Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengenal Buya HAMKA: Mufassir Kenamaan Asal Indonesia

ma'ruf munkar

Begitu banyak buku tafsir yang dapat kita jumpai sekarang ini namun tafsir yang bernuansa Indonesia dan ditulis oleh para ulama Indonesia masih terbilang sedikit. Dalam deret yang tak terlalu panjang, ada di antaranya yakni Tafsir Al-Azhar. Tafsir yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lengkap 30 juz.

Buya HAMKA, begitulah orang mengenalnya. Tulisannya selalu menggetarkan jiwa dengan menggunakan kata-kata yang indah serta pengaruh-pengaruhnya yang begitu besar bagi bangsa Indonesia. Hingga dinobatkan sebagai salah satu pahlawan yang berjasa pada tahun 2011. Siapa yang tak mengenalnya? Namanya banyak disebut di mana-mana. Namanya menjadi nama salah satu universitas Islam milik Muhammadiyah di Jakarta yakni UHAMKA.

Untuk lebih mengenalnya, tulisan ini akan mengulasnya.

Profil Buya HAMKA

Haji Abdul Malik Karim Amrulloh atau biasa disebut dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya. Lahir di Desa Kampong Molek, Maninjau, Sumatra Barat, 17 Februari 1908. Terlahir dari pasangan Haji Abdul Karim Amrullah yang termasuk keturunan Abdul Arif gelar Tuanku Pauh Pariaman Nan Tuo. Salah seorang pahlawan paderi yang juga dikenal Haji Abdul Ahmad dan Shafiyah Tanjung, sebuah keluarga yang taat beragama.

HAMKA dilahirkan pada masa awal gerakan kaum muda. Ayahnya adalah seorang ulama besar dan pembawa paham-paham pembaharuan Islam di Minangkabau. Sejak kecil, HAMKA menerima dasar-dasar agama dari ayahnya. Pada usia 7 tahun ia dimasukkan ke sekolah desa dan malamnya belajar mengaji dengan ayahnya. Pelajaran yang ditekuni oleh HAMKA meliputi nahwu, sharaf, mantiq, bayan, fikih dan yang sejenisnya dengan menggunakan system hafalan.

Sejak tahun 1916 sampai 1923, ia belajar agama pada Tuanku Mudo Abdul Hamid, dan Zainuddin Labay, dan sekolah Diniyah School di Padang Panjang dan Sumatera Thawalib di Parabek.

Menarik untuk mengetahui asal penyebutan nama HAMKA, nama aslinya adalah Abdul Malik Karim Amrullah. Pada tahun 1927 ia menunaikan haji ke Makkah. Sepulangnya dari haji namanya mendapatkan tambahan “Haji” sehingga menjadi Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang kemudian untuk memudahkan panggilannya disingkatlah namanya menjadi HAMKA.

Perjalanan Intelektual

Perjalanan intelektual HAMKA dimulai dengan pendidikan membaca al-Qur’an di kampung halaman
bersama orang tuanya. Dalam waktu bersamaan ia masuk sekolah desa selama 3 tahun (pagi hari) dan sekolah Agama Diniyyah (petang hari) yang didirikan oleh Zainuddin Labai al-Yunusi di Padang panjang dan Parabek (Bukit Tinggi) selama 3 tahun. Pada malam harinya HAMKA bersama teman-temannya pergi ke surau untuk mengaji.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 66: Yang Dikutuk Menjadi Monyet

Begitulah putaran kegiatan sehari-hari HAMKA dalam usia kanak-kanaknya. Rutinitas kegiatan HAMKA seperti itu setiap hari membuatnya jenuh dan merasa terkekang ditambah sikap ayahnya yang otoriter. Kondisi demikian itu membuat prilaku HAMKA menyimpang, sampai-sampai ia dikenal sebagai seorang anak yang nakal. Kondisi tersebut dibenarkan oleh A.R. Sultan Mansur, seorang yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan pribadi HAMKA sebagai seorang muballigh.

Semenjak kecil sebenarnya meskipun ia dikenal sebagai anak nakal, HAMKA adalah seorang yang cerdas, ia berbakat dalam bidang bahasa. Tidak heran sejak kecil ia mampu membaca berbagai literatur dalam bahasa Arab, termasuk berbagai terjemahan dari tulisan-tulisan Barat. Sejak masih muda HAMKA dikenal sebagai seorang pengelana, sehingga ayahnya memberikan gelar padanya Si Bujang Jauh.

Pada tahun 1924, ia berencana pergi ke Jawa dalam usia 16 tahun. Tapi sayang kepergian HAMKA ke tanah Jawa tidak kesampaian karena HAMKA terkena wabah cacar di daerah Bengkulen. Kondisi tersebut membuat HAMKA harus terbaring di tempat pembaringan selama dua bulan, setelah sembuh ia tidak melanjutkan perjalanannya malahan ia kembali ke Padang Panjang dengan wajah penuh bekas luka cacar.

Berkarir di Muhammadiyah

Kegagalan HAMKA untuk pergi ke Jawa tidak membuat surut niatnya. Setahun kemudian HAMKA dengan tidak bisa tercegah mewujudkan keinginannya untuk pergi ke Jawa. Perjalanan kedua ini ternyata berhasil dan HAMKA pun sampai di Jawa. Perjalanan intelektual HAMKA ketika di Jawa dimulai dari daerah Yogjakarta, kota di mana organisasi Muhamadiyah lahir. Lewat pamannya Ja’far Amrullah, HAMKA mulai belajar keorganisasian dan mengikuti kursus-kursus yang diadakan oleh Muhamadiyah dan Sarikat Islam (SI).

HAMKA juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bid’ah, tarekat, dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang.

Pada tahun 1929, HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.

Pada tahun 1953, HAMKA juga dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. HAMKA juga pernah dilantik sebagai dosen di Universitas Islam Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam Jakarta dan Profesor Universitas Moestopo, Jakarta.

Baca Juga  Lailatul Qadar dan Pergeseran Orientasi Ibadah

Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Soekarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Belajar Secara Otodidak

HAMKA adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arab-nya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal.

Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. HAMKA juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.

Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik HAMKA sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia. Tetapi beliau kemudiannya mengundurkan diri pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia. Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam.

Sosok Multitalenta

Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Di samping Front Pertahanan Nasional yang sudah ada didirikan pula Badan Pengawal Negeri &kota (BPNK).

Pimpinan tersebut diberi nama Sekretariat yang terdiri dari lima orang yaitu HAMKA, Chatib Sulaeman, Udin, Rasuna Said dan Karim Halim. Ia menjadi anggota konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1955. Masyumi kemudian diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960.

Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, HAMKA dipenjarakan oleh presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjara, beliau mulai menulis Tafsir Al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia, dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 24: Kamu Tidak Akan Sanggup

Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan jurnalis. Sejak tahun 1920-an, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.

HAMKA pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan internasional seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar pada tahun 1958. Kemudian Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 1974. Lalu gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Penulis Produktif dengan 118 Karya

HAMKA dikenal sebagai seorang yang produktif meskipun di tengah aktivitas yang begitu padat. Hal itu tidak membuat surut tekad HAMKA untuk membuat berbagai karya tulis. Keproduktifan HAMKA bukan hanya dari segi ide atau gagasan tetapi dalam segi tulisan pun ia sangat produktif. Lebih kurang 118 buah buku dalam berbagai disiplin ilmu (tafsir, hadis, sejarah, tasawuf, politik, akhlak, sastra, dll). Hal itu belum termasuk berbagai tulisannya yang berserakan di media masa, majalah, atau makalah-makalah yang disampaikan untuk perkuliahan. Di antara karya-karya yang telah dihasilkan oleh tangannya adalah sebagai berikut:

Dalam bidang tasawuf: Tasawuf Modern, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya. Di bidang sastra: Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil dan Di Tepi Sungai Dajlah, Di Sabariyah, Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939), Merantau ke Deli (1940), Di Dalam Lembah Kehidupan (1940).

Sedangkan bidang tafsir: Tafsir Al-Azhar (30 juz), Ayat-Ayat Mi’raj. Dalam bidang sejarah: Ayahku, berisi tentang biografi orang tuanya (1949), Pembela Islam (Tarich Sayyidina Abu Bakar), Ringkasan Tarich Umat Islam, Adat Minangkabau dan Agama Islam (buku ini dilarang beredar oleh polisi) dan Sejarah Umat Islam.

HAMKA meninggal dunia pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

Editor: M. Bukhari Muslim