Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Memuhammadiyahkan Rizieq Shihab

Rizieq Shihab
Sumber: Bing.com

Barangkali jika diamati dari segi popularitas individu, Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah) mungkin kalah pamor dengan Rizieq Shihab. Selain karena Haedar tampak tak suka dengan patronasi individu, harus diakui, Rizieq mendapatkan pendukung yang fanatik. Lebih-lebih saat aksi bela Islam mulai merebak dan di-reunikan berkali-kali. Hal lain yang mesti diperhatikan ialah pengaruh Rizieq dan FPI yang sedikit banyak menyusup masuk ke dalam Muhammadiyah, kita lalu mengenal istilah MUFI (Muhammadiyah-FPI).

Bagaimana jika Rizieq Shihab masuk ke Muhammadiyah? Tentu menguntungkan bila ditimbang dari bertambahnya kader Muhammadiyah, biarpun merugikan di sisi yang lain. Ketokohan Rizieq yang keras, kaku dan tanpa jalan kompromi dapat mereduksi ajaran Muhammadiyah.

Untuk itu, bila Rizieq Shihab berniat gabung Muhammadiyah, atau Muhammadiyah ingin merekrut Rizieq, beberapa hal ini mesti diperhatikan.

Sedikit Bicara Banyak Kerja

Haedar Nashir, pada Milad Muhamamdiyah ke 104 menyatakan pentingnya memiliki etos kerja yang baik. Ketua Umum PP Muhammadiyah ini berujar; “Bangkitkan kembali etos yang baik dengan semboyan yang baru, sedikit bicara, banyak berpikir dan bekerja” (Republika, 18/11/2016).

Prinsip sedikit bicara, banyak berpikir dan bekerja bukan sikap yang baru dalam sepak terjang Muhammadiyah. Sedari awal keberadaannya, Muhammadiyah mengambil jalan bekerja nyata, alih-alih terjebak dalam verbalsime dakwah belaka.

Etos tersebut misalnya, dicontohkan oleh KH Ahmad Dahlan yang gemar berdakwah dengan tindakan nyata. Bahkan dengan sikap yang demikian, ia acap dijuluki seorang pragmatikus.

Ini etika dasar yang harus dimiliki oleh Rizieq Shihab jika ingin masuk Muhammadiyah, tentu selain dari kewajibannya untuk mengikuti Baitul Arqam. Beliau harus lebih memperbanyak usaha untuk mendengarkan alih-alih menambah ucapan, apalagi mengumpat, mencaci dan menuduh.

Baca Juga  Mengamalkan Asmaul Husna dalam Kehidupan

Dari Jihad Mu’aradhah Menuju Jihad Muwajahah

Sebagaimana dikutip Ari Susanto, pada pernyataan Muhammadiyah Abad Kedua tertulis bahwa model perjuangan melawan sesuatu (jihad lil mu’aradhah) cenderung bersifat kekerasan, konfrontasi dan acaman yang menimbulkan kerusakan. Ummat Islam harus bergerak dan berjuang menyelesaikan problem secara konkret (jihad lil muwajahah) (IBTimes, 24/11/2020).

Ciri gerakan Muhammadiyah adalah kritik melalui karya, dan memang mesti diakui bahwa karya adalah kritik paling baik. Muhammadiyah mengaktualisasikan prinsip amar makruf nahi munkar melalui jalan kekaryaan. Tentu tanpa melepaskan sikapnya yang kritis, tajam serta berpinsip.

Hal ini penting untuk diketahui oleh Rizieq Shihab jika berencana bergabung dengan Muhammadiyah. Bertitik tolak pada dasar teologis yang sama, amar makruf nahi munkar, pola gerakan harus diubah menjadi jihad kekaryaan ketimbang jihad pemberontakan yang justru acapkali hanya menimbulkan kekerasan dan pengrusakan.

Demo dan Perpustakaan

Muhammadiyah dalam melihat realitas sosial dan segala kritik didalamnya bertumpu pada kesadaran ilmu sebelum bersikap. Lebih dari itu, Muhammadiyah mengedepankan sikap kooperatif dan dialog dalam kritik-kritiknya ke pemerintah. Persoalan hukum yang berkelindan dalam dinamika kebangsaan harus dicandra dalam pandangan yang lebih komprehensif.

Problematika kebangsaan jangan sampai melupakan usaha untuk membangun bangsa melalui ilmu pengetahuan. Mengenai kasus penisataan pada 2016 silam, misal, Haedar Nashir secara elegan dan menggelitik mengungkapkan:

“Mengumpulkan orang demo memang lebih mudah, berbeda dengan mengajak orang ke perpustakaan atau mengembangkan ilmu pengetahuan”

Menurut penulis, ada pesan dalam dari pernyataan tersebut atas. Haedar Nashir seolah ingin memberikan arus utama arah ummat Islam ke depan. Bahwa fokus utama kita adalah pembangunan kebangsaan, maka segala hal yang bersifat kontraproduktif jangan sampai memberhentikan laju usaha pembangunan bangsa dan agama. Bahwa terdapat kasus hukum yang berkelindan di masyarakat niscaya harus terus diperhatikan, tapi jangan sampai euforia di jalan sampai menutup kesadaran kolektif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan lainnya.

Baca Juga  Benarkah Islam Bertentangan Dengan Komunisme?

Dalam hal ini, bila Rizieq Shihab berkehendak masuk dalam keanggotaan Muhammadiyah, beliau harus mengurangi hobi untuk demonstrasi dan bergerombol. Ia harus mengedepankan pembangunan kualitas ummat alih-alih terpaku pada menambah-nambah kuantitas. Untuk hal ini yang dikedepankan adalah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di Muhammadiyah infrastruktur pengembangan ilmu pengetahuan ini tak perlu dirisaukan Rizieq. Bejibunnya lembaga pendidikan Muhammadiyah adalah ladang untuk menanam personalia ummat yang tumbuh menjadi manusia yang kuat tauhidnya, moderat sikapnya, dan luas cakrawala berpikirnya.

Beragama yang Moderat

Untuk hal ini barangkali tidak perlu diragukan lagi. Bahwa Muhammadiyah sedari awal menunjukkan ciri keberagamaan yang moderat. Ia tak ingin terjebak pada truth claim dan salvation claim. Merasa kelompoknya paling benar hingga terjebak dalam ananiyah hizbiyah (fanatisme kelompok).

Muhammadiyah tidak ingin mengakumulasi kebenaran, merasa memahami dan menghayati sendiri agama sebagai satu-satunya kebenaran. Wujud dari sikap beragama yang moderat itu dilihat dari pilihan Muhammadiyah dalam berpikir, kelompok ini sebagaimana sering dinyatakan Haedar Nashir, menggunakan pendekatan interdisipliner dalam mengkaji Islam.

Dalam persoalan itu, Muhammadiyah moderat dalam epistemologi. Belakangan sering diucapakan pentingnya berpikir dari dasar epistemologi yang integral: bayani, burhani, dan irfani.

Sikap beragama yang moderat itu tercermin pula dalam sikap Muhammadiyah untuk menanggapi pluralitas, keragaman dalam konteks ke-Indonesiaan maupun ke-Islaman. Muhammadiyah tak ingin merasa diri sebagai kelompok paling benar untuk kemudian menuduh yang lain sebagai yang paling keliru.

***

Demikian idealnya bila Rizieq Shihab berencana untuk masuk dalam Muhammadiyah. Ia harus kembali mengulang pelajaran epistemologi dasar, belajar bersabar untuk merespon masalah masyarakat dan tak mudah menegasikan kelompok yang lain. Ia harus belajar menghargai keragaman kebangsaan dan keIslaman sebagai keharusan sejarah dan merupakan sunnatullah dari Tuhan yang maha kuasa.

Baca Juga  Karakter Islam Moderat di Indonesia Abad ke-21

Muhammadiyah kini saya pikir mesti duduk bareng dengan Rizieq Shihab, beliau harus diberikan kesempatan untuk berbicara sambil mendengarkan nasihat dari Muhammadiyah. Itu adalah usaha untuk me-Muhammadiyah-kan Rizieq.

Terima kasih para pembaca budiman, semoga Rizieq segera mendaftarkan diri di Baitul Arqam. Kita sama-sama menanti.

Editor: Ananul Nahari Hayunah