Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengenal Ahli Qiraat Masa Awal Menurut Imam adz-Dzahabi

Ahli Qiraat
Sumber: Istockphoto.com

Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad akan selalu terjaga sakralitas dan keotentikannya hingga akhir zaman. Hal itu sejalan dengan Q.S. al-Hijr [15] ayat 9, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” Mengapa bisa terjadi? Jawabannya adalah Allah telah membekali dan mempersiapkan hamba-hamba yang ikhlas dan bersih hatinya mulai dari sahabat, tabi’in dan orang sesudahnya hingga saat ini.

Mereka adalah orang-orang yang semangat mempelajari, menyampaikan, menulis, menghafal siang dan malam Al-Qur’an hingga sampai ke tangan kita saat ini. Mereka adalah orang yang alim dalam periwayatan, cara baca, ragam bacaan serta menguasai ilmu Al-Qur’an yang dikenal dengan istilah ahli qiraat. Menurut Imam adz-Dzahabi, setidaknya ada 18 thabaqat (tingkatan) ahli qiraat dari masa ke masa. Tingkatan yang adz-Dzahabi buat berdasarkan masa dan kapan mereka hidup. Lantas siapa ahli qiraat yang berada di ring pertama?

Pertama, Utsman bin ‘Affan bin Abu al-‘Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab al-Qurasy al-Umawi radiyallahu anhu. Beliau adalah salah satu dari golongan sahabat yang pertama kali masuk Islam sekaligus orang yang memimpin proses kodifikasi Al-Qur’an. Orang yang meriwayatkan dari jalur Utsman di antaranya adalah Aban (putranya sendiri), Amru, Said, Humran bin Aban, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik dan lainnya.

Utsman adalah sahabat yang menikahi dua orang putri Nabi sehingga ia diberi gelar dzun nurain (pemegang dua pelita). Ia adalah sosok yang tinggi badannya rata-rata, berwajah tampan, dan berjanggut lebat. Al-Sa’ib mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat lelaki tua yang lebih tampan dari Utsman. Utsman wafat di rumahnya sendiri dengan cara ditikam dengan pisau pada 18 Dzulhijjah 35 Hijriah dalam umur 82 tahun.

Baca Juga  Melacak Jalur Sanad Qira’at di Indonesia
***

Kedua, Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abd Manaf bin Qushay bin Kilab al-Hasyimi radiyallahu anhu. Orang yang kedua masuk Islam setelah Sayyidah Khadijah radiyyahu anha. Sebagian pendapat lain mengatakan Abu Bakar adalah orang yang kedua masuk Islam, bukan ‘Ali. Ali bin Abi Thalib wafat setelah dibunuh oleh Ibnu Muljam al-Muradi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 Hijriah.

Ia mengumpulkan mushaf Al-Qur’an setelah Nabi wafat. ‘Ulai bin Ribah berkata: Al-Qur’an dikumpulkan oleh empat orang ketika Nabi masih hidup. Empat orang itu adalah Ali, Utsman, Ubay bin Ka’b dan Abdullah bin Mas’ud. Diriwayatkan dari ‘Ashim bin Abi Nujud dari Abdurrahman as-Sulami berkata: Aku tidak melihat seorangpun yang bacaannya lebih baik dari Ali bin Abi Thalib.

Ketiga, Ubay bin Ka’ab bin Qais bin Ubaid bin zaid bin Muawiyah bin Amr bin Malik bin Najjar al-Anshory radiyallahu anhu. Sahabat yang mengambil qiraat dari Ubay di antaranya adalah Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Sa’ib, Abdullah bin ‘Ayyasy bin Abi Rabiah dan Abdurrahman as-Sulamy. Keistimewaan Ubay bin Ka’d misalyna datang dari riwayat Hamad bin Sulmah dari Ashim al-Ahwal dari Abi Qilabah:

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Bacakan kepada mereka qiraatnya Ubay bin Ka’ab (HR Tirmidzi). Kemudian Abi Mulikah mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Umar Radiyallahu anhu mengatakan bahwa orang yang paling paham hukum adalah Ali dan orang yang paling mengetahui qiraat adalah Ubay (HR Imam Ahmad). Umar bin Khattab berkata ketika hari wafatnya Ubay bin Ka’b: Pada hari ini telah wafat sayyidul muslimin Ubay di Madinah pada tahun 21 Hijriah.

Keempat, Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil radiyallahu anhu,  Salah seorang sahabat Nabi yang pertama kali masuk Islam. Pada saat perang Badar, ia memenggal kepala Abu Jahal dan membawanya kepada Rasulullah. Ia termasuk sahabat yang mengumpulkan Al-Qur’an dan membacakannya. Abdullah bin Mas’ud mengatakan bahwa ia menghafal sebanyak 70 surat dar Nabi.

Baca Juga  Mengenal Ibnu Al-Jauzi dan Ulumul Qur’an Abad ke-6 Hijriyah
***

Para tabi’in yang mengambil bacaan dari Ibnu Mas’ud ialah ‘Alqamah, Masruq, Aswad, Wazir bin Hubaisy dan Abdurrahman bin Sulami. Ibnu Mas’ud adalah orang terdekat Nabi. Ia senantiasa membantu dan melayani Nabi seperti membawa dan melepas sendal, membereskan dan merapikan tempat tidur Nabi. Saking dekatnya dengan Nabi, Abu Musa al-Asy’ari menyangka ia adalah keluarga Nabi karena sering keluar dan masuk rumah Nabi.

Qiraat yang dibacakan Ibnu Mas’ud sudah mendapat pengakuan dari Nabi. Nabi berkata: Barang siapa yang ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana turunnya, maka bacalah qiraat Ibnu Mas’ud. (HR Imam Ahmad dan Ibnu Majah). Para sahabat lainnya juga mengakui kapabilitias Ibnu Mas’ud dalam qiraat seperti Abu Wail bin Abdullah, Abu Mas’ud, Zaid bin Wahab, Abu Musa al-Asy’ari dan ‘A’masy. Abu Mas’ud berkata: Demi Allah, tidaklah Rasulullah meninggalkan seseorang yang paling alim dengan al-Qur’an daripada orang ini. Abu Mas’ud berkata demikian sambil menunjuk ke arah Ibnu Mas’ud (HR Muslim).

Kelima, Zaid bin Tsabit bin Dhahhak Radhiyallahu anhu. Ia berstatus sebagai sekretaris sekaligus orang kepercayaan Nabi dalam menulis wahyu. Zaid adalah orang yang cerdas dan berbudi pekerti yang baik. Ia mengumpulkan mushaf Abu Bakar sekaligus mengkomandoi penulisan mushaf Usman bin Affan dan menyebarkannya ke penjuru negeri Adapun sahabat yang mengambil riwayat dari Zaid adalah Ibnu Kharijah, Ibnu Umar, Anas, Ubaid bin Sabaq, Atha’ bin Yasar, Hujr al Madary, ‘Urwah, Thawus dan lainnya.

Keenam, Abu Musa al-Asy’ari. Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Qays bin Sulaim bin Haddhar al-Asy’ari al-Yamani radhiyallahu anhu. Ia ikut bersama Nabi ketika perang Khaibar dan termasuk orang yang hafal Al-Qur’an. Abu Musa memiliki suara yang bagus hingga Nabi berkata: Orang ini (Abu Musa) telah diberi salah satu seruling dari serulingnya Nabi Daud. Orang yang mengambil riwayat dari Abu Musa adalah Abu Bakar, Abu Burdah, Musa, Ibrahim, Rib’i bin Hirasy, Zahdam al-Jaramy dan Sa’id bin Musayyab.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 7 (2): Tolak Ukur Kekafiran
***

Ketujuh, Abu Darda radhiyallahu anhu yang bernama lengkap ‘Uwaimir bin Zaid. Sebagian lain menyebutnya dengan Tsa’labah al-Anshary al-Khazraji. Salah seorang sahabat yang belakangan masuk Islam yakni pada perang Badar. Abu Darda’ diangkat menjadi hakim di Damaskus. Ia adalah pribadi yang penyabar dan cerdas. Anas bin Malik, Abu Umamah, Ummu Darda’, Bilal, ‘Alqamah, Jubair bin Nufair, Sa’id bin Musayyab dan lainnya adalah orang yang mengambil riwayat qiraat dari Abu Darda’. Beliau wafat pada tahun 32 Hijriah.

Imam adz-Dzahabi menambahkan bahwa sahabat yang disebutkan diatas yaitu tujuh orang sahabat bukan berarti ahli qiraat tingkatan pertama hanya mereka saja. Masih banyak sahabat lain seperti Mu’adz bin Jabal, Abu Zaid, Abdullah bun Umar dan ‘Utbah bin ‘Amir. Akan tetapi, qiraat mereka tidak sampai kepada kita. Oleh karenanya Dzahabi hanya terbatas pada tujuh orang sahabat.

Penyunting: Bukhari