan yang harus ditutupi.

Berselisihnya para ulama, membuat Prof. Quraish Shihab menyimpulkan bahwa perbedaan tersebut disebabkan perbedaan budaya tempat tinggal mereka. Menurutnya, cadar adalah budaya, bukanlah kewajiban. Dikarenakan kebaya adalah budaya masyarakat Indonesia, maka memakai kebaya dianggap telah cukup.   

Baca Juga  Nalar Epistemik Tafsir Indonesia: Dialektika Teks dan Realitas

Beragamnya sumber yang dipakai oleh Prof. Quraish Shihab menjadikan buah karyanya amat komprehensif. Beragamnya rujukan juga menjadikan penafsirannya tidak kaku dan sesuai dengan kultur budaya tempat beliau berasal.

Permasalahan yang diangkat merupakan permasalahan yang dekat dengan masyarakat. Sehingga memudahkan untuk mempraktikkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari secara langsung. Tidaklah berlebihan jika kita beranggapan bahwa kitab itu merupakan magnum opus bangsa Indonesia. Wallahu A’lam.

Penyunting: Bukhari

Muhamad Farhan Subhi
Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakartadan Mahasantri Darus-Sunnah International Intitute for Hadith Sciences