Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Mengambil Pelajaran dan Hikmah dari “Ahli Munafik”

Munafik
Gambar: https://international.sindonews.com/

Kita tentunya sudah tidak asing dengan kata ini: munafik. Ketika mendengar kata ini, yang langsung tertancap di dalam sanubari kita adalah orang yang tidak sinkron antara perkataan dengan perbuatan. Terminologi ini tidaklah salah, sebab Nabi Muhammad memang pernah menyatakan demikian:

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yakni apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia ingkari, dan apabila diberi amanat ia khianati (H.R Bukhari dan Muslim). (Riyadhus Shalihin, h. 58 jil. 3).

Setelah ditelusuri kata munafik dan derivasinya memiliki beragam makna. Dalam isitilah ushul fikih, satu kata dengan beragam makna disebut dengan musytarak. Adapun dalam ranah ulumul Qur’an, istilah ini dikenal dengan sebutan wujuh.

Oleh karena itu, ada baiknya kita pelucuti kata ini dengan menggali dari sumber penamaannya yakni dari bahasa Arab. Secara bahasa kata munafik adalah isim fail dari kata anfaqayunfiqu infaqan wa nifaqan yang mengandung banyak makna, di antaranya adalah menyembuyikan sesuatu, kematian, penghamburan, pemberian nafkah dan terputusnya sesuatu. Sedangkan munafik jika dijadikan subjek berarti orang yang berusaha menyembunyikan kekufuran di dalam hatinya dan menampakkan keimanan dengan perkataannya (Louis Ma’luf, tth).

***

Al-Qur’an di dalam beberapa surat mengartikan kata munafik dengan beragam makna. Salah satunya orang yang keluar dari syariat Islam, alias orang non Muslim bisa dikatakan sebagai orang munafik. Hal demikian termaktub di dalam Q.S. at-Taubah [9]: 67: “Sesungguhnya orang-orang munafik adalah orang-orang yang fasik” (al-Asfahani, tth).

Namun yang menjadi topik pembahasan di sini bukanlah kajian tentang kata munafik. Saya tertarik dengan sebuah pepatah yang mengatakan, “Ambillah hikmah walaupun datang dari seorang munafik”. Setelah saya lacak, kalimat ini diucapkan oleh Sayyidina Ali dalam kitab Nahj al-Balagah. Kalimat lengkapnya adalah sebagai berikut:

 وقال عليه السلام: الحكمة ضالة المؤمن، فخذ الحكمة ولو من أهل النفاق .

 Sayyidina Ali pernah berkata: Hikmah adalah barang yang hilang dari orang mukmin, maka ambillah hikmah itu walaupun datang dari orang munafik. (Sayid Syarif Ridha, 1987).

Baca Juga  3 Cara Membuat Puasa Ramadhanmu Lebih Berkualitas

Terkadang hikmah tidak mesti datang dari orang saleh, kyai, ustaz, syekh dan umat Islam itu sendiri. Ia bisa datang dari siapa saja dan dari mana saja. Bahkan ada pepatah minang mengatakan, “Alam takambang jadi guru”. Pepatah ini jika dicermati sangatlah mendalam. Jika dialihkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih hamparan yang ada di alam bisa dijadikan sebagai guru. Peristiwa-peristiwa alam sebenarnya bisa kita jadikan pelajaran hidup yang bermanfaat bagi kehidupan.

Itu contoh hikmah yang bisa dicuri dari alam. Lalu apakah kita bisa dan boleh mengambil hikmah dari selain orang Islam? Jawabannya sangat bisa sekali. Begitu banyak tokoh-tokoh yang bukan dari Muslim akan tetapi mereka bersimpati terhadap Islam. Alasan mereka bersimpati tentunya kita tidak tahu dan tidak perlu tahu. Hanya mereka sendiri dan Tuhanlah yang mengetahuinya. Yang terpenting dari itu adalah bagaimana mereka menjelaskan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin bisa kita terima sebagai pelajaran. Hal ini sesuai dengan pepatah Arab, lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.

***

Orang yang saya maksud adalah Karen Armstrong. Orang biasa maupun orang yang mempelajari studi Islam tentu sudah familiar dengan tokoh ini. Tentunya saya sudah tidak perlu menjelaskan biografi Karen Armstrong karena sudah dikenal dan banyak berseliweran di internet. Karen, walaupun ia seorang Kristen dan mantan biarawati begitu menunjukkan simpati dan empatinya terhadap Islam.

Orientalis ini begitu produktif menulis karya ilmiah tentang Islam di tengah banyaknya kritik terhadap agama ini dari orientalis lainnya. Seperti John Wansbrough, Michael Cook dan Patricia Crone. Beberapa karya Armstrong yang terkenal adalah A History Of God, Jerusalem: One City, Three Faiths, Islam: A Short History dan Muhammad: Prophet for Our time serta masih banyak lagi.

Baca Juga  Man Rabbuka: Teolog, Filosof dan Ilmuwan Beda Jawaban

Di dalam bukunya Muhammad: Prophet for Our Time Karen Armstrong mengangkat lima tema besar, Makkah, jahiliah, hijrah, jihad dan salam. Akan tetapi pada pembahasan ini saya akan mengangkat dua tema saja yakni hijrah dan jihad. Pertama, Karen mencoba meredefinisi kata hijrah. Hijrah bukan hanya perpindahan secara fisik, berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Akan tetapi ada hijrah yang lebih penting dari itu, yaitu hijrah psikis.

Istilah munafik yang saya sematkan kepada Karen Armstrong bukanlah munafik dengan makna kebanyakan orang. Tetapi munafik disini adalah orang yang tidak menjalankan syariat Islam, alias non-Muslim. Karen menurut saya adalah pribadi yang konsisten antara perkataan dan perbuatan. Di dalam tulisannya ia tidak menjelekkan kepercayaan tertentu, di realita misalnya di dalam ceramahnya di Youtube pun demikian. Lantas hikmah apa yang dapat kita petik dari orientalis Barat ini?

Ia mencontohkan beberapa kisah Nabi Muhammad misalnya ketika Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah. Ketika itu, Madinah adalah kota kecil dengan banyak agama dan suku. Ketika Nabi disana yang dilakukan bukanlah pemaksaan untuk menganut keyakinan tertentu. Spirit yang dibawa oleh Nabi adalah spirit persatuan dan kerukunan antar umat beragama (pluralisme).

***

Lihatlah ketika Nabi menjadi hakam (pendamai) antara suku Aus dan Khazraj. Mereka diajak bersatu di bawah naungan ummatan wahidatan. Begitupun dengan non-Muslim, Nabi menjamin dan melindungi kebebasan beragama bagi umat Yahudi dan Nasrani. Nabi telah berhasil meng’hijrah’kan kaum yang dahulunya dipenuhi fanatisme kesukuan dan keagamaan  menjadi kaum yang lebih moderat dan inklusif (Karen Arsmtrong, 2006).

Kedua, jihad bukan berarti perang mengangkat senjata yang selama ini digaungkan oleh sekelompok orang. Memang pada awal Islam, jihad identik dengan berperang secara fisik. Tetapi peperangan yang dilakukan Nabi bukanlah tanpa alasan. Nabi dan umat Islam pada saat itu benar-benar sudah berada dalam posisi yang terancam dalam hal yang menyangkut keselematan jiwa dan ibadah mereka.

Baca Juga  Polemik Hukum Islam dalam Pandangan Orientalis Joseph Schacht

Tidak sampai di situ, jihad yang dilakukan Nabi bukanlah jihad konyol tanpa aturan. Etika berperang seperti dilarang membunuh hewan, merusak rumah ibadah, membunuh perempuan dan anak-anak adalah sedikit dari etika berperang atau berjihad. Oleh karena itu, menurut Karen umat Islam saat ini tidak perlu mengartikan jihad dengan perang senjata karena sudah pada kondisi yang aman. Yang terpenting saat ini adalah jihad spritiual, sosial, ekonomi, dan intelektual (Karen Armstrong, hlm.154).

Penyunting: Bukhari

Muhammad Rizki
Mahasiswa Magister IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta