Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengenal Tafsir Al-Iklil Al-Tanzil Karya Misbah Mustafa

tafsir
Sumber: https://www.facebook.com/turatsulamanusantara

K.H Mishbah bin Zainal Mushthafa atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama KH Misbah Mushthafa merupakan seorang kiai di Pondok Pesantren al-Balagh yang berada di Desa Bangilan, Tuban, Jawa Timur. Kiai Mishbah Mushthafa dilahirkan di Pesisir Utara Jawa Tengah, di kampung Sawahan, Gang Palem, Rembang tahun 1917.

Beliau lahir dari pasangan keluarga Zaenal Mustafa dan Khadijah. Ayahnya dikenal masyarakat sebagai seseorang yang taat beragama, di samping sebagai pedagang batik yang sukses. Mishbah memiliki beberapa saudara dari beberapa perkawinan ayahnya, yakni Zuhdi, Maskanah, dan Bisri. Nama kecil KH Mishbah Mushthafa adalah Masruh. Nama Mishbah Mushthafa sendiri digunakan setelah beliau menunaikan ibadah haji.

Latar Belakang Penulisan

Kitab Al-Iklil Al-Tanzil ditulis dengan menggunakan Bahasa Jawa karena memang ditujukan khusus untuk orang yang menggunakan bahasa Jawa baik, yang ada di sekitar daerahnya maupun di tempat lain. Penggunaan Bahasa Jawa dalam tafsir al-Iklīl ini akan memudahkan orang-orang untuk memahami dan mencerna makna yang terkandung di dalam al-Qur’an.

Selain itu penulisan kitab al-Iklīl ini dilakukan karena Kiai Mishbah menyaksikan kehidupan masyarakat di sekelilingnya, yang menurutnya, tidak mementingkan keseimbangan kepentingan dunia maupun akhirat. Banyak orang yang hanya mementingkan kehidupan duniawi saja dan mengesampingkan kehidupan akhirat. Dengan hadimya al-Iklīl diharapkan al-Quran akan benar-benar menjadi gemblengan bagi kaum muslimin supaya mereka mempunyai pribadi kokoh, tidak mudah goyah karena pengaruh lingkungan.

Nama al-Iklīl Fī Ma‘ānī al-Tanzīl diberikan sendiri oleh KH Mishbah. Al-Iklīl berarti “mahkota” yang dalam Bahasa Jawa dinamakan “kuluk” atau “tutup kepala seorang raja”. KH Mishbah berharap dengan memberikan nama al-Iklīl bagi kitabnya agar Allah swt memberi kemudahan kepada umat Islam dan al-Quran dijadikan sebagai pelindung hidup dengan naungan ilmu dan amal sehingga akan dapat membawa ketenteraman di dunia dan akhirat. Kiai Mishbah juga memiliki keinginan untuk mengajak umat Islam kembali kepada al-Quran.

Baca Juga  Abdullah Saeed dan Tafsir Konstekstualnya

Metodologi dan Corak Tafsir

Dalam menafsirkan al-Qur’an, Kiai Mishbah seringkali mengangkat persoalan persoalan yang berkembang di masyarakat. Dalam kaitan ini, melalui tafsirnya tersebut, Kiai Mishbah seringkali memberikan respon atas situasi dan kondisi sosial yang terjadi saat tafsir ini ditulis. Kasus-kasus seperti MTQ dan berbagai tradisi yang terjadi di masyarakat adalah di antara kasus-kasus yang mendapatkan perhatian dari Kiai Mishbah dalam tafsir al-Iklīl Fī Ma‘ānī al-Tanzīl.

Secara umum bisa dikatakan, bahwa tafsir al-Iklīl Fī Ma‘ānī al-Tanzīl yang ditulis oleh KH Mishbah bin Zainal Mushthafa ini merupakan kitab tafsir yang memiliki nuansa lokalitas cukup kuat. Bukan hanya dari penampilannya yang menggunakan bahasa Jawa dan Arab pégon yang merupakan model karya ilmiah khas pesantren di Indonesia, namun juga dalam penafsiran yang dilakukan pun memberikan perhatian kepada berbagai aspek lokalitas yang berkembang dalam masyarakat, khususnya di Jawa, baik untuk dikritik maupun direspon dengan cara yang lain.

Dalam kitab tafsir ini memiliki ciri khas yaitu Kiai Misbah membagi penjelasan dalam tasfir ini menjadi 2 bagian yaitu penjelasan secara global dengan adanya garis tipis mendatar dan penjelasan secara rinci dengan adanya garis yang tebal. Kitab tafsir ini ditulis oleh Kiai Misbah secara berkelanjutan dari juz 1 sampe juz 29 dengan total 4482. Akan tetapi, penulisan tafsir untuk juz 30 dimulai dengan halaman 1 sampai 192 dan diberi nama Tafsir Ju’amma Fii Ma’ani Al-Tanzil. Dalam menulis tafsir ini, Kiai Misbah banyak menyinggung dan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan yang berkembang pada waktu itu.

Dalam memberikan penjelasan pada suatu ayat, Kiai Misbah membaginya menjadi 2 bagian yaitu penjelasan secara umum yang ditandai dengan garis tipis mendatar dan penjelasan secara merinci ditandai dengan garis tebal. Apabila kyai Misbah selesai dalam menerjemahkan secara umum, kemudian beliau menjelaskan dan menerangkan ayat demi ayat dari makna kosakata, makna kalimat, munasabah ayat, asbabun nuzul, riwayat-riwayat dari Sahabat, tabi’in dan ulama-ulama lainnya. 

Baca Juga  Tafsir Q.S. Surah Al-Baqarah Ayat 214: Integrasi Derita dan Pertolongan Allah

Contoh Penafsiran

Dalam penafsiran beliau terhadap surat al-Fatihah ayat pertama, dan sejauh keterjangkauan penulis dalam mencari sumber-sumber penafsiran beliau, tampak beliau mengutip atau mengambil dari tafsir Jalalain sebagai penguat analisis beliau terhadap penafsirannya, yaitu ketika beliau menafsirkan bahwa: “Surat Fatihah iki surat kang temurun marang kanjeng Nabi Muhammad naliko kanjeng nabi ono ing makkah, ayate ono pitu” hal tersebut tampak pada tafsir jalalain, yang berbunyi “Turun di Makkah terdiri dari tujuh ayat” dalam pengutipan tersebut, tampak bahwa beliau mengembangkan dan memperluas penjelasan dari tafsir Jalalain di dalam tafsir beliau dengan menambahi diturunkan kepada Nabi Muhammad. Dan ini sejalan dengan salah satu prinsip intertekstual Julia Kristeva yaitu Ekspansi.

Selain itu, dalam penafsiran beliau di awal surat Al-Fatihah berikut ini: “Surat Fatihah ugo diarani ummul Qur’an lan surat hamdu lan as-sab’i al-Matsanni”.

Keterangan tersebut berdasarkan keterjangkauan penulis terdapat juga pada tafsir AlBaidhawi berikut redaksinya:

  والسبعالوثانيلانهاسبعاياتبالاجف,وجسويالامالقراىلانهاهفححةهْودبهو

Dalam pengutipannya, tampak ada yang dihilangkan/ dikurangi dari teks hypogramnya yaitu: {karena ia merupakan pembuka dan memulainya}, serta {karena fatihah terdiri dari tujuh ayat berdasarkan kesepakatan}. Model pengutipan yang demikian, dalam prinsip intertekstual kristeva beliau menggunakan haplogi.

Lebih lanjut lagi, dalam menafsirkan surat Al-Fatihah ayat ketiga, sebagai berikut:

“Diceritaake sangking sahabat abu hurairah r.a kanjeng Rasul iku dawuh: “Artine: umpomone wong mukmin iku weruh sikso kang ono ing ngersane Allah, yekti ora ono wong kang kepingin melebu suwargane Allah, (diparingi biso selamet ikut bahe wes merem), lan umpamane wong kafir iku weruh rohmat kang ono ing ngersane Allah, yekti ora bakal ono wong luwas songko suwargane Allah.”

Di dalam penjelsan beliau terhadap ayat ketiga tersebut, di dalamnya beliau mencantumkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dengan mencantumkan teks hadisnya dan menerjemahkan artinya ke dalam bahasa jawa, hal tersebut sejalan dengan prinsip transformasi dalam intertekstual kristeva, yang mana berdasarkan keterjangkauan penulis dalam mencari sumbernya maka penjelasan tersebut juga terdapat pada tafsir Al-Qurtubi “al-Jami’ Fi Ahkam al-Qur’an”.

Editor: An-Najmi Fikri R

Baca Juga  Mengenal Jamaluddin Al-Qasimi: Mufasir Arsitek Kitab Mahasin at-Ta'wil