Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menahan Amarah dan Mudah Memaafkan: Ciri Orang Bertakwa

Amarah
Gambar: Tirto.id

Menahan amarah dan memaafkan merupakan bentuk ketakwaan seseorang kepada Tuhannya, seperti yang dijelaskan pada QS. Ali Imran ayat 134 bahwa sebaik-baik orang adalah yang dapat menahan amarahnya, serta orang yang memliki hati yang lapang, yakni mudah memaafkan kesalahan oranglain. Dengan itu kita harus paham dan mengerti pengertian dan urgensi keduanya.

Antara Menahan Amarah dan Memaafkan

Marah dan memaafkan sangat erat kaitannya dengan manusia. Marah adalah kekuatan setan yang disimpan oleh Allah dalam diri manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, marah dimaknai sebagai suatu sikap tidak senang disebabkan karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dan sebab-sebab lainnya.

Sedangkan dalam bahasa Arab, kata marah disebut dengan menggunakan “ghaḍab” dan “ghayẓ”. Kata al-ghaḍab berasal dari akar kata غضب-يغضب-غضبا yang berarti benci kepada seseorang sehingga bermaksud dan berusaha menyakitinya. Al-ghaḍab di sini diartikan reaksi berbuat yang cenderung permusuhan. Sementara kata al-ghayẓ berasal dari kata غاظ-يغيظ-غيظا bermakna membuatnya sangat marah. Jadi, ghayẓ itu kemarahan setingkat lebih tinggi daripada sekedar ghaḍab.

Kesimpulannya adalah perbedaan antara al-ghayẓ dan al-ghaḍab adalah al-ghaḍab berarti marah yang beralasan dan proporsional (terkendali). Sedangkan al-ghayẓ berarti marah yang beralasan namun tidak proporsional (terkendali).

Al-Ghazali berkata bahwa adanya marah dalam diri manusia adalah untuk menjaganya dari kerusaman dan untuk menolak kehancuran. Dengan itu, pengertian dari menahan marah yakni sikap menahan apa yang ada dalam dirinya dengan kesabaran, yang mana tidak menunjukkan amarah dan dendam di dalamnya.

Al-‘afwu dalam bahasa Indonesia dijumpai dengan arti maaf. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata maaf memiliki tiga arti, yaitu pertama; bebasnya seseorang dari hukuman (tuntutan, denda) karena kesalahan yang dilakukannya. Kedua; pernyataan meminta maaf atau menyesal, dan yang ketiga; pernyataan meminta ijin guna mengerjakan suatu hal. Dari ketiga arti tersebut, dalam kebiasaan sehari-hari, kata “maaf” biasanya dipakai untuk menyatakan permintaan akan maaf atau sesal.

Baca Juga  Keutamaan yang Ada di Bulan Ramadhan

Pentingnya Memaafkan Kesalahan Orang Lain

Dalam bahasa Arab, kata al-‘afwu berasal dari akar kata عفى ـ يعف ـ عفوا yang berarti memaafkan, mengampuni. Lalu dalam kitab النجد فى اللغة kata al-‘afwu dimaknai dengan  عفوة الشىء عفوته أى رفع من المرق أو لا يخص به من يكرم yang berarti menyembunyikan sesuatu yang ada pada dirinya. Yakni, melenyapkan segalanya dari keburukan yang sejak awal yang melekat pada dirinya, kemudian ia memuliakan orang lain secara khusus. Dari sinilah lahir al-‘afwu yang berarti meninggalkan sanksi terhadap yang bersalah (memaafkan).

Memahami uraian makna al-‘afwu di atas, al-‘afwu adalah memaafkan kesalahan seseorang yang melakukan salah. Tanpa harus menunggu orang yang salah meminta maaf langsung. Dapat disimpulkan bahwa ketika seorang mukmin mendapati orang menyakiti perasaannya dalam kehidupan lingkungannya, seharusnya ia langsung memberikan maaf atas kesalahan tersebut tanpa menunggu orang yang berbuat salah itu meminta maaf kepadanya.

Urgensi menahan amarah serta memaafkan adalah kesatuan nilai yang mendorong sebuah ketakwaan. Hal ini dipaparkan pada QS. Ali Imran ayat 133-134 yang menjelaskan beberapa ciri-ciri sifat orang yang bertakwa yang diantaranya adalah menahan amarah dan memaafkan kesalahan oranglain. Allah juga menjelaskan pada QS. Ali Imran ayat 3, bahwa Allah menyukai orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Yang mana memberikan pemahaman kepada kita atas keuntungan menjadi orang yang ramah dan dapat menjaga tali silaturrahim.

Kemampuan Menahan Amarah dan Sikap Orang Bertakwa

Orang yang dapat menahan amarah berarti adalah orang yang mampu menahan sifat egoisnya, yakni telah mampu meleburkan dirinya ke oranglain. Sikap menahan amarah juga merupakan salah satu bentuk karakteris orang bertakwa  yang dijanjikan Allah sebagai penghuni surga, hal ini membuktikan pula bahwa ketakwaan seseorang juga dilihat dari kemampuan menahan amarah kepada oranglain.

Baca Juga  Analisis Semantik Kata Al-Khaliq dalam Al-Quran

Dikatakan pula bahwa marah hanya dapat disembuhan dengan memaafkan. Dua hal ini berperan penting dalam menjaga tali silaturrahmi kepada oranglain. Oleh karena itu, memaafkan atau mengampuni orang lain adalah bentuk peringkat tertinggi dalam pengendalian amarah, di mana perbuatan tersebut meminimalisir adanya suatu perbuatan dendam satu sama lain. Yang mana perbuatan tersebut juga merupakan bentuk kemurahan hati atas menghindari sifat dendam yang ada pada diri manusia.

Penyunting: Bukhari

Rizka Nigtadecha Daratista
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Lamongan