Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Membedakan Kebenaran Al-Qur’an dan Penafsiran Al-Qur’an

penafsiran al-qur'an
Sumber: freepik.com

Al-Qur’an  adalah  kitab  suci  terakhir  yang  diturunkan  kepada Nabi  Muhammad  sebagai  khatam  al-anbiya’(penutup  para  nabi). Sehingga tidak akan turun lagi kitab samawi setelah Al-Qur’an. Oleh karena itu sangat logis jika prinsip-prinsip universal Al-Qur’an akan senantiasa relevan dari waktu ke waktu dan tempat (shahih li kulli zaman wa makan). Maka tidak heran begitu banyak bentuk penafsiran yang berbeda dikarenakan tuntutan zaman yang berbeda.

Memang secara normatif kitab suci Al-Qur’an sudah diyakini memiliki kebenaran yang bersifat mutlak. Namun berbeda dengan tafsirnya. Kebenaran suatu produk penafsiran Al-Qur’an lebih bersifat relatif dan tentatif. Dikarenakan tafsir merupakan respon dari seorang mufassir ketika memahami suatu teks dari kitab suci, situasi, dan problem sosial yang berbeda dari zaman ke zamannya. Dengan kata lain sesungguhnya ada suatu jarak yang membentang antara Al-Qur’an dan penafsirnya.          

Antara Penafsiran dengan Teks Al-Qur’an

Saya sedikit memiliki pengalaman tentang segelintir orang yang menyamakan hasil penafsiran dari mufassir yang diikutinya atau dikaguminya dengan makna teks dari Al-Qur’an itu sendiri. Padahal dalam suatu penafsiran tidak ada yang benar-benar objektif. Karena seorang mufassir memiliki prior text yang memungkinkan bahwa ayat al-Qur’an yang ia tafsirkan bisa tereduksi dan terdistorsi maknanya.

Pada dasarnya setiap mufassir sangat dipengaruhi oleh berbagai latar belakang kultural, situasi, problem sosial yang tengah dihadapi. Serta berbagai corak pemikiran yang melatarbelakangi penafsirannya. Dalam artian yang lebih jelas, ketika seorang mufasir sudah menyelami teks dari Al-Qur’an maka sebenarnya ia sudah memiliki prior text. Yakni latar keilmuan, konteks sosial politik, kepentingan, corak dan tujuan dari penafsiran.

Dengan penjelasan tersebut, sudah jelas bahwasannya hasil penafsiran Al-Qur’an tidaklah sama dengan Al-Qur’an itu sendiri. Karena sebuah penafsiran tidak hanya memproduksi makna teks, tetapi bahkan menciptakan makna baru dari ayat al-Qur’an sesuai dengan masing-masing corak pemikirannya.

Baca Juga  Sekelumit Kisah Penghafal Al-Quran

Jangan Fanatik!

Dewasa ini, dimana paradigma tafsir diwarnai dengan ragam model, sebut salah satunya ialah model Hermeneutika Gadamer. Menurut Gadamer suatu teks tidak hanya diproduksi maknanya saja, melainkan juga harus memproduksi makna yang baru seiring dan sejalan dengan latar belakang corak penafsirnya. Lebih lanjut menurut Gadamer mengatakan, “That is why understanding is not merely a repro-ductive, but always a productive attitude as well.”

Dengan begitu, ayat al-Qur’an menjadi lebih hidup dan kaya akan makna (Hanafi H. , Al-Yamin wa al-Yasar fi al-Fikri ad-Dini, hlm. 77.). Dimana ayat menjadi lebih dinamis pemaknaannya dan selalu kontekstual seiring dengan akselerasi perkembangan budaya maunpun zaman.

Terkait  dengan  hal  ini,  Amina  Wadud  dengan  tegas  mengatakan: Although  each  reading  is  unique,  the  understanding  ofvarious readers of single text will converge on many points. Selain tu, dia juga mengatakan bahwa tidak ada metode tafsir yang benar-benar objektif. Karena masing-masing interpretasi cenderung mencerminkan pilihan-pilihan yang subjektif dan relatif (Wadud, hlm 127).

Maka daripada itu walaupun satu ayat al-Qur’an. Tetapi ketika ditafsirkan oleh berbagai mufasir, maka makna suatu ayat tersebut dipastikan akan beragam dan bervariasi. Dengan berpegang ke asumsi bahwa produk penafsiran itu bersifat relatif dan tentatif. Maka hal itu akan semakin memberikan peluang bagi mufasir untk menafsirkan ayat al-Qur’an sesuai dengan tuntutan zaman. Tanpa ada beban psikologis dan teologis manapun.

Terbuka Bagi Semua Penafsiran

Dari berbagai fenomena tersebut dapat memberikan isyarat betapa penafsiran al-Qur’an memiliki daya tarik tersendiri baik bagi yang mengkajinya. Sekadar untuk tuntutan akademis maupun bagi kita yang mengkajinya untuk mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an.

Maka disini, saya cenderung mengajak kepada pembaca yang sedang menggeluti ilmu tafsir, jangan meyelami satu bentuk tafsir saja melainkan semua bentuk tafsir perlu untuk kita pahami dan pelajari lebih lanjut. Karena ketika kita hanya fanatik terhadap satu tafsir, maka tidak tertutup kemungkinan akan sulit menerima tafsir dengan corak mufasir yang lainnya.

Baca Juga  Tafsir Ath-Thabari: Kitab Tafsir Spektakuler

Hal tersebut tentu mempersempit pemikiran masing-masing individu. Dan tentu bagi kita yang menyelami berbagai bentuk penafsiran diharapkan untuk memfilter berbagai pendapat mufasir, baik itu yang bertujuan memproduksi makna dari ayat al-Qur’an maupun memproduksi makna baru dari ayat Al-Qur’an.

Penyunting: M. Bukhari Muslim