Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Meneguhkan Kembali Konsep Akal dan Manfaatnya Menurut Islam

Sumber: istockphoto.com

Kata akal tentu sering diucapkan dan didengar. Kata ini telah menjadi kata umum yang diperbincangkan dalam ruang pembicaraan manusia. Begitu pun dirinya, manusia ketika menguraikan maksudnya ia tidak bisa lepas dari fungsi akal yang tertanam dalam dirinya. Akal sungguh luar biasa. Dengannya, manusia bisa mengarungi kehidupan berkat dari fungsi berfikir yang tertanam dalam akal.  Dalam hal ini, fungsi akal dalam kehidupan manusia telah dijelaskan dalam al-Qur’an ketika mengemukakan kalimat yang berhubungan dengan berpikir, salah satunya adalah kata kerja ya’qilun(a).

Ruh yang didominasi oleh nafsu dikenal sebagai al-Nafs. Ruh yang dikenal sebagai al-Nafs, ruh yang dapat mengalahkan nafsu dikenal sebagai al-‘Aql dan ruh yang berhubungan dengan titik keimanan dikenal sebagai al-Qalb. Said Hawwa (1999) dalam Tarbiyyatuna Ruhiyyah menuturkan pengikatan tersebut memungkinkan ruh untuk berkenalan dengan Allah SWT; melalui pengetahuan hakiki (makrifah) dan untuk berperilaku sesuai dengan perannya sebagai hamba dan sesuai dengan perannya sebagai hamba dan khalifah. Di samping menjadi pembeda utama utama dengan makhluk dan makhluk lainnya. Masih menurutnya, melalui pemahaman seperti itu, teori-teori teori-teori perkembangan al-‘aql, al-qalb dan al-nafs juga mempengaruhi evolusi ruh dalam diri manusia.

Perkembangan Teori Akal

Menurut Ibnu Manzur dalam Lisan al-‘Arab (1997), al-‘aql (akal) secara harfiah memiliki makna yang sama dengan al-Idrak (kesadaran), al-Fikr (pemikiran), al-Hijr (pengendalian diri), al-Ribat (pengikatan), al-Man’u (pencegahan), dan al-Nahyu (larangan). al-‘Aql dapat diartikan sebagai perisai atau pertahanan bagi manusia untuk menjauhkan diri dari hawa nafsu yang dapat mencelakakan dirinya sendiri.  Dalam bahasa Hamka, ia membahasakan sebagai aspek rohaniah manusia yang berfungsi untuk menahan diri dari hawa nafsu. Oleh karena itu, ia sangat kontras dengan kebodohan seseorang.

Baca Juga  Cara Meraih Ihsân

Akal merupakan keistimewaan yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia untuk menekan kebodohan dan kebodohan. Akal merupakan unsur yang dapat membedakan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk, kebajikan dan kedurhakaan serta yang hak dan yang batil. Lebih lanjut, Hamka sebagaimana disebutkan oleh Yudiana (2013) dalam Dinamika Jiwa Dalam Perspektif Psikologi Islam menjelaskan bahwa akal diprakarsai oleh tiga unsur rohaniah yaitu al-Fikr (pikiran), al-Wijdan (emosi), dan al- Iradah (kehendak).

Pemikir lain yaitu Hassan (2019) dalam Model Pembangunan Diri Taqdir Al-Dhabt Menurut Al-Hadith lebih lanjut menjelaskan bahwa akal tidak hanya berhubungan dengan otak tetapi juga dengan hati (fuad, qalb) dan jiwa (nafs) yang dibimbing oleh taufik dan hidayah. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT: Sungguh, kami telah menetapkan banyak jin dan manusia untuk neraka. Mereka memiliki hati yang tidak memahami (firman-firman Allah). (QS. Al-A’raf 7:179)

Konsep Islam dan Barat

Menurut mazhab pemikiran Barat, akal tidak hanya dianggap sebagai satu-satunya alat untuk untuk memperoleh pengetahuan. Tetapi juga sebagai pendorong perilaku manusia. Hal ini secara tradisional mengarah pada pandangan bahwa pengetahuan hanya memiliki atribut fisik atau sesuatu yang yang dapat diukur melalui alasan atau pertimbangan akal dan indera.

Keyakinan ini kemudian mengarah pada lahirnya berbagai aliran pemikiran yang menjadi dasar bagi peradaban-peradaban psikologi Barat, sebagaimana diungkap oleh Cholik (2015) dalam Relasi Akal dan Hati menurut al-Ghazali. Pandangan seperti ini bertentangan dengan pandangan Islam yang menyatakan adanya hubungan antara akal dan hati yang berfungsi sebagai sumber pengetahuan dalam upaya memahami masalah rasional, empiris dan metafisik.

***

Para filsuf Yunani dan Muslim dalam pandangan Akin dan Muhsin (2019) dalam Discussion on the Potential of Soul According to Ibn Sina and al-Ghazali telah mempertimbangkan unsur fisik dan unsur jasmani dan rohani yang berfungsi sebagai dasar bagi manusia untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Meskipun memiliki kemampuan untuk mencari kebenaran, bukan berarti bukan berarti akal tidak memiliki kekurangan. Namun demikian, hal ini menjadi titik awal bagi akal untuk menuntut ilmu secara terus menerus.

Baca Juga  Waspada Dengan Orang Munafiq: Tafsir al-Baqarah Ayat 8

Akal dipengaruhi oleh indera yang hanya dapat bereaksi terhadap objek-objek fisik dan kemampuannya hanya terbatas pada pemahaman kerangka metafisika dan eskatologi (studi tentang kehidupan setelah kematian). Oleh karena itu, akal membutuhkan bimbingan syarak agar dapat berkembang secara sempurna.

Manfaat Akal dalam Pandangan Islam

Aisah Hamdan (2018) dalam Cognitive Restructuring: An Islamic Perspective menyebutkan beberapa manfaat akal dalam Islam. Pertama, untuk memahami realitas kehidupan yang hanya sementara. Kemampuan untuk melakukan hal tersebut akan membuat seseorang memiliki cara pandang yang positif terhadap kada dan kadar. Kedua, akal difokuskan pada kehidupan akhirat. Pikiran seperti itu dapat mengatasi kekhawatiran akan masalah-masalah dalam hidup ketika seseorang lebih fokus pada persiapannya untuk menghadap Allah SWT. Ketiga, merefleksikan diri atas alasan-alasan Allah menguji manusia. Manusia akan termotivasi ketika menyadari bahwa semua persoalan dan masalah dalam hidup adalah cara Allah SWT untuk meningkatkan derajatnya, mengampuni dosa-dosanya dan mengganjarnya dengan tempat di surga.

Keempat, keyakinan tersebut didasarkan pada Al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan hal tersebut. Kelima, fokus pada nikmat Allah SWT. Hal ini berfungsi untuk mengingatkan manusia bahwa nikmat Allah SWT jauh lebih besar daripada ujian yang diberikan kepada mereka. Keenam,  berdoa kepada Allah Swt. Gagasan ini didasarkan pada zikir dan bacaan Al-Quran yang dapat menenangkan sisi spiritual manusia. Ketujuh, memperkuat akidah. Kekuatan akidah merupakan hal mendasar karena merupakan sumber dari pemikiran dan tindakan. Wallahu A’lam.

Editor: An-Najmi