Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menelaah Ragam Munasabah Ayat dalam Al-Qur’an

munasabah
Sumber: https://islamonline.net/

Apa sih Munasabah itu?

Menurut as-Suyuthi makna munasabah secara etimologi berarti al-Musyakalah (keserupaan) dan al-Muqarabah (kedekatan). Istilah ini diungkapkan dengan kata rabth (pertalian). Adapun beberapa pendapat mengenai pengertian dari munasabah, sebagai berikut:

Menurut az-Zarkasi, Munasabah adalah suatu hal yang dapat dipahami. Tatkala dihadapkan dengan akal, maka akal itu pasti akan menerimanya. Menurut ibn al-Arabi, keterikatan ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga seolah-olah merupakan suatu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung.

Sementara, menurut al-Biqa’I, Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan dibalik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Qur’an, baik dengan ayat atau surat dengan surat. Menurut Mana’ al-Qatan, adalah sisi keterkaitan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat, atau antara ayat pada beberapa ayat, atau antara surat (di dalam Al-Qur’an).

Jadi, intinya munasabah berarti menjelaskan makna ayat atau antara surat, baik kolerasi itu bersifat umum atau khusus (rasional atau naqli), persepsi (hadis), atau imajinatif (khayali), atau kolerasi berupa sebab akibat, ‘illat dan ma’lul, perbandingan, dan perlawanan

Macam-macam Munasabah

Dalam Al-Qur’an, munasabah kurang lebih dibagi menjadi 8 macam, yaitu

1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya

As-syuyuti menyimpulkan bahwa munasabah antar satu surat dengan surat sebelumnya berfungsi menerangkan atau menyempurnakan ungkapan pada surat sebelumnya. Sebagai contoh, dalam surat al-Fatihah ayat 1 ada ungkapan alhamdullah. Ungkapan itu berkolerasi dengan surat al-Baqarah ayat 152 dan 186;

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ ١٥٢

“Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. al-Baqarah: 152)

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦

Baca Juga  Penjelasan Di Balik Fenomena Rasm ‘Utsmaniy

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqarah: 186

Berkatian dengan ilmu munasabah ini, Nasr Abu Zaid menjelaskan bahwa hubungan khusus surat al-Fatihah dengan surat al-Baqarah merupakan hubungan stiliskan kebahasaan. Sementara hubungan-hubungan umum lebih berkatian denga nisi dan kandungan.

2. Munasabah antar nama surat dan tujuan diturunkannya

Setiap surat mempunyai pembicaraan tema yang menonjol. Dan itu tercermin pada namanya masing-masing. Keserasian serupa itu merupakan pembahasan surat serta penjelasan menyangkut tujuan surat tersebut. Sebagaimana diketahui surat kedua dalam Al-Qur’an diberi nama al-Baqarah yang berarti lembu betina. Cerita tentang lembu betina yang terdapat dalam surat itu pada hakikatnya menunjukkan kekuasaan Tuhan dalam membangkitkan orang yang telah mati. Penjelasan itu tercantum dalam QS. al-Baqarah ayat 62-71.

3. Munasabah antar bagian suatu ayat

Munasabah antar bagian suatu surat sering berbentuk korelasi al-tadhadadh (perlawanan). Seperti yang terlihat pada surat al-Hadid ayat 4.

4. Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan

Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan sering terlihat dengan jelas, tetapi sering pula tidak jelas. Keterkaitan antar ayat yang terlihat dengan jelas umumnya menggunakan pola ta’kid (penguat), tafsir (penjelas), i’tiradh (bantahan), dan tasydid (penegasan). Munasabah antar ayat yang menggunakan ta’kid yaitu apabila salah satu ayat atau bagian ayat memperkuat makna ayat atau bagian ayat yang terletak disampingnya. Contohnya yaitu pada QS. al-Fatihah ayat 1-2,

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢

 “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. al-Fatihah: 1-2)

Baca Juga  Mengenal 5 Kaidah Menafsirkan Al-Qur'an Al-Sa’di
5. Munasabah antar suatu kelompok ayat dan kelompok ayat di sampingnya

Sebagai contoh dalam surat al-Baqarah ayat 1 sampai 20, Allah SWT memulai penjelasannya tentang kebenaran dan fungsi Al-Qur’an bagi orang-orang yang bertaqwa. Dalam kelompok berikutnya dibicarakan tentang tiga kelompok manusia dan sifat-mereka yang berbeda-beda yaitu mukmin, kafir dan munafik.

6. Munasabah antar fashilah (pemisah) dan isi ayat

Munasabah ini mengandung tujuan-tujuan tertentu. Di antaranya yaitu tamkin (menguatkan) makna yang terkandung dalam suatu ayat. Misalnya dalam surat Al-Ahzab ayat 25. Dalam ayat ini Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan bukan karena lemah, melainkan karena Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Tujuan dari fashilah adalah memberi penjelasan tambahan meskipun tanpa fashilah sebenarnya makna ayat sudah jelas.

7. Munasabah antar awal surat dengan akhir surat yang sama

Munasabah ini memiliki arti bahwa awal suatu surat menjelaskan pokok pikiran tertentu, lalu pokok pikiran ini dikuatkan kembali di akhir sura. Misalnya terdapat pada surah al-Hasyr. Munasabah ini terletak dari sisi kesamaan kondisi yaitu segala yang ada baik dilangit maupun dibumi menyucikan Allah sang pencipta keduanya.

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ١

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.(QS. al-Hasyr: 1)

هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ ٢٤

“Dialah Allah Yang Maha Pencipta, Yang Mewujudkan dari tiada, dan Yang Membentuk rupa. Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Dialah Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. al-Hasyr: 24)

Baca Juga  Ma’na Cum Maghza: Tawaran Penafsiran yang Sesuai Konteks Zaman
8. Munasabah antar penutup satu surat dengan awal surat berikutnya

Misalnya pada akhir surat al-Waqi’ah

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ ࣖ ٩٦

“Maka, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha agung.” (QS. al-Waqiah: 96)

Lalu berikutnya pada awal surat al-Hadid

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ١

“Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (QS. al-Hadid)

Pada permulaan surat tersebut erat sekali kaitannya dengan akhiran surat sebelumnya, sekalipun sudah dipisah dengan basmalah. Jika diperhatikan pada setiap pembukaan surat, akan dijumpai munasabah dengan akhir surat sebelumnya, sekalipun tidak mudah untuk mencarinya.

Penutup

Ilmu munasabah adalah studi tentang korelasi dalam satu ayat atau antar ayat pada beberapa ayat, atau antar surat dalam Al-Qur’an. Ada beberapa cara mengetahui munasabah, yaitu: harus memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat, uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat, menentukan tingkatan uraian-uraian tersebut (klasifikasi), dan berhati-hati dalam menarik simpulan relevansinya agar tidak dianggap “liar dan berlebihan”. Dalam dunia pendidikan tahapan-tahapan ini merupakan rangkaian yang harus diperhatikan dengan baik agar maksud dan tujuan pembelajaran sesuai dengan harapan yang diinginkan.