Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengenal 6 Teori Batas Muhammad Syahrur

Syahrur

Seperti telah diulas pada tulisan sebelumnya, M.Syahrur adalah cendekiawan muslim yang menolak adannya sinonimitas dalam Al-Qur’an. Penolakan ini, berimplikasi pada redefinisi term-term yang selama ini dianggap bersinonim, seperti Al-Kitab, Al-Furqon, Al-Qur’an dan lain sebagainya. Selain itu, juga berimplikasi pada pengklasifikasian Al-Qur’an. Oleh Syahrur, Al-Qur’an diklasifikasikan menjadi dua yaitu; Kitab ar-Risalah (muhkamat) dan Kitab an-Nubuwwah (mutasyabihat). Pengklasifikasian semacam ini oleh Syahrur dimaksudkan untuk membedakan metode yang dipakai untuk menafsirkan keduanya. Tulisan ini bermaksud untuk memaparkan lebih lanjut mengenai metode penafsiran M.Syahrur terhadap Kitab ar-Risalah yakni mengenai teori batas (nazariyyah al-hudud).

Nazariyyah Al-Hudud (Teori Batas)

Untuk memahami ayat-ayat hokum (muhkamat), M.Syahrur menggunakan metode ijtihad dengan pendekatan teori  batas (Nazariyyah Al-Hudud). Ijtihad dapat dipahami sebagai penggunaan penalaran hukum secara independen untuk memberikan jawaban atas suatu masalah ketika jawaban dari masalah tersebut tidak ditemukan didalam Al-Qur’an dan Hadits.

Metode ijtihad dengan pendekatan teori batas (Nazariyyah Al-Hudud) adalah sebuah metode untuk memahami ayat-ayat muhkamat (ayat-ayat hukum) sesuai dengan konteks sosio-historis masyarakat kontemporer, sehingga ajaran Al-Qur’an bisa tetap relevan untuk setiap zaman dan masih dalam batasan-batasan Allah (hududullah).

Menurut M.Syahrur, ijtihad hanya berlaku untuk ayat-ayat hukum yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan  memuat hududullah. Ijtihad tidak berlaku untuk ayat-ayat yang terkait dengan ibadah ritual, seperti shalat, puasa, haji dan sejenesinya. Bahkan, menurut M.Syahrur melakukan ijtihad pada ayat yang terkait dengan ibadah ritual adalah bid’ah.

Ijtihad juga tidak berlaku pada ayat-ayat yang terkait dengan akhlak dan moral, seperti larangan bohong, larangan menggunjung, larangan ingkar janji dan sejenisnya. Karena menurut Syahrur, secara moral hal tersebut tidak disukai oleh manusia dan Al-Qur’an telah mengharamkannya, sehingga tidak perlu ijtihad.

Menurut Abdul Mustaqim, teori batas memiliki beberapa kontribusi sebagai berikut: pertama, ayat-ayat hukum yang selama ini dianggap final dan hanya mempunyai satu makna ternyata masih mungkin untuk ditafsirkan ulang dengan teori batas. Kedua, dengan teori batas, seorang mufassir tetap menjaga ke-sakralan teks, namun tidak kehilangan kreatifitasnya dalam berijtihad.

Baca Juga  Memahami Kata “Yang Serupa Tapi Tidak Sama” Dalam Al-Qur’an

Menurut M.Syahrur, salah satu keunggulan ajaran islam adalah, di dalamnya terdapat dua aspek gerak, yaitu gerak konstan (istiqamah), dan gerak dinamis (hanifiyyah). Dua hal inilah yang memungkinkan ajaran islam menjadi lebih fleksibel. Menurut Syahrur, aspek istiqamah dari ajaran Islam adalah hududullah (batas-batas hukum Allah) itu sendiri, sehingga gerak dinamis yaitu aspek hanifiyyah (perubahan waktu dan tempat) akan tetap berada dalam batas-batas hukum Allah. Dalam artian, manusia tetap bergerak mengikuti perkembangan ruang dan waktu (aspek hanifiyyah) namun masih dalam batasan-batasan Allah (hududllah).

Enam Bentuk Teori Batas

Untuk melakukan reinterpretasi ayat muhkamat (ayat-ayat hokum), M. Syahrur menggunakan teori batas (nazhariyyah al-hudûd, limit theory). Berdasarkan kajiannya terhadap ayat-ayat hukum, Syahrur menyimpulkan adanya enam bentuk dalam teori batas yang dapat digambarkan dalam bentuk matematis dengan perincian sebagai berikut:

Pertama, halat hadd al-a‘la (posisi batas maksimal), yaitu, daerah hasil (range) dari persamaan fungsi Y= F (x) yang berbentuk garis lengkung menghadap ke bawah (kurva tertutup), yang hanya memiliki satu titik balik maksimum, berhimpit dengan garis lurus dan sejajar dengan sumbu X. Untuk kasus ini bisa dilihat pada Q.S Al-Maidah:38. Hukuman bagi pencuri laki-laki ataupun perempuan adalah potong tangan. Potong tangan disini adalah hukuman maksimum. Karenanya hukuman untuk pencuri tidak boleh melebihi potong tangan tapi boleh lebih rendah dari hukuman potong tangan.

Kedua, halah hadd al-adna (posisi batas minimal). Daerah hasilnya berbentuk kurva terbuka yang memilikisatu titik batas minimum, dan terletakan berhimpit dengan garis sejajar sumbu X. Untuk kasus ini bisa dilihat pada Q.S An-Nisa:22-23, tentang perempuan-perempuan yang haram dinikahi. Menurut Syahrur perempuan-perempuan yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah batas minimal perempuan yang haram dinikahi. Karenanya, perempuan yang haram dinikahi lebih dari sekedar yang disebut ayat tersebut.

Baca Juga  Pandangan Teoritis Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid

Misalnya, dalam ayat tersebut tidak menyebut saudara sepupu sebagai perempuan yang haram dinikahi. Namun bisa saja saudara sepupu termasuk ke dalam perempuan yang haram dinikahi, ketika ternyata ditemukan suatu penelitian bahwa pernikahan dengan saudara dekat seperti itu dapat mengakibatkan keturunan yang cacat mental atau cacat fisik.

Ketiga, halah hadd al’ala wa al-adna ma’an (posisi batas maksimal dan minimal ada secara bersamaan). Daerah hasilnya berupa kurva tertutup dan terbuka yang masing-masing mempunyai titik balik maksimum dan minimum. Kedua titik balik tersebut terletak berhimpit pada garis lurus yang sejajar dengan sumbu X. Untuk kasus ini bisa dilihat pada  Q.S. an-Nisâ’ [4]: 3, tentang poligami. Menurut Syahrur orang yang hendak melakukan poligami harus memenuhi dua syarat terlebih dahulu: pertama, syarat kuantitas. Syarat ini menyangkut tentang batasan jumlah perempuan yang boleh dipoligami.

***

Menurut Syahrur batas minimal poligami adalah dua dan batas maksimalnya adalah empat. Kedua, syarat kualitas. Menurut Syahrur, orang yang hendak melakukan poligami harus mempunyai kekhawatiran dalam dirinya bahwa ia tidak bisa berbuat adil kepada anak-anak yatim. Tapi ia harus tetap berusaha berbuat adil. Selain itu perempuan yang hendak dipoligami harus berstatus janda dan memiliki anak yatim.

Keempat, halah al-mustaqim (posisi lurus). Daerah hasilnya berupa garis lurus sejajar dengan sumbu X. Posisi ini meletakan titik balik maksimum berimpit dengan titik balik minimum. Hanya terdapat satu kasus yang semacam ini dalam Al-Qur’an, yaitu Q.S An-Nur:2, tentang perzinaan. Menurut Syahrur, dalam kasus zina tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali harus menerapkan hukuman cambuk seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

Kelima, halah al-hadd al-a‘la duna al-mamas bi al-hadd al-adna abadan. (posisi batas maksimal tanpa menyentuh garis batas minimal sama sekali). Daerah hasilnya berupa kurva terbuka yang terbentuk dari titik pangkal yang hampir berhimpit dengan sumbu X dan titik final yang hampir berimpit dengan sumbu Y. Garis lurus ini tidak memiliki batas minimal maupun maksimal dan hanya ditandai dengan satu titik garis lurus. Garis lurus itu ditetapkan oleh Allah sebagai hubungan seksual antara laki dan perempuan di luar nikah yang disebut dengan zina.

Baca Juga  Israiliyat: Contoh dan Cara Menyikapinya

Keenam, halah hadd al-a’la mujab mughlaq la yajuz tajawuzuhu wa al-hadd al-adna salib yajuz tajawzuhu (posisi batas maksimal positif dan batas minimal negatif). Daerah hasil pada posisi ini adalah kurva gelombang dengan titik balik maksimum yang berada di daerah positif dan titik balik minimum yang berada di daerah negatif. Keduanya berhimpit dengan garis lurus sejajar dengan sumbu X. Teori batas keenam inilah yang dipakai untuk menganalisis transaksi keuangan. Batas tertinggi dalam peminjaman uang disebut dengan pajak bunga dan batas terendah dalam pemberian disebut zakat.

Editor: An-Najmi Fikri R