Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengenal Mufassir Fakhruddin Al-Razi dan Kitab Tafsirnya (1)

ar-razi
Sumber: https://www.galerikitabkuning.com/

Penulis tafsir mafatikhu al-ghaib mempunyai nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin al-Husain bin al-Hasan bin Ali al-Tamimi al-Bakri al-Thabaristani al-Razi. Jika silsilahnya di runtut ke atas beliau termasuk keturunan dari Abu Bakar al-Sidiq, sebagaimana informasi yang tertera pada kitab Thabaqat Mufassirin karya Imam Suyuti, tempat lahirnya adalah Kota Ray (Thabaristan yang sekarang berada di wilayah negara Iran) pada tanggal 25 Ramadhan 544 H /26 Januari 1150 M. Selain terkenal dengan julukan Fakhruddin beliau juga memiliki julukan Ibnu Khatib asy-Syafi’i dan juga Sultanul Mutakalimin(sultan para ulama kalam).

Kelahiran Al-Razi

Kota kelahiran al-Razi yaitu kota Ray adalah kota yang banyak melahirkan ulama yang biasanya ulama kelahiran kota ini akan diberi julukan al-Razi sebagai nama belakang sebagai mana lazimnya pada masa itu, diantara ulama yang diberi julukan al-Razi yaitu Abu Bakar bin Muhammad bin Zakariya, seorang filsuf dan dokter kenamaan pada abad ke IV H/X M.

Beberapa sumber lain mengatakan bahwa beliau dilahirkan pada tahun 543 H/1149 M. Di antara versi yang paling kuat adalah ia dilahirkan pada tahun 543 H. Akan tetapi pendapat ini lemah jika dibandingkan dengan tulisan al-Razi sendiri pada tafsir surat Yusuf, bahwa ia telah mencapai umur 57 tahun dan di akhir suarat ia menyebutkan bahwa tafsirnya selesai pada bulan sya’ban tahun 601 H. Jika dikurangi usia beliau saat usia 57, maka kelahiran al-Razi adalah tahun 544 H/1150 M.

Al-Razi menikah di Ray dengan salah satu anak seorang dokter ahli yang memiliki kekayaan melimpah. Sejak pernikahannya terjadi, ia menjadi orang yang berkecukupan dalam hal ekonomi. Dari pernikahan ini al-Razi dikaruniai tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ketiga anak laki-lakinya bernama Dhiya’ al-Din, Syams al-Din dan Muhammad meninggal pada saat al-Razi masih hidup dan membuatnya sangat sedih. Bahkan al-Razi mengungkapkan kesedihannya dengan menyebut nama Muhammad berkali-kali dalam tafsir surat Yunus, Hud, al-Ra’d dan Ibrahim.

Baca Juga  Al-Zamakhsyari: Antara Tafsir al-Kasyaf dan Paham Muktazilah

Salah satu anak perempuan beliau dinikahkan dengan ‘Ala’ al-Mulk, seorang menteri sultan Khawarazmshah Jalal al-Din Taksh bin Muhammad bin Takhs yang terkenal dengan julukan Minkabari. Sedangkan anak perempuan lainnya hanya disebut dalam riwayat pada saat pasukan Mongol menyerang kediaman al-Razi. ‘Ala’ al-Mulk meminta suatu permohonan kepada mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan dan kemudian dikabulkan. Dan ketika permohonan tersebut dibacakan, anak perempuan ini termasuk di dalamnya.

Al-Razi meninggal di kota Herat, Afganistan, pada usia 60 tahun. Tepatnya pada hari senin tanggal 1 syawal 606 H/1209 M. Dalam potret sejarah memaparkan bahwa beliau meninggal ketika berselisih pendapat dengan kelompok al-Karamiyah tentang urusan akidah. Mereka sampai mengkafirkan Fakhr al-Din al-Razi, kemudian dengan kelicikan dan tipu muslihat, mereka meracuninya sehingga mengakibatkan beliau meninggal dunia.

Ulama yang Unggul dalam Berbagai Bidang Keilmuan

Al-Razi dimakamkan di gunung musaqib desa Muzdakhan tidak jauh dari Herat. Sebelum meninggal beliau meninggalkan wasiat yang dicatat oleh muridnya Ibrahim al-Asfihani, wasiatnya berisi tentang pengakuaannya bahwa ia telah banyak menulis dalam berbagai macam ilmu tanpa memperhatikan mana yang berguna dan mana yang tidak. Dalam wasiatnya ia menyatakan ketidakpuasannya terhadap filsafat dan ilmu kalam(teologi), ia lebih menyukai metode al-Quran dalam mencari kebenaran. Ia juga menasihati untuk tidak melakukan perenungan-perenungan filosofis terhadap problem-problem yang tak terpecahkan.

Pada masanya tidak ada yang menyamai keilmuan Fakhr al-Din al-Razi, ia seorang mutakallimin pada zamannya, ia ahli bahasa, Imam Tafsir dan sangat unggul dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sehingga banyak orang yang berdatangan dari penjuru Negri untuk meneguk sebagian dari keluasan ilmu beliau. Salah satu faktor yang menyebabkan banyak orang dari luar berdatangan untuk berguru kepada beliau adalah karena beliau juga seorang ahli bahasa asing yang fasih dalam menerangkan beberapa disiplin ilmu baik bahasa Arab maupun non Arab.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 36-38: Diturunkannya Manusia ke Bumi (2)

Editor: An-Najmi Fikri R