Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menelisik Kisah Thalut VS Jalut dalam Tafsir At-Thabari

Sumber: https://kalam.sindonews.com/

Secara kronologis, kisah Thalut versus Jalut termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 246-251. Dalam hal ini, kiranya Tafsir Ath-Thabari tepat dijadikan rujukan sebagai upaya dalam  memahami kisah Thalut Versus Jalut. Sebagaimana jamak diketahui, bahwa Tafsir At-Thabari adalah tafsir yang dikenal kuat dalam upaya penafsiran. Selain itu, pengarang kitab Tafsir Jaami’ul bayan ‘an Takwil Al-Qur’an ini—selain dikenal sebagai ulama Tafsir; beliau juga dikenal sebagai ahli sejarah. Hal ini dibuktikan dengan karya Imam Ath-Thabari yang berjudul “Tֿarikh al-Rusul wa al-Muluk” (Sejarah Para Nabi dan Para Raja).

Ia juga hafal Al-Qur’an, menguasai qira’at, paham akan makna, faqih dalam hukum, paham hadits beserta serba-serbinya, paham atsar shahabat dan tabi’in, serta menguasai ilmu sejarah. Maka tidak asing, bilamana tafsir ini dijadikan sebagai acuan untuk memahami dan menyisir lebih dalam tentang kisah Thalut versus Jalut. Dalam menafsirkan ayat kisah Thalut versus Jalut ini, antara ayat satu dengan ayat lain sangat berkaitan dan tidak terlepas dari ayat-ayat yang dijelaskan sebelumnya. Itu artinya akan diperoleh pemahaman yang utuh tentang kisah Thalut versus Jalut. Maka  tulisan ini akan menampilkan penjelasan ayat demi ayat.

Latar Belakang Kisah

Menurut Tsa’labi, Thalut bernama Thalut bin Qais bin Afyal bin Sharu bin Tahrut bin Afif bin Unais bin Benjamin bin Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khail. Dalam bahasa Suryani, Thalut dikenal dengan Syaul bin Qais bin Abyal bin Shirar bin Yahrub bin Afyah bin Ayis bin Bunyamin bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Thalut berasal dari suku Bunyamin bin Ya’kub. Suku Bunyamin adalah suku yang dikenal dengan suku yang tidak memegang pemerintahan maupun kenabian.

Sedangkan Jalut adalah raja yang dikenal bengis, sombong, dan sangat menyeramkan. Dalam Al-Kitab, Jalut dikenal dengan Goliath. Ia adalah keturunan orang Enak, yang tetap bertahan di Gat pada zaman Yosua. Ia mewariskan tubuh raksasa di sana, Goliath: Tingginya enam hasta sejengkal. Menurut cendekiawan Uskup Cumberland, satu hasta kurang lebih 21 inci, dan satu jengkal sama dengan setengah hasta. Dengan perhitungan ini, tinggi Goliath kira-kira 3,4 meter. Secara sederhana kisah Thalut versus Jalut akan diramu secara garis bersarnya oleh penulis berdasarkan pembacaan dari penafsiran ath-Thabari yang ditampilkan sebagai berikut:

Baca Juga  QS. An-Nahl [16]: 43: Haruskah Menjadi Orang yang Kepo?

Q.S Al-Baqarah ayat 246 (Bani Israel Meminta Raja)

Kisah Peperangan antara Thalut dan Jalut dimulai dari keterangan  yang termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 246. Kisah ini dimulai setelah peristiwa wafatnya nabi Musa, sehingga bani Israel kehilangan seorang Raja. Kemudian pada saat itu, para pemuka bani Israel datang kepada seorang nabi yang bernama Samuel. Kedatangan mereka untuk memohon agar nabi mereka mengangkat seorang raja. Mereka juga meminta diwajibkan perang atas mereka agar mereka bisa mngembalikan kehormatan bangsa mereka yang telah dirampas oleh musuh.

Saat bani Israel memohon kepada Samuel untuk diwajibkan perang, Samuel berkata kepada mereka, “Jika diwajibkan atas kalian berperang, akankah kalian akan berperang?” Kemudian bani Israel menjawab, “Kami tidak akan berkhianat, karena kami telah diusir dari kampung halaman dan oleh anak-anak kami dengan paksaan dan kekerasan.” Meski telah berjanji—bani Israel adalah kaum yang kerap berdusta, maka di antara mereka hanya sedikit yang menepati janji untuk berperang.

Q.S Al-Baqarah ayat 247 (Thalut Menjadi Raja)

Kemudian dalam ayat ke 247, Ath-Thabari mengatakan bahwa Samuel merespon permohonan pemuka bani Israel. Ia mengabarkan bahwa Allah telah mengutus Thalut menjadi raja. Mendapat kabar demikian, bani Israel berkata, “Bagaimana Thalut menjadi raja, sedangkan Ia berasal dari suku Bunyamin bin Ya’kub. Dan suku Bunyamin bukanlah suku pemegang kekuasaan maupun pemerintahan. Sedangkan kami dari suku Yahudza bin Ya’kub. Suku yang lebih pantas untuk menjadi seorang pemimpin.” Ungkap mereka.

Dalam ayat ini ditunjukkan bahwa Bani Israel tidak mengakui Thalut sebagai raja yang telah Allah utus untuk mereka. Mereka mengungkapkan bahwa Thalut tidak pantas menjadi raja—justru di antara merekalah seharusnya yang lebih patut untuk menjadi raja karena mereka berasal dari suku Yahudza (suku yang unggul dalam memimpin).

Sementara bani Israel terus meminta bukti kelayakan Thalut menjadi raja, maka dihadirkan bukti dan tanda, yakni dalam satu riwayat diceritakan bahwa saat Thalut kehilangan keledainya kemudian menanyakan kepada nabi Samuel, Samuel meyakinkan Thalut akan menjadi raja dengan tanda bahwa ketika ia pulang ke rumah—maka keledai yang ia cari telah berada di rumah.  Meski demikian, bani Israel adalah kaum yang mempersulit diri, mereka terus meminta bukti Thalut menjadi raja. Kemudian Samuel mengatakan bahwa Thalut telah dianugerahi oleh Allah berupa tubuh yang perkasa dan luasnya ilmu yang dimilikinya.

Baca Juga  Hadis-Hadis yang Menunjukan Rasulullah Melakukan Vaksinasi

Q.S Al-Baqarah ayat 248 (Tanda Thalut Menjadi Raja)

Lebih lanjut—dalam ayat ke 248, Ath-Thabari mengatakan bahwa bani Israel tetap tidak mengakui Thalut sebagai raja. Kemudian Thalut memberikan kabar melalui ayat ini, yakni ditunjukkan bukti Thalut menjadi raja adalah dengan kembalinya Tabut dan sisa peninggalan nabi Musa dan Harun. Tabut adalah peti yang dahulu, jika bani Israel menjumpai musuh mereka, kemudian mereka mengeluarkan Tabut maka tidak akan ada yang bisa mengalahkan mereka.

Adapun ciri Tabut adalah yang di dalamnya terdapat “as-sakinah”. Ibnu Abbas mengatakan Tabut adalah bejana emas dari surga yang di dalamnya hati para nabi pernah dicuci. Selain Tabut, peninggalan nabi Musa dan Harun juga termasuk tanda Thalut sebagai raja. Ahli Tafsir berbeda pendapat terkait hal tersebut. sebagian mereka berpendapat, peninggalan itu berupa tongkat nabi musa dan remukan-remukan lauh (papan tulis). Ath-Thabari berkata, peninggalan yang dimaksud berupa tongkat, pecahan lauh-lauh dan Taurat, dua sandal, pakaian, jihad di jalan Allah SWT.

Q.S Al-Baqarah ayat 249 (Ujian Bagi Bani Israel)

Dalam ayat 249, dijelaskan bahwa Tabut datang kepada Thalut sebagai tanda bahwa Ia adalah raja yang Allah utus untuk bani Israel, sehingga bani Israel yakin dan membenarkan nabi mereka. Hal ini diketahui bahwa Thalut keluar bersama tentaranya yang pada hari itu, Thalut membawa 80.000 tentaranya dari Baitul Maqdis sehingga tidak ada dari bani Israel yang menolak perintahnya untuk pergi, kecuali orang yang sakit, orang yang tidak mampu pergi, dan orang tua.

Ketika Thalut pergi bersama pasukannya, Ia berkata “Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan sungai, untuk menguji ketaatan kalian kepada-Nya”.  Kemudian Thalut menghimbau kepada pasukannya, “Barangsiapa yang meminum air sungai itu, maka bukan golonganku. Dan barangsiapa yang tidak meminumnya kecuali hanya minum dengan menciduknya dengan cidukan tangan. Maka dia termasuk golonganku.”

 Ath-Thabari menjelaskan maksud ungkapan “Barangsiapa tidak meminumnya” adalah mereka yang tidak merasakan air sungai itu adalah termasuk golongan orang yang setia dan taat kepada Thalut dan beriman kepada Allah SWT. Ath-Thabari menegaskan bahwa mayoritas mereka minum air sungai itu dan barangsiapa yang meminumnya maka akan terus merasa haus. Sedangkan yang hanya menciduknya dengan cidukan tangan, maka akan merasa kenyang. Hal ini ditunjukkan di antaranya pada riwayat Qatadah dan As-Sudi yang mengatakan demikian. Maka, tatkala orang-orang yang beriman bersamanya telah pergi menyeberangi sungai, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan pada kami untuk melawan Jalut dan tentaranya”.

Dalam ayat ini secara eksplistit menggambarkan ujian yang Allah berikan kepada pasukan Thalut saat menuju medan perang. Ujian tersebut berupa hamparan suangai yang mengalir. Dalam ath-Thabari dijelaskan bahwa barangsiapa yang minum dengan rakus, maka akan terus merasa haus. Namun bagi yang hanya minum dengan satu cidukan saja maka akan merasa kenyang. Dan hanya sedikit dari mereka yang patuh akan himbauan tersebut.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Nahl Ayat 125: Tiga Metode Dakwah Dalam Al Qur’an

Q.S Al-Baqarah 250 & 251 (Allah Mengabulkan Do’a Thalut)

Kemudian dalam Q.S Al-Baqarah 250 dijelasakan ketika Jalut dan tentaranya telah nampak oleh pasukan Thalut, mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang.orang kafir” dan dalam ayat ke 251, Allah mengabulkan doa mereka, mereka membunuh musuh mereka dengan qadha dan qadar nya Allah. Dikatakan, yang membunuh Jalut adalah Daud. Daud dalam hal ini adalah Daud bin Isya’, nabi Allah Swt.

Ibrah Kisah Thalut Versus Jalut

Dari cuplikan kisah di atas, dapat diambil ibrah di antaranya yakni nilai kesabaran. Sebagaimana yang telah ditampilkan dalam kisah Thalut versus Jalut bahwa sebagian bani Israel tetap teguh hati untuk tidak berlebihan dalam meminum air sungai. Di situlah letak kesabaran bani Israel sejatinya diuji sehingga tidak sedikit dari mereka yang gagal untuk melanjutkan peperangan karena akibat yang mereka lakukan sendiri, yakni melanggar perintah dan mengabaikan himbauan Thalut.

Ibrah tersebut layaknya patut untuk diamalkan oleh kita sebagai kaum Muslim, untuk bersabar dalam menghadapi ujian yang Allah berikan—karena dibalik kesabaran pasti ada rahasia indah yang sengaja Allah siapkan bagi yang setia dan bersabar dalam kepedihan.

Editor: An-Najmi

Tri Faizah Anggraini
Mahasiswa S2 Ilmu Al-qur'an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta