Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Membumikan Nilai Demokrasi Religius dan Khoiru Ummah dalam “Menjaga Indonesia”

Demokrasi
Sumber: nasional.republika.co.id

“Tidak dikatakan khoiru-ummah jika kita tidak memiliki dan memahami kesatuan antara dunia dan akhirat, kesatuan kemanusiaan, ilmu dunia (umum) dan syari’ah, hukum dan keadilan.”

Quraish Shihab, dalam Kajian Tafsir Al-Mishbah pada tahun 2007

Tepat pada malam ke-28 Ramadhan tahun ini, DPD IMM Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar diskusi bedah buku Azyumardi Azra yang berjudul “Menjaga Indonesia”. Dalam bedah bukunya beliau memaparkan isi dalam buku yang masih “fresh from the oven” tersebut, yang penulis garis bawahi pada tulisan kali ini ialah tantangan dalam upaya menjaga Indonesia.

Terdapat beberapa poin yang menjadi garis besar, yaitu; pertama, menguatkan identitas keIndonesiaan. Beliau menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekuatan historis yang bersumber dari sebuah penelitian, bahwa entitas Indonesia yang beragam ini justru dikuatkan oleh ikatan keberagamaan.

Kedua, pada perannya partai politik di Indonesia perlu untuk kemudian berbenah diri. Revitalisasi peran partai politik dalam menjaga dinamika politik nasional adalah penting, mengingat dalam beberapa kurun waktu terakhir kita mendapati partai politik justru membelok dari arah orientasi social-kemasyarakatannya.

Ketiga, rekonsolidasi demokrasi di Indonesia. Pada poin ini Azyumardi menjelaskan terdapat problematika kebangsaan dalam konteks demokrasi. Demokrasi di Indonesia justru mengalami back-sliding (kemerosotan) yang pada nilai substasinya menjauhkan Indonesia dari kata demokratis. Eksistensi Indonesia masih belum final dan berada dalam tahap “menjadi” memerlukan upaya penjagaan demokrasi dalam konteks keindonesiaan.

***

Permasalahan tersebut seakan sepele untuk didengar, karena kita telah menjalani proses demokrasi selama 20 tahun lebih, Ketika lengsernya rezim Soeharto atas nama reformasi demi demokrasi. Tetapi jika tidak diatasi masalah ini akan menjalar dan berkembang biak.

Sejalan dengan itu, fenomena ini patut dijadikan sebagai objek muhasabah terkhusus bagi kita ummat beragama, yakni Muslim. Selain angka populasi yang menjadi “keunggulan”, kegagalan dalam menjaga Indonesia justru patut diakui sebagai “kelemahan” untuk sementara ini. Dan sebagai manusia, tidak ada salahnya jika kita salah dan kemudian berbenah.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 20: Penglihatan Mereka Tertutup

Pada tulisan kali ini, penulis sekiranya hendak berupaya menjawab permasalahan rekonsolidasi Indonesia dengan mengangkat sebuah gagasan dari Prof. Muhammad Azhar, “Demokrasi Religius” penulis merasakan satu tarikan nafas yang sama dimana latar belakangnya ialah Menyusun Kembali konsep demokrasi yang compatible dengan keindonesiaan. Sejalan dengan hal tersebut perlu juga merujuk kembali pada nilai dasar wahyu yang termaktub dalam kitab suci al-Qur’an dan disini kita akan membahas Khoiru-Ummah.

Kontekstualisasi Khoiru Ummah dalam Ber Demokrasi

Istilah khoiru ummah yang saat ini kita bahas diangkat dari QS. Ali-Imran: 110, yang menjelaskan bahwa ummat muslim sejatinya adalah ummat terbaik yang dipilih oleh Allah. Kata “ummah”, berasal dari “ا م م” yang dapat menjadi kata “ummun” (ibu), juga bisa “imaamun” (pemimpin). Ummat pada makna lebih mendalam menurut Quraish Shihab ialah sekelompok orang yang memiliki dasar yang sama, dasar yang sama, yang memiliki teladan (pemimpin) di depannya.

Namun pada substansinya, eksistensi khoiru ummah hanya didapat bagi mereka yang ber-amar ma’ruf dan nahi munkar (mengajak kebenaran dan mencegah kemungkaran). Tak hanya itu, mereka juga beriman kepada Allah. Wujud keimanan, salah satu yang utama ialah percaya akan ke-Esa-annya (Tauhiid). Dalam satu pengibaratan, Matahari yang menjadi poros sekaligus pusat bagi tata surya bahwa setiap keterikatan planet memiliki kesatuan dan keteraturan. Jika tidak teratur maka terjadi benturan, jika tidak menyatu maka akan terlepas.

Begitu juga Tauhid terdapat kesatuan-kesatuan yang berpangkal dari ke-esa-an Tuhan, yakni; kesatuan antara dunia dan akhirat bahwa buah dari kehidupan di dunia akan dipetik kelak di akhirat. Selanjutnya kesatuan dalam kemanusiaan, semua manusia sama dan tidak boleh mendiskriminasi (zhalim) satu sama lain. Kesatuan ilmu dunia dan syari’ah. Dan kesatuan hukum dan keadilan.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 67-74: Menyembelih Lembu Betina (3)

Pada gilirannya kesatuan antara subjektifitas seorang muslim harus menyatu dan terimplementasi pada objek-objek duniawi. Demokrasi sebagai objek perlu untuk dijaga dalam moralitas subjektif yang islami (membawa keselamatan).

Demokrasi Religius sebagai Koridor Islamisitas Demokrasi

Kembali pada bedah buku, Azyumardi mengistilahkan “islamisitas” di berbagai sektor kebangsaan. Terambil dari kata islami (memberi keselamatan) atau membawa rahmat (rahmatan lil alamiin) dalam makna yang lebih universal dan objektif, kebaikan, kejujuran, keadilan, disiplin, keindahan, dan lain-lain yang menjadi dimensi aksiologis dalam berislam. Rekonsolidasi demokrasi memiliki konsekuensi untuk menjadi demokrasi yang “islami” pula.

Senada dengan keresahan tersebut, gagasan Prof Azhar tentang demokrasi religius dapat penulis katakan sebagai jembatan yang kelak menjelma menjadi koridor ummat muslim untuk berdemokrasi. Tidak sampai pada tataran agenda strategis yang ditawarkan beliau pada gagasannya, penulis mengangkat nilai yang terkandung dalam asumsi-asumsi dasar pada gagasan ini.

Demokrasi, pada kelahiran dan perkembangannya secara objektif lahir dalam konsepsi negara liberal. Agama pada penerapannya diposisikan di ranah privat sehingga tidak dijadikan nilai yang universal dan objektif. Nilai dasar demokrasi, yaitu kebebasan, kesetaraan, dan hak asasi manusia merupakan fondasi bagi negara yang demokratis.

Kebebasan yang dimaknai dari asumsi negara liberal seperti Amerika; akhirnya melahirkan berbagai legalitas dan nilai universal yang kerap beselisih dengan nilai agama seperti LGBTQ dan lain sebagainya. Namun benih dari nilai tersebut berakar dari local wisdom (lokalitas) dimana agama tidak menjadi entitas utama.

Berbeda terbalik dari Indonesia, yang justru disatukan oleh agama; lokalitas tak jauh terlepas dari konsep tatanan masyarakat yang dibangun di atas nilai-nilai agama. Sejarah telah membuktikan bahwa spirit perjuangan kemerdekaan berasas dari integritas masyarakat pada agama; baik Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan agama lainnya. Dengan kata lain, demokrasi religius adalah upaya penjinakan demokrasi sehingga konsep demokrasi tidak ditelan bulat-bulat dan pada gilirannya menyalahi identitas keIndonesiaan.

Baca Juga  Mengedepankan Dialog dan Musyawarah

Toleransi yang memang tidak menerima kebenaran pada tataran aqidah yang melanggar syari’ah, akan tetapi rahmah; keselamatan, kesejahteraan, kedamaian menjadi cita-cita kemanusiaan yang hakiki. Maka nilai agama yang bersifat subjektif patut di-objektifikasi-kan sebagai upaya membangun konsep demokrasi yang universal berkearifan lokal karena hanya dengan demikian kedamaian dalam keberagamaan dapat terakomodir.

***

Sebagai penutup, menjaga Indonesia merupakan kewajiban kita sebagai manusia Indonesia yang menjunjung kemanusiaan yang adil dan beradab. Beragama sejak dalam pikiran sampai Tindakan perlu dimaknai secara kaffah tidak parsial justru membawa pada sikap ekstrimis-radikal. Menjadi radikal tidaklah salah selama berakar pada akar yang tepat untuk menjadi pohon yang memberi manfaat. Khoiru ummah merupakan subjektifitas ummat muslim yang patut tertanam dalam spirit beragama serta bernegara.

Demokrasi religius menjadi koridor bagi kita ummat muslim dalam rekonsolidasi demokrasi yang “islami” dalam persepektif Indonesia dan keIndonesiaan. Dan tugas kita adalah menjawab tantangan dan peluang dalam membumikan nilai agama pada koridor sekaligus titik temu kemanusiaan yang bernama demokrasi.

Editor: Ananul Nahari H.

Hizba Muhammad Abror
Hizba Muhammad Abror dari Samarinda, Kalimantan Timur. Saat ini menempuh masa studi S1 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Fakultas FAI program studi Pendidikan Agama Islam. Dan aktif di Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah FAI UMY.