Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menelusuri Jejak Referensi Rasm Mushaf Kuno

Dok. pribadi penulis

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman file mushaf kuno dari seorang teman; Mas Nabil, yang kebetulan tengah mengkaji mushaf tersebut di UIN Walisongo Semarang. Mushaf tersebut merupakan mushaf dari Kelurahan Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali, yang telah didigitalisasi oleh Balai Litbang Agama Semarang

Mushaf tersebut sebenarnya pernah dikaji oleh Pak Anton Zaelani dan Pak Enang Sudrajat bersama sebelas mushaf lainnya dari Bali; (baca selengkapnya di Mushaf Al-Qur’an Kuno di Bali: Jejak Peninggalan Suku Bugis dan Makassar), dan oleh seorang mahasiswa sarjana yang juga dari UIN Walisongo bernama Uli Chofifah.

Saya, yang juga mendapatkan hasil penelitian yang telah dilakukan, mencoba menelaah temuan yang ada. Dan saya mendapati bahwa secara umum kajian yang dilakukan masih terbatas pada deskripsi naskah dan perbandingan singkat dari beberapa aspek di dalamnya, terutama qiraah dan rasm. Hasil ini tidak begitu mengejutkan, mengingat kajian mushaf kuno sementara kini masih terbatas pada deskripsi naskah dan perbandingan aspek di dalamnya.

Mushaf Kusamba

Mushaf Kusamba sendiri cukup unik dan ‘berbeda’ dari kebanyakan mushaf lain dari Nusantara karena keragamaan qiraah dan catatan rasm yang dijumpai di dalamnya. Catatan ini lah yang kemudian ‘menggoda’ saya untuk melakukan kajian lain yang lebih jauh. Bukan pada aplikasi kaidah rasm, seperti yang dilakukan Pak Anton, Pak Enang, dan Mas Nabil, saya mencoba menelusuri marji‘ yang dijadikan rujukan dalam rasm mushaf tersebut. Hasilnya, penulis mendapati beberapa hal yang cukup menarik.

Sebagai pengantar, mushaf Kusamba ini ditulis oleh Haji Isma‘il bin Muhammad al-Imam Madello bin Isma‘il To Madello al-Buqis (Bugis) tahun 1260 H. di Makkah. Mushaf ini ditulis di atas kertas Eropa dengan cap VG atau ‘Van Gelder’ berukuran 32,5 x 24,5 x 8 cm.  Catatan qiraah dan rasm, yang tadi disebutkan, ditulis mengelilingi bagian pias menggunakan pola zig-zag dengan tinta hitam dan merah.

Baca Juga  Penetapan Ayat Makki dan Madani Dalam Ilmu Al-Qur'an

Penelusuran yang saya lakukan menemukan bahwa catatan rasm dalam mushaf Kusamba merujuk kepada kitab Manar al-Huda. Temuan ini cukup menarik mengingat Manar al-Huda merupakan nama yang cukup asing bagi kajian rasm saat ini. Pasalnya rasm saat ini umumnya merujuk pada salah satu dari Imam Abu ‘Amr al-Daniy (w. 444 H.) dan Abu Dawud Sulaiman (w. 496 H.) berikut dengan karangannya berjudul Al-Muqni‘ dan Al-Tabyin. Kalau pun ada rujukan di luar itu umumnya adalah ‘Aqilah Atrab al-Qasha’id fi Asna al-Maqashid karya Al-Syathibiy (w. 590 H.) dan atau Maurid al-Dham’an fi Rasm al-Qur’an karya Al-Kharraz (w. 718 H.).

Kitab Tajwid

Saya kemudian berkonsultasi kepada Pak Zaenal Arifin Madzkur, peneliti senior bidang rasm di LPMQ. Setahu beliau, kitab Manar al-Huda adalah nama kitab tajwid, yakni Manar al-Huda fi al-Waqf wa al-Ibtida karangan Ahmad bin Muhammad bin ‘Abd al-Karim al-Asymuni (w. 1100 H.).

Setelah saya cek sendiri, kitab yang dimaksudkan Pak Zaenal memang kitab tajwid. Hanya saja, cetakan yang saya peroleh juga menyertakan kitab Al-Maqshad li Talkhis Ma fi al-Mursyid fi al-Waqf wa al-Ibtida’ karangan Syaikh Zakariyya al-Anshori (w. 926 H.), yang didalamnya memuat sedikit ulasan mengenai rasm.

Namun demikian, data lain yang saya peroleh dari mushaf Kusamba menunjukkan adanya catatan yang merujuk pada kitab lain bernama Al-‘Aqd al-Farid, yang menjadi bagian dari riwayat imam Qalun alias ‘Isa bin Mina (w. 220 H.), salah satu perawi dari Imam Nafi‘ (w. 169 H.). Sayangnya, saya kesulitan mendapati kitab ini dalam koleksi karangan imam Qalun.

Al-Farid fi ‘Ilm al-Tajwid

Usaha pencarian saya terhadap kitab Al-‘Aqd al-Farid justru mengarah pada kitab lain, yakni dari riwayat Hafsh (w. 180 H.) dari ‘Ashim (w. 128 H.) berjudul Al-Farid fi ‘Ilm al-Tajwid. Dan sebagaimana namanya, kitab tersebut bukan kitab rasm, meskipun di dalamnya juga menyertakan ulasan mengenai rasm.

Baca Juga  Kajian Munasabah dan Makiyah Madaniyah Q.S. al-Baqarah Ayat 238

Jika apa yang dituturkan Pak Zaenal ini benar adanya, maka temuan referensi tajwid dalam bidang rasm ini menyimpulkan hal yang sangat menarik. Bahwa penerapan kaidah rasm sekaligus catatan keragamannya pada mushaf kuno adalah bersumber dari literatur tajwid, bukan rasm. Hal ini cukup ‘masuk akal’ mengingat eksistensi ilmu tajwid lebih menjangkau setiap elemen masyarakat Islam ketimbang ilmu rasm.

Terlebih sejarah kajian rasm mengalami masa fatrah pada era-era ketika mushaf kuno tersebut ditulis. Seperti yang telah disebutkan Pak E. Badri Yunardi bahwa kajian ilmu rasm baru mengemuka di Indonesia setelah diadakannya Musyawarah Kerja (Muker) ulama dan pakar Alquran selama sembilan kali dari tahun 1974-1983. Hingga praktis, catatan mengenai perkembangan rasm hampir tidak ditemukan pada masa sebelum itu.

Namun jika sebaliknya, bahwa penuturan Pak Zaenal ini keliru dan Manar al-Huda adalah benar-benar kitab rasm, wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Penyunting: Ahmed Zaranggi