Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengenal Penafsiran Berbasis Ma’na cum Maghza

perang

Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai “hudan” (petunjuk) dan sebagai kitab yang diturunkan untuk menuntun manusia dari kegelapan menuju terang benderang (QS 14:1). Kehadiran Al-Qur’an di tengah-tengah umat Islam ditambah rasa ingin tahu mereka tentang isi Al-Qur’an dan berbagai mukjizatnya, telah melahirkan sekian banyak disiplin ilmu keislaman dan berbagai metode penelitian. Ini dimulai dengan disusunnya kaidah-kaidah ilmu nahwu oleh Abu al-Aswad ad-Dauli (w.661 M), sampai dengan lahirnya ilmu ushul fikih oleh Imam Asy-Syafi’i (767-820 M) (Shihab, 2013:232). Semangat umat muslim untuk mengkaji Al-Qur’an terus berlanjut sampai hari ini

Para ulama sepakat bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang kebenarannya berlaku sepanjang masa (solih likulli zaman wa makan). Sebagai kitab petunjuk sepanjang zaman, al-Qur’an harus senantiasa ditafsirkan ulang. Atas dasar ini maka sarjana muslim kontemporer menggunakan hermeneutika sebagai metode untuk menafsirkan Al-Qur’an.

Namun, penggunaan hermeneutika sebagai metode untuk menafsirkan Al-Qur’an masih menuai pro dan kontra dari para sarjana muslim. Sebagian menerima hermeneutika secara totalitas, sebagian lainnya menolak hermeneutika ‘mati-matian’, dan sebagiannya lagi berada ditengah-tengah keduanya.

Sarjana muslim Indonesiapun tidak luput dari perdebatan ini. Salah satu sarjana muslim Indonesia yang sangat keras menyuarakan penolakannya terhadap hermeneutika adalah Adian Husaini. Banyak karya tulisnya, baik buku maupun jurnal ilmiah yang beliau tulis dalam rangka menolak hermeneutika.

Namun, tidak semua sarjana muslim Indonesia menolak hermeneutika. Sebagian ada yang bersikap moderat (menerima dengan menyeleksi terlebih dahulu). Di antara mereka yang bersikap moderat adalah Sahiron Syamsuddin. Dari sikap moderatnya itu, Sahiron kemudian menawarkan sebuah metode penafsiran  berbasis “ma’na cum maghza”. Tulisan ini bermaksud memaparkan model penafsiran yang digagas oleh Sahiron Syamsuddin tersebut.

Baca Juga  Arif Menyikapi Perbedaan

Profil Singkat Sahiron Syamsuddin

Sahiron Syamsudin, lahir di Cirebon , 5 Juni 1968.  Beliau menempuh S1 di IAIN Sunan Kalijaga (UIN saat ini) tahun 1987-1993, kemudian beliau melanjutkan S2 di Mc Gill University, Kanada tahun 1996-1998, dan menempuh studi doktoralnya di Otto-Friedrich University of Bamberg, Jerman tahun 2001-2006. Di tahun 2010 beliau menempuh program post-doktoral di University of Frankfurt am Main.

Beliau pernah menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga menggantikan Yudian Wahyudi yang diangkat menjadi BPIP-RI. Ada banyak sekali karya-karyanya, baik berupa buku maupun jurnal, di antaranya: Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Pesantren Nawasea Press, 2017); Hermeneutika Al-Qur’an, (Yogyakarta: Islamika, 2003); Hermeneutika Mazhab Yogya (Yogyakarta; Islamika, 2003); Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadis, (Yogyakarta: Elsaq Press, 2010), Studi Al-Qur’an: Metode dan Konsep, (Yogyakarta: Elsaq, 2010) dan masih banyak lagi.

Mengenal Hermeneutika

Secara etimologis, hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, yaitu hermeneuein, yang berarti “menjelaskan” (to explain) (Syamsuddin, 2017:13). Pada mitologi Yunani kuno, kata hermeneutika merupakan derivasi dari kata Hermes, yaitu seorang dewa yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan (message) dari Sang Dewa kepada manusia.

Menurut versi mitos lain, Hermes adalah seorang utusan yang memiliki tugas menafsirkan kehendak dewata dengan bantuan kata-kata manusia. Pengertian dari mitologi ini kerapkali dapat menjelaskan pengertian hermeneutika teks-teks kitab suci, yaitu menafsirkan kehendak Tuhan sebagaimana terkandung di dalam ayat-ayat kitab suci (Faiz, 2003:50).

Dengan demikian, hermeneutika pada dasarnya adalah suatu metode atau cara untuk menafsirkan simbol yang berupa teks atau sesuatu yang diperlakukan sebagai teks. Kemudian dicari arti dan maknanya. Di mana metode hermeneutik ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian diaktualisasikan ke masa sekarang (Sudarto, 1996:85).

Baca Juga  Ciri Khas Penafsiran Gus Baha’

Penafsiran Berbasis Ma’na Cum Maghza

Pendekatan ma’na cum maghza atau sering disingkat “McM”, adalah teori yang digagas oleh Sahiron Syamsuddin. Gagasan teori ini tentunya lahir dari sikapnya yang ingin menengahi perdebatan pro-kontra penggunaan hermeneutika sebagai metode untuk menafsirkan Al-Qur’an.

Pada hakikatnya, teori ma’na cum magza bukanlah sebuah teori baru dalam diskursus hermeneutika (metode penafsiran). Teori ma’na cum magza diaplikasikan dengan cara memberi perhatian yang sama terhadap makna asal literal (al-ma’na al-aṣli) dan pesan utama (signifikansi; al-magza) di balik makna literal.

Teori ma’na-cum-magza ini adalah upaya pengembangan metode penafsiran yang diinisiasi dari salah satu teori hermeneutika Gadamer yaitu teori application (anwendung). Konsep yang sama dikemukakan oleh Hirch dengan menggunakan istilah meaning (arti/makna) dan significance (signifikansi). Ia membedakan antara makna dan signifikansi.

Semua teori interpretasi di atas mengidealkan bahwa dalam menafsirkan (teks) perlu dilakukan dengan memperhatikan konteks tekstual melalui analisa bahasa sebagai pijakan awalnya, dan konteks sejarah teks itu muncul melalui analisa historis, kemudian digali pesan utamanya (signifikansi) untuk dikontekstualisasikan sesuai semangat zaman, tempat, dan waktu teks itu ditafsirkan.

Perbedaan Ma’na cum Maghza dengan Teori Lain

Akan tetapi menurut Sahiron Syamsuddin, dari sekian teori di atas tidak ada yang menjelaskan “signifikansi” (maghza) secara detail. Maka dari itu di dalam teorinya “ma’na cum maghza”, Sahiron Syamsuddin menjelaskan secara detail tentang “maghza”. Menurutnya, ada dua macam signifikansi; pertama, signifikansi fenomenal, yaitu pesan utama yang dipahami dan diaplikasikan secara kontekstual dan dinamis mulai pada masa nabi hingga saat ayat ditafsirkan dalam periode tertentu.

Kemudian, signifikansi fenomenal ini dibagi menjadi dua: (1) signifikansi fenomenal historis, yaitu makna sebuah ayat atau kumpulan ayat yang dipahami dan diaplikasikan pada masa pewahyuan; (2) signifikansi fenomenal dinamis, yaitu pesan Al-Quran yang dipahami dan didefinisikan pada saat ayat atau kumpulan ayat tertentu ditafsirkan. Setelah itu diaplikasikan dalam kehidupan. Kedua, signifikansi ideal, yaitu akumulasi ideal dari pemahaman-pemahaman terhadap signifikansi ayat. Akumulasi pemahaman ini akan diketahui pada akhir/tujuan peradaban manusia yang dikehendaki oleh Allah Swt (Syamsuddin, 2017:140-141).

Baca Juga  Mengenal Tafsir Sufistik: Sejarah dan Perkembangannya

Jadi, secara garis besar, ma’na cum maghza dapat dipahami sebagai sebuah metode penafsiran dengan terlebih dahulu menggali ma’na at-tarikhi (makna yang dipahami pada saat Al-Qur’an diturunkan) dan maghza at-tarikhi (pesan utama ayat pada saat Al-Qur’an diturunkan) kemudian mengembangkan maghza at-tarikhi menajadi al-maghza al-mutaharrik al mu’asir (signifikansinya pada masa kini).

Penyunting: M. Bukhari Muslim