Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menelisik Tafsir Kontemporer Al-Munir Karya Wahbah Az-Zuhaili

Penafsiran memang begitu urgent di setiap zamannya, bahkan akhir-akhir di era modernisasi, perkembangannya tidak bisa dibendung lagi. Hal ini, menimbulkan sebagian kalangan akademisi lebih condong dalam memutus mata rantai tradisi klasik, tentunya dengan alasan bahwa sama sekali tidak relevan dengan problematika kontemporer. Bukan berarti meninggalkan tradisi klasik, justru mufassir kontemporer Wahbah az-Zuhaili malah masih memegang teguh etos tradisionalis dan menjaga mata rantai tradisi klasik.

Karya terkenalnya adalah al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa as-Syari’ah wa al-Manhaj. Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili ini adalah kitab tafsir kontemporer yang di dalamnya tersusun metodologi dan corak yang khas di setiap penafsirannya. Maka dari itu, hal inilah yang menjadi penulis tertarik dalam menelisik kitab tafsirnya.

Biografi Wahbah Az-Zuhaili

Wahbah az-Zuhaili (1932-2015 M) merupakan seorang mufassir kontemporer yang lahir di Dair ‘Atiyah kecamatan Faiha, provinsi Damaskus Suriah. Nama lengkapnya adalah Wahbah bin Mustafa az-Zuhaili yang merupakan anak dari Mustafa az-Zuhaili. Pekerjaan ayah az-Zuhaili, setiap harinya menjadi seorang petani yang sederhana, bahkan terkenal dengan kesalehannya. Adapun ibunya bernama Hajjah Fatimah binti Mustafa Sa’adah yang merupakan seorang wanita yang memiliki sifat warak dan teguh dalam menjalankan agama Islam.

Wahbah az-Zuhaili adalah seorang tokoh yang berpengaruh di bidang pengetahuan. Selain terkenal di bidang fiqih, ia dikenal di bidang tafsir pula, salah satu kitab karangannya adalah al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa as-Syariah wa al-Manhaj.  

Hampir setiap waktu dalam hidupnya, menimba dan mengembangkan ilmu pengetahuan merupakan hal yang biasa dilakukan az-Zuhaili. Ulama’ yang hidup di abad ke-20 ini, merupakan ulama’ yang sezaman dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Thahir Ibnu Asyur, Said Hawwa, Sayyid Qurtb, Muhammad Abu Zahrah, Mahmud Syaltut, Ali Muhammad al-Khafif, Abdul Ghani, Abdul Khaliq, dan Muhammad Salam Madkur.

Baca Juga  Nizam Al-Mulk: Pasar Ada Untuk Melayani Kebutuhan Konsumen

Kepribadian az-Zuhaili di kenal terpuji, baik itu amal-amal ibadahnya maupun ketawadhu’annya, bahkan di kenal pula memiliki pembawaan yang sederhana. Meskipun az-Zuhili mengikuti madzab Hanafi, namun dalam mengembangkan dakwahnya, bukan semata-mata mengedepankan madzab ataupun aliran yang dianut.

Mengenal Kitab Tafsir Al-Munir

Seorang mufassir di saat menjelaskan makna Al-Qur’an, terutama menulis sebuah penfsiran, memang sangat dipengaruhi oleh latar belakang keilmuannya. Az-Zuhaili sebagai pakar fiqh, sangat mengutamakan hal demikian dalam berbagai karyanya termasuk kitab al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa as-Syariah wa al-Manhaj atau sering di kenal dengan kitab tafsir al-Munir.

Kitab tafsir al-Munir ini, diciptakan az-Zuhaili dengan 16 volume yang di dalamnya melingkupi ayat-ayat Al-Qur’an secara meluas, mulai dari kosakata, munasabah (korelasi antar ayat dan surat), pokok kandungan setiap surat, kesimpulan menyangkut berbagai aspek (akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dsb), dsb yang mennjadi perhatian kalangan intelektual.

Adapun berdasarkan sumber penafsiran yang digunakan dalam kitab tafsir al-Munir, az-Zuhaili memakai perpaduan antara tafsir bi al-Matsur dan tafsir bi al-Ma’qul serta menggunakan retorika yang jelas, yakni keterampilan bahasa kontemporer yang sudah dipahami bagi para pembacanya.

Sementara itu, sumber-sumber refrensi yang digunakan az-Zuhaili dalam menafsirkan kitabnya adalah merujuk pada Tafsir al-Kabir karya Fakhr ad_Din ar-Razi, Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Alusi, dan Tafsir al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayya al-Andalusi terkait di bidang akhlak, akidah, dan penjelasan kebesaran Allah di alam semesta. Lebih dari itu, kitab tafsir al-Munir ini tersusun melalui metodologi dan corak penafsiran.

  • Metodologi Tafsir

Jika ditelusuri dengan perkembangan tafsir Al-Qur’an sejak dahulu hingga sekarang, maka yang akan ditemui bahwa secara garis besar penafsiran Al-Qur’an dilakukan dengan empat metode, sebagaimana pandangan al-Farmawi, meliputi ijmaliy (global), tahlili (analisis), muqarran (perbandingan), dan mawdhu’iy (tematik).

Baca Juga  Ayat-Ayat dan Fenomena Seputar Turunnya Al-Qur'an

Adapun Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsirnya sendiri, metode yang digunakan untuk menafsirkan adalah metode tafsir tahlili. Meski demikian, sebagian kecil di beberapa hal terkadang menggunakan metode tafsir maudhu’iy. Hanya saja, metode tahlili yang lebih dominan digunakan.

Oleh karena itu, az-Zuhaili sendiri menilai bahwa kitab tafsirnya adalah model tafsir Al-Qur’an yang didasarkan pada Al-Qur’an sendiri dan hadits-hadits shahih, mengungkapkan asbab an-Nuzul dan takhrij al-Hadits, menghindari cerita isra’iliyat, riwayat yang buruk, dan polemik serta bersikap moderat.

  • Corak Penafsiran

Berbicara tentang corak penafsiran, para ulama’ telah sepakat bahwa corak penafsiran dibagi menjadi tujuh corak, di antaranya adalah corak tafsir sufi, corak tafsir fiqhi, corak tafsir falsafi, corak tafsir ilmi, corak tafsir adabi ijtima’i, corak tafsir akhlaqi, dan corak tafsir sastra.

Dari ketujuh corak penafsiran itu, Wahbah az-Zuhaili dalam menafsirkan Al-Qur’an memilih tiga corak penafsiran, di antaranya adalah corak tafsir adabi ijtima’i, dan fiqhi. Dalam tafsirnya, az-Zuhaili menyajikan dengan gaya bahasa dan redaksi yang teliti, selebihnya juga menafsirkan sesuai dengan situasi yang berkembang serta dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat.

Sementara itu, sedikit yang az-Zuhaili ungkapkan dalam corak tafsir ilmi, karena memang tujuan sebenarnya dari penulisan tafsirnya untuk menyaring beberapa penyimpangan isu kontemporer. Maka dari itu, bidang keilmuan yang diminati merupakan hal penting yang melatar belakangi penafsiran.

Editor: An-Najmi