Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Membaca Kembali Surat an-Nisa’ Ayat 103: Filosofi Waktu-waktu Salat

Salat yang merupakan salah satu dari kelima rukun Islam adalah ibadah yang sangat terikat dengan waktu. Hal tersebut sesuai dengan Firman-Nya dalam Surah an-Nisa’ (4), ayat 103, yang berbunyi,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ الصَّلَوةَ فَاذْكُرُوْا اللَّهَ قِيَمًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِكُمْ * فَإذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيْمُوْا الصَّلَوةَ * إنَّ الصَّلَوةَ كَانَتْ عَلَى المُؤْمِنِيْنَ كِتِبًا مَوْقُوْتًا (النساء: 103)

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat (mu), ingatlah Allah Swt di waktu berdiri, waktu duduk dan waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasanya). Sesungguhnya salat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. an-Nisa’(4): 103).

Waktu-waktu salat yang telah ditentukan tersebut tentunya memiliki ketentuan khusus, sehingga akan memunculkan beragam pertanyaan. Salah satunya, mengapa kelima waktu tersebut menjadi pilihan? 

Filosofi Waktu-waktu Salat 

Menurut mayoritas ulama, penentuan lima waktu dan jumlah raka’at salat adalah ta’abudiy (dogmatis). Namun, menurut sebagian ulama yang lain, ada beberapa pesan tersirat (hikmah) ataupun filosofi dalam penentuan waktu tersebut. 

Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairomy, dalam kitabnya yang berjudul “Hasyiah al-Bujairomy ‘ala al-Khotib” (juz. 2, hal. 8-9) menyingkap makna tersirat atau filosofi dari waktu-waktu sholat tersebut. 

Menurut beliau, waktu-waktu sholat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. memiliki keistimewaan tersendiri. Waktu-waktu tersebut mengingatkan kita pada fase-fase kehidupan yang pasti dilalui oleh manusia.  Berikut adalah paparan detailnya.

Salat Subuh

Terbitnya fajar shodiq yang menjadi pertanda awal terbitnya matahari adalah sebagai simbol waktu dilahirkannya manusia. Oleh karena itu, pada waktu tersebut diwajibkan melaksanakan salat Subuh.

Salat Zuhur

Tahap berikutnya adalah bertenggernya matahari di puncak cakrawala. Posisi ini menggambarkan kondisi manusia dikala muda, dimana ia dapat memuaskan segala hasratnya, seperti matahari yang terpuaskan karena dapat membagi secara sempurna pancaran sinarnya. Oleh karena itu, pada waktu tersebut diwajibkan melaksanakan shalat Dzuhur

Baca Juga  Ingin Bergadang yang Berpahala? Begini Penjelasannya!

Salat Ashar

Ketika matahari bergeser dari puncak langit (berada di ufuk barat) adalah gambaran dimana setiap manusia pasti akan berubah menjadi tua dan lemah. Demikian ini adalah waktu Ashar, waktu matahari bergerak menuju kematian. Oleh karena itu, pada waktu tersebut diwajibkan melaksanakan salat Ashar.

Salat Maghrib

Waktu maghrib mengingatkan kita terhadap waktu kematian. Hancur dan musnahnya jasad dalam kubur adalah puncak dari hancurnya segala sesuatu yang bercirikan materi. Oleh karena itu, pada waktu tersebut diwajibkan melaksanakan salat Maghrib.

Salat Isya’

Waktu hilangnya mega merah dari ufuk barat (waktu Isya). Ia menjadi perlambang bagi keberadaan matahari. Ketika matahari kehilangan sinarnya, berarti ia telah kehilangan eksistensinya. Karena pengakuan terhadap eksistensi matahari sangat tergantung pada sinarnya. Matahari dikenal karena sinarnya, bukan karena materialnya yang berada jauh diluar angkasa. Begitu juga manusia, ketika jasadnya telah binasa, maka lambat laun ia akan dilupakan juga; apakah ia pernah ada atau tidak? Oleh karena itu, pada waktu tersebut diwajibkan melaksanakan salat Isya.

Waktu-waktu tersebut memiliki makna-makna yang tersirat, oleh karena itu, dibutuhkan sesuatu yang dapat mengingatkan makna-makna tersebut. Untuk mengingat dengan mudah, seseorang membutuhkan sebuah fenomena nyata. Suatu momen yang penuh makna tidak akan segera sirna jika dilihat dalam seremonial tertentu. 

Oleh karena itu, untuk mengingat makna tersirat waktu-waktu di atas, pengerjaan salat diharapkan dapat menjadi pengingat siklus kehidupan manusia sehingga setiap manusia diharapkan sadar diri bahwa besok ia akan mengikuti ketentuan waktu.

(Hasyiah al-Bujairomy ‘ala al-Khotib, juz. 2, hal. 8-9)

Demikianlah salah satu pesan tersirat dan filosofi dalam penentuan waktu-waktu sholat, tentunya masih banyak pesan tersirat yang tidak bisa dihidangkan pada kesempatan kali ini.

Baca Juga  Segala Perbuatanmu Akan Kembali Pada Dirimu Sendiri

Wallahu a’lamu bishshowab

Ryan Romadhon
Wisudawan Angkatan Pertama Ma’had Aly Ponpes Al-Iman Bulus Purworejo Jawa Tengah Takhassus Tafsir wa Ulumuhu dan Redaktur Bilqolam Al-Iman Bulus