Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menafsirkan Ayat-Ayat Hubungan Antar Agama

agama
Sumber: freepik.com

Sebagai masyarakat Indonesia yang hidup di tengah pluralisme suku hingga agama, sudah semestinya kita menjaga keragaman tersebut demi keutuhan bangsa dan negara. Namun sekarang sering ada gesekan antar agama yang sebenarnya tak perlu terjadi. Hal ini menyebabkan sebagian orang menyuarakan semua agama setara agar kesatuan bangsa terjaga.

Berbicara tentang hubungan antar agama, wacana pluralisme agama menjadi perbincangan utama. Pluralisme agama sendiri dimaknai secara berbeda-beda di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia, baik secara sosiologis, teologis maupun etis.

Pluralisme Agama dan Realitasnya

Secara sosiologis, pluralisme agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda.

Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme yang paling sederhana; karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain. Ajaran agama diterima oleh pemeluknya secara estafet; yang bila ditelusuri kebelakang akan ditemukan bahwa; sumbernya adalah Tuhan yang diyakini oleh pemeluk agama tersebut.

Secara pasti, setalah pembawaan agama yang menjadi Tuhan tidak lagi berada di tengah-tengah umatnya, maka pastilah petunjuk-petunjuk yang dibawanya dapat mengalami perubahan interpretasi. Bahkan memerlukan petunjuk-petunjuk praktis baru, yang tadinya belum dikenal pada masa utusan tersebut berada di tengah masyarakatnya.

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 62

Para pemikir yang berpendapat bahwa semua agama adalah setara sebenarnya tidak bisa kita terima mentah-mentah, melainkan mengerti sebab munculnya statement tersebut. Mereka sering menisbahkan pada surah al-Baqarah ayat 62 yakni:

إِنَّ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِینَ هَادُوا۟ وَٱلنَّصَـٰرَىٰ وَٱلصَّـٰبِـِٔینَ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ

[Surat Al-Baqarah 62]

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”

Dalam Tafsir al-Mizan, Muhammad Husain Thabathaba’i mengatakan bahwa Allah swt memberikan dua syarat yakni mengimani Allah swt juga hari akhir dan beramal saleh. Apabila dua syarat tersebut terpenuhi, maka seluruh umat manusia (apapun agamanya) akan mendapat keselamatan dan kebahagiaan abadi kelak di akhirat.

Baca Juga  Tafsir Surah Maryam Ayat 33: Bolehkah Mengucapkan Selamat Hari Natal?

Buya Hamka dalam tafsir al-Azhar mengatakan bahwa pada ayat tersebut ke empat golongan (Islam, Yahudi, Nashrani, dan Sabi’in) dikumpulkan menjadi satu. Mereka semua tidak akan merasakan kekhawatiran, duka cita dan bersedih hati asalkan mereka menunaikan syarat yang diberikan Allah swt yakni mau beriman kepada-Nya dan hari akhir serta keimanan tersebut diikuti oleh perbuatan yang baik. Apabila keempat golongan tersebut mau melaksanakannya, maka Allah swt akan memberikan ganjaran di sisi-Nya (Hamka, tafsir al-Azhar juz 1)

Sebab Turunnya Ayat

Dikemukakan Ibnu Abi Hatim dari Salman al-Farisi, “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang para pemeluk agama yang pernah saya anut.” Dia pun menerangkan shalat dan ibadah mereka lalu turunlah ayat ini. Diriwayatkan Ibnu Jarir dari Mujahid bahwa Salman al-Farisi pernah bertanya kepada Nabi saw. tentang orang-orang Nasrani dan pendapat Beliau tentang amal mereka. Beliau menjawab, “Mereka tidak mati dalam keadaan Islam.” Salman berkata, “Bumi terasa gelap bagiku dan aku pun mengingat kesungguhan mereka.”

Lalu turunlah ayat ini. Setelah itu Rasulullah saw. memanggil Salman seraya bersabda, “Ayat ini turun utuk para sahabatmu.” Beliau kemudian bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam agama Isa sebelum mendengar aku maka dia mati dalam kebaikan. Barangsiapa yang telah mendengar aku dan tidak mengimaniku.

Begitu pula kaum Nasrani ialah mereka yang berpegang pada kitabnya dan menjalankan syariat Nabi Isa As. hingga datangnya Nabi Muhammad SAW. Namun menurut Ibnu Abbas, ayat ini dijawab dengan ayat lain dalam surah ‘Ali Imran ayat 85 yakni:

وَمَن یَبۡتَغِ غَیۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِینࣰا فَلَن یُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ

[Surat Ali ‘Imran 85]

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.

Ayat ini merupakan pemberitahuan bahwa tak akan diterima segala amal perbuatan kecuali mereka menjalankan syariat Nabi Muhammad SAW. Adapun kaum sebelum masa itu, asalkan mereka berpegang pada rasul di zamannya maka mereka berada pada jalan keselamatan. (Ibnu Kathir, Tafsir Al Quranul ‘Adzim juz 1).

***

Tafsir surat ‘Ali-Imran Allah menetapkan bahwa barang siapa mencari agama selain agama Islam, atau tidak mau tunduk kepada ketentuan-ketentuan Allah, maka imannya tidak akan diterima oleh Allah.

Baca Juga  Makna Qur'an yang Plural dan Kontradiktif

Sebagai contoh dikemukakan, orang-orang musyrik dan orang-orang yang mengaku beragama tauhid padahal mereka mempersekutukan Allah.

Seperti Ahli Kitab penganut agama Nasrani yang tidak berhasil membawa pemeluk-pemeluknya tunduk di bawah kekuasaan Allah.

Agama yang semacam ini hanyalah merupakan tradisi belaka; yang tidak dapat mendatangkan kemaslahatan kepada pemeluknya; bahkan menyeret mereka ke lembah kehancuran, dan menjadi sumber permusuhan di antara manusia di dunia, serta menjadi sebab penyesalan mereka di akhirat.

Orang yang mencari agama selain Islam untuk menjadi agamanya, di akhirat nanti termasuk orang yang merugi, sebab ia telah menyia-nyiakan akidah tauhid yang sesuai dengan fitrah manusia.

Surat Al-Mumtahanah Ayat 8-9

لَّا یَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِینَ لَمۡ یُقَـٰتِلُوكُمۡ فِی ٱلدِّینِ وَلَمۡ یُخۡرِجُوكُم مِّن دِیَـٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوۤا۟ إِلَیۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِینَ

[Surat Al-Mumtahanah 8]

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak (pula) mengusir kamun dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaju adil.”

إِنَّمَا یَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِینَ قَـٰتَلُوكُمۡ فِی ٱلدِّینِ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِیَـٰرِكُمۡ وَظَـٰهَرُوا۟ عَلَىٰۤ إِخۡرَاجِكُمۡ أَن تَوَلَّوۡهُمۡۚ وَمَن یَتَوَلَّهُمۡ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

[Surat Al-Mumtahanah 9]

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Baarang siapa menjadikan mereka sebagai kawan,mereka itulah orang yang zalim.”

Tafsir: Tidak ada Larangan Berbuat Baik dengan yang Berbeda Agama

Ibnu Abbas menafsirkan QS. Al-Muntahanah 60 : 8-9 dengan mengatakan bahwa; “Allah tidak melarang untuk berteman dan menolong mereka (orang-orang makkah); yang berbuat adil dan menepati janji kepada Nabi dan sahabatnya mereka yaitu Bani Khuza’ah, kaum Hilal ibn Uwaimir, Khuzainah, bani Madlaj. Mereka telah berbuat baik kapada Rasul sebelum adanya perjanjian Hudaibiyah yang tidak berusaha membunuhnya, tidak mengeluarkannya dari Makkah. Akan tetapi hanya melarang untuk berteman dan menolong mereka (ahli Makkah) yang secara terang-terangan mengusir Nabi dari mekkah.

Al-Qusyairi mentafsirkan QS. Al-Muntahanah 60: 8-9 dengan mengatakan; “setelah Allah melarang untuk berteman dengan orang kafir harfi, kemudian Allah menganjurkan untuk berteman dengan kafir dzimmi yang mempunyai; akhlak yang bagus, mau berteman dan bermanfaat bagi umat islam, karena sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang berteman dalam segala hal”.

Semua ulama tafsir sepakat bahwa; berteman dengan orang non muslim yang berbuat baik, menolong, berbuat adil kepada umat Islam itu diperbolehkan; bahkan dianjurkan untuk menjalin hubungan dengan mereka dalam tataran sosial; tetapi tidak boleh untuk berteman dengan mereka yang secara terang-terangan memusuhi; memerangi umat Islam, atau yang mengusir paksa penduduk dari suatu negri.

Asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) Al-Qur’an surat Al-Muntahanah 60: 8-9 turun karena; adl¹anya sebuah peristiwa sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ahmad dan ain-lain dari Abdullah Ibn Zubair; “pada suatu hari Qutailah binti Abdil Uzza (non muslim) datang kepeda anaknya Asma’ binti Abi bakar dengan membawa beberapa hadiah.

Asma’ menolak hadiah itu, bahkan melarang dia untuk masuk rumah sebelum Asma’ bertanya kepada Aisyah; bagaimana pendapat Rasul berkenaan dengan itu turunlah QS. Al-muntahanah 60: 8-9. Nabi menyuruh Asma’ menerima hadiah dari ibunya, dan menyambutnya sebagaimana mestinya. Akan tetapi ada yang menyatakan bahwa; ayat ini turun mengenai Khuza’ah Banil Harts, Kinanah, Muzainah, dan beberapa golongan Arab yang telah berdamai dengan rasulullah untuk tidak memeranginya dan tidak pula memihak kepada musuh.

Kemajemukan Agama di Sekitar Kita

Dalam sebuah masyarakat yang dicirikan oleh kemajemukan agama; tidak ada hal yang sedemikian penting dan mendesak seperti hubungan antar umat beragama. Berbicara tentang hubungan antar agama, wacana pluralisme agama menjadi perbincangan utama. Pluralisme agama sendiri dimaknai secara berbeda-beda di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia, baik secara sosiologis, teologis maupun etis.

Secara sosiologis, pluralisme agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda.

Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme yang paling sederhana; karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain.

Editor: Ananul Nahari Hayunah

Baca Juga  Tafsir Kata Iri. Benarkah Dilarang?