Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menelusuri Jejak Referensi Rasm Mushaf Kuno (Part II)

Balai Litbang Agama Semarang

PR kajian rasm bagi para pegiatnya memang cukup banyak. Apalagi kajian yang berkaitan dengan sejarahnya, baik secara teoritis maupun praktis. Pada tulisan berjudul Sejarah yang Hilang dalam Penulisan Rasm Mushaf Al-Qur’an tahun 2020 yang lalu, penulis menyebut bahwa banyak potongan sejarah rasm ‘yang hilang’.

Potongan ‘yang hilang’ ini utamanya penulis maksudkan pada peta perkembangan kajian praktis rasm dalam penulisan Al-Qur’an, bukan teoritis. Untuk kajian teoritis, pemetaan terhadapnya telah dilakukan dengan apik oleh Pak Zainal Arifin dalam disertasinya, Perbedaan Rasm Usmani Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Madinah.

Sedangkan kajian praktis, telah lama absen kurang lebih selama delapan abad, dari abad 8 (sekitar abad 2 hijriah) sampai pada abad 16 masehi. Rentang waktu ini didasarkan pada temuan enam mushaf ‘usmani’ dari abad 8 dan mushaf-mushaf era percetakan modern.

Ilmu Tajwid Sebagai Basis Manuskrip

Bahkan, jika mengacu data yang diberikan Pak Hamam Faizin dalam Pencetakan Al-Qur’an dari Venesia hingga Indonesia, waktu aktual mushaf ‘usmani’ era percetakan bahkan di abad 19 dan 20 masehi. Kemudian dengan mushaf cetakan Kazan tahun 1848, mushaf Bombay tahun 1985, serta mushaf Mesir tahun 1923-1925. Data ini juga baru berbasis pada veris cetaknya, belum yang manuskrip.

Pada part sebelumnya dari tulisan ini, penulis memberikan hipotesis terkait peta perkembangan kajian praktis rasm berbasis manuskrip. Bahwa di antara rujukan yang digunakan dalam penerapan kaidah rasm adalah literatur ilmu tajwid. Seperti yang ditemukan dalam Mushaf Kusamba, Bali, penerapan rasmnya merujuk pada kitab Manar al-Huda.

Hasil penelusuran dan pencocokan catatan rasm Mushaf Kusamba dengan kitab Manar al-Huda mendapati hasil yang positif. Bukan pada kitab Al-Maqshad li Talkhis Ma fi al-Mursyid fi al-Waqf wa al-Ibtida’ karangan Syaikh Zakariyya al-Anshori (w. 926 H.) yang disertakan dalam cetakannya, tetapi benar-benar merujuk pada Manar al-Huda.

Catatan Penting Manuskrip

Beberapa catatan yang penulis temukan adalah sebagai berikut:

Baca Juga  Geiger: Benarkah Al-Qur’an Mengadopsi Ajaran Yahudi

وَكَتَبُوْا كُلَّمَا هُنَا وَكُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مُتَّصِلَةً وَحَذَفُوْا الْاَلِفَ الَّتِي بَعْدَ النُّوْنِ مِنْ جَنَّاتٍ وَاْلاَلِفَ الَّتِي بَعْدَ الْهَا مِنَ اْلاَنْهَارِ وَالْاَلِفَ بَعْدَ الشِّيْنِ مِنْ مُتَشَابِهًا وَالْاَلِفَ بَعْدَ الْخَا مِنْ خَالِدُوْنَ كَمَا تَرَى اهـ منار الهدى

“Para ulama menulis ‘kullama’ dalam ayat ini dan ‘kullama adla’a lahum’ dengan disambung dan membuang alif yang jatuh setelah nun dari kata ‘jannat’. Dan (membuang) alif setelah ha’ dari kata ‘al-anhar’ dan (membuang) alif setelah syin dari kata ‘mutasyabihat’. Dan (membuang) alif setelah kha’ dari kata ‘khalidun’ sebagaimana dapat engkau lihat. Manar al-Huda.”

وَرَسَمُوا فَاَحْيكُمْ بِيَا قَالُوا (قَالَ) اَبُو عَمْرٍو (؟) فِيْ بَابِ مَا رُسِمَ بِالْاَلِفِ مِنْ ذَوَاتِ اليَا مِنَ الْاَسْمَا وَالْاَفْعَالِ فَقَالَ يُكْتَبُ بِالْيَا عَلَى مُرَادِ الْاَلَةِ (الإِمَالَةِ) سَوَاءٌ اتَّصَلَ بِضَمِيْرٍ امْ لَا نَحْو الْمَرْضَي وَالْمَوْلَي وَاِحْدَي (؟) وَيَجْرِيهَا وَاَتَيكُمْ وَاَتِيهِ وَاَتَيهَا وَلَايُصَلِّيْهَا انتهي منار الهدى

“Para ulama menulis ‘fa ahyakum’ dengan ya’. Abu ‘Amr berkata dalam bab kata dari isim dan fi‘il yang ya’-nya ditulis dengan alif, “Ditulis menggunakan ya’ seraya menghendaki bacaan imalah. Entah bertemu (bersambung) dengan dlamir atau tidak, seperti kata ‘al-mardla’, ‘al-mawla’, ‘ihda’, ‘yajriha’, ‘atakum’, ‘atihi’, ‘ataha’, dan ‘la yushalliha’. Manar al-Huda.”

وَحَذَفُوْا الْاَلِفَ الَّتِي بَعْدَ الْخَاءِ فِي خَالِدُوْنَ حَيْثُ وَقَعَ كَمَا تَرَي اهـ منار الهدى

“Para ulama membuang alif yang jatuh setelah kha’ pada kata ‘khalidun’ di mana pun berada. Manar al-Huda.”

Tiga Poin Penemuan Manuskrip

Temuan ini setidaknya berarti tiga hal: pertama, penerapan rasm dalam mushaf kuno dilakukan dengan merujuk pada literatur ilmu tajwid; kedua, ilmu tajwid pada era mushaf tersebut ditulis lebih menjangkau masyarakat Islam Indonesia ketimbang ilmu rasm. Hal ini terbukti dengan temuan literatur yang ada; ketiga, ada hubungan tertentu antara rasm dengan tajwid.

Baca Juga  Catatan Buku: Jalan Panjang Mengabadikan Ilmu Tasawuf

Yang juga menarik adalah adanya penyebutan nama Abu ‘Amr di sana, yang dalam kajian rasm tentunya adalah Abu ‘Amr al-Daniy (w. 444 H.), salah satu dari Syaikhan fi al-rasm selain Abu Dawud Sulaiman (w. 496 H.). Penyebutan nama ini boleh jadi mengindikasikan bahwa kaidah rasm yang digunakan terafiliasi pada riwayat Al-Daniy, bukan Abu Dawud.

Jika afiliasi ini benar adanya, maka sangat wajar jika rasm Mushaf Standar Indonesia (MSI) era modern kini lebih melakukan tarjih kepada riwayat Al-Daniy. Karena berdasar pada kuatnya akar sejarah riwayat Al-Daniy di Indonesia. Kendati benar-tidaknya opini penulis yang terakhir ini harus tetap dibuktikan lewat kajian yang lebih dalam. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Penyunting: Ahmed Zaranggi