Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengenal Syar’u Man Qablana: Syariat Umat Terdahulu

Sumber: istockphoto.com

Syar’u man qablana atau syariat umat terdahulu yaitu hukum-hukum Allah yang disyariatkan kepada umat terdahulu melalui nabi-nabi mereka. Seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud, dan Nabi Isa as. Ringkasnya, syar’u man qablana merupakan syariat para nabi sebelum nabi Muhammad saw dan berlaku pada umat mereka di masa itu.

Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap nabi membawa syariatnya tersendiri,  hal ini sebagaimana firman Allah swt dalam surah al-Maidah ayat 48,

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya; yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Syariat di Setiap Nabi

Menurut menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, yang dimaksud  ” لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا” yaitu setiap masing-masing umat terdahulu telah Allah tetapkan syariat dan manhaj yang khusus berlaku masa mereka. Hanya saja khusus Nabi Muhammad saw syariatnya berlaku sepanjang masa, karena tidak ada nabi dan rasul setelahnya. Sedangkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan tentang syariat itu berbeda-beda antara satu umat dengan umat lainnya. Terutama dalam masalah perintah dan larangan (masalah hukum); adakalanya sesuatu hal dalam suatu syariat diharamkan.

Tetapi dalam syariat yang lain kemudian dihalalkan atau kebalikannya. Selain itu ada pula dalam suatu syariat diringankan, sedangkan dalam syariat yang lain diperberat. Semua itu tiada lain sebagai bentuk kemahabijaksanaan Allah swt.

Baca Juga  Menganalisis Makna Thaghut dengan Perspektikf Semantik Al-Qur'an

Sedangkan menurut Syaikh Wahbah Az Zuhaili, ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt menjadikan syariat tersendiri yang dibawa oleh masing-masing nabi untuk umatnya. Tentu setiap syariat yang dibawa oleh nabi yang berbeda akan menghapus syariat nabi sebelumnya. Kecuali ada ketentuan khusus yang menjadikan syariat terdahulu sebagai bagian dari syariat umat nabi setelahnya (Wahbah az-Zuhaili, al-Wajîz fî Ushûlil Fiqh, hlm. 102-104).

***

Contoh syar’u man qablana yang berlaku untuk umat nabi Muhammad yaitu pensyariatan puasa bagi umat Nabi Muhammad ﷺ yang termaktub dalam Quran Surah Al Baqarah ayat 183:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Sedangkan contoh syar’u man qablana yang berbeda dengan umat nabi Muhammad saw adalah cara bertaubatnya umat nabi  musa as yang dijelasakan dalam Qur’an Surah Al Baqarah ayat 54:

 وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ يَٰقَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِٱتِّخَاذِكُمُ ٱلْعِجْلَ فَتُوبُوٓا۟ إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَٱقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Bedasarkan ayat di atas, cara bertaubat umat nabi Musa as yaitu membunuh diri sendiri. Berbeda dengan cara taubat umat Nabi Muhammad saw. Cukup dengan memohon ampun saja sebagaimana firman Allah swt dalam surah Surah An Nisa ayat 110:

وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Macam-macam Syar’u Man Qablana

Para ulama mengklasifikasikannya menjadi 3 bagian: pertama, syar’u man qablana yang dijelaskan dalam Alquran maupun hadis kemudian berlaku untuk umat Nabi Muhammad saw. Contohnya seperti syariat puasa, shalat, dan zakat, sebagaimana disinggung dalam firman Allah swt berikut,

Baca Juga  Mengapa Kita Harus Memilih Islam Wasathiyyah?

وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ نَافِلَةً ۗوَكُلًّا جَعَلْنَا صٰلِحِيْنَ وَجَعَلْنٰهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءَ الزَّكٰوةِۚ وَكَانُوْا لَنَا عٰبِدِيْنَ ۙ

Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepada-Nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami; dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”. (Alanbiya’ [21]: 71-73).

Kedua, syar’u man qablana yang terdapat dalam Alquran tetapi tidak berlaku untuk umat Nabi Muhammad saw. Contohnya seperti cara bertaubat umat nabi Musa yang telah dipaparkan di atas. Contoh lainnya adalah makanan yang diharamkan kepada orang yahudi tapi tidak berlaku keharamannya bagi umat nabi Muhammad saw sebagaimana firman Allah swt berikut,

وَعَلَى الَّذِيْنَ هَادُوْا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِيْ ظُفُرٍۚ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُوْمَهُمَآ اِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُوْرُهُمَآ اَوِ الْحَوَايَآ اَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍۗ ذٰلِكَ جَزَيْنٰهُمْ بِبَغْيِهِمْۚ وَاِنَّا لَصٰدِقُوْنَ

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu; selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan Sesungguhnya Kami adalah Maha benar.” (Alan’am [6] : 146)

***

Adapun yang diharamkan untuk umat nabi Muhammad saw sebagaimana dipaparkan dalam surah al-An’am ayat 145.

قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَاِنَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya; kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi – karena semua itu kotor – atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa bukan karena menginginkan dan tidak melebihi (batas darurat) maka sungguh, Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Baca Juga  Dahsyatnya Sebuah Amalan Bernama “Sedekah”

Ketiga, syar’u man qablana yang disebutkan dalam Alquran tetapi tidak dinyatakan secara jelas berlaku untuk umat Nabi Muhammad Saw. atau sudah dinasakh. Contohnya seperti hukum ju’alah yaitu janji untuk memberi imbalan. Terkait dengan hukum tersebut ulama berselisih pendapat terkait berlakunya kepada umat Nabi Muhammad saw. Allah swt berfirman,

قَالُوْا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاۤءَ بِهٖ حِمْلُ بَعِيْرٍ وَّاَنَا۠ بِهٖ زَعِيْمٌ

Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala Raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya”. (QS . Yusuf [12]: 72).

Penutup

Demikian pembahasan mengenai syar’u man qablana. Akan tetapi, berbicara sumber rujukan yang pasti dalam Islam adalah tetap kembali kepada Al-Quran, as-Sunah, dan ijtihad. Karena syar’u man qablana pada hakikatnya telah dibatalkan, meskipun masih ada beberapa hukum yang tetap diberlakukan di umat Islam. Ma’ruf Amin memaparkan bahwa para ulama ushul fiqh sepakat menyatakan bahwa seluruh syari’at yang diturunkan Allah; sebelum Islam melalui para rasul-Nya telah dibatalkan secara umum oleh syari’at Islam.

Mereka juga sepakat mengatakan bahwa pembatalan syari’at-syari’at sebelum Islam itu tidak secara menyeluruh dan rinci. Karena masih banyak hukum-hukum syari’at sebelum Islam yang masih berlaku dalam syari’at Islam (Ma’ruf Amin dalam Fatwa Dalam Sistem Hukum Islam, hlm. 223).

Imam Yazid (2014)  dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Teori Syar’u Man Qablana”, menegaskan bahwa pemberlakuan hukum untuk umat Nabi Muhammad. Bukan karena ia adalah syara’ sebelum umat Islam yang harus berlaku untuk umat Islam. Tetapi karena kewajiban tersebut ditetapkan pemberlakuannya untuk umat nabi Muhammad saw dalam Alquran atau Hadis Nabi. Artinya, syariat sebelum Islam yang tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah tidak menjadi syariat bagi Rasulullah saw dan umatnya kecuali yang dinyatakan dalam Alquran dan Sunnah yang menjadikan kaidah tersendiri dalam perumusan hukum Islam.

Wallah a’lam.

Editor: An-Najmi