Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Memaknai Covid-19 Sesuai Kitab Wabah Karya Atsqolani (2)

wabah
Sumber: lazada

Namun, fakta yang menarik bahwa secara redaksional kitab ini cenderung memaknai wabah dengan bahasa tho’un. Walhasil, segala dinamika pandemi apapun bentuknya tergolong tho’un secara kontekstualitas narasi pada kitab Badhlul Ma’aun fi Fadhlit Tho’un Oleh Al Hafidz Ahmad Bin Ali Bin Hajar Al Atsqolani. Sesungguhnya tho’un yang ada juga dapat diusir melalui dzikir dan doa. Salah satunya melalui surat al Baqarah. Banyak redaksi yang telah disebutkan dalam kitab ini yang mana sebagian besar mempunyai orientasi untuk dapat membaca surat al-Baqarah setiap waktu. Tentu saja alasan dari hal ini dikorelasikan dengan penyebab tertentu. Penyebabnya adalah syaitan dan jin lari apabila mendengar surat al Baqarah dibaca.

Cara Menghadapi Wabah

Tentu saja penulis dapat dugaan kesimpulan bahwa wabah tho’un sebenarnya juga berkaitan dengan syaitan dan jin entah dari sudut penyebaranya ataupun karena ini merupakan siksa bagi manusia. Namun, bab ذكر الز جر عن الخرو ج من البلد الذ ییقع فیها الطا عون فرا را منه Atsqolani menjelaskan bahwa apabila tho’un melanda sebuah negeri maka lebih baik lari dan keluarlah dari negeri itu. Karena penyebaranya bagaikan banjir bandang yang siap menerjang seluruh bangunan yang ada. Secara gamblang beda dengan pandemi sekarang ini, justru reaksi dari WHO PBB juga dengan pakar kesehatan serta pandemi lebih memungkinkan untuk stay at home atau familiar dikenal dengan working from home (WFH). Bukan tanpa alasan mengingat mobilitas manusia di era ini rentan dengan frekuensi yang tinggi. Efek mudahnya berpindah dari satu tempat ke tempat lainya menimbulkan intimidasi penyebaran Covid-19 begitu cepatnya. Jelasnya beda masa juga beda keadaanya.

Untuk membahas cara aman dari tho’un dengan keluar dari satu wilayah ke wilayah yang lain, Syeikh Ibnu Hajar Al Atsqolani membahas detail mulai dari pembahasan Hadits. Hadits yang telah dibahas setidaknya ada sekitar 100 lebih, namun tidak semua diberikan derajat hadits. Ada beberapa hadits yang dijelaskan diantaranya dari ulama’ ahli hadits Shohih. Ulama’ masyhur tersebut sering dikenal dengan hadits shohihaini (Imam Bukhori dan Imam Muslim). Tentu saja redaksi hadits tersebut berbeda akan tetapi memiliki tujuan dan maksud yang sama yaitu sebuah saran untuk semaksimal mungkin menjauhi wabah dari tempat menyebarnya.

Baca Juga  Covid-19: Mengenali Wabah, Memetik Berkah

Selanjutnya, Hajar Atsqolani menjelaskan qishoh dari sebuah cerita nyata dari berbagai sumber dikala terhindar dari tho’un dengan segala cara. Cerita yang ada juga sangat detail dengan sebuah fenomena tho’un dari berbagai sudut tempat dan waktu. Dalam pembahasan ini juga tidak ketinggalan redaksi pembahasan berbentuk causalitas, pendapat ulama’, dan  hikmah yang terkandung untuk menjauhi tho’un dengan cara lari dari tempat penularanya.

Berdo’a Menghadapi Wabah

Tidak lupa pada akhir sesi pada kitab Badhlul Ma’aun fi Fadhlit Tho’un yang dilakukan adalah do’a. Do’a yang disarankan oleh Syeikh Ibnu Hajar Al Atsqolani di antaranya رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ اِنَّا مُؤْمِنُوْنَ dari surat ad dhukhon ayat 12, قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ dari surat Al A’rof ayat 23, dan tentunya masih banyak do’a lainya yang dapat dibaca oleh kita selama covid-19 gelombang ke dua ini. Lalu, anjuran yang diberikan oleh syeikh adalah bersabar dalam menghilangkanya dengan hati-hati. Hal ini sama dengan yang sedang digaungkan oleh pemerintah yaitu  5 M (menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas sehari-hari).

Sedangkan upaya untuk menghilangkanya dengan cara usaha preventif oleh pemerintah dengan upaya vaksinasi. Tentu saja target ini sangat potensial dalam menghilangkan covid-19 dengan membuat lingkangan komunitas herd immunity. Target untuk mencapainya minimal 70% dari total populasi sebuah negara. Sebetulnya pemerintah Indonesia bisa lebih proporsional dengan target PPKM Darurat dengan target 70 % populasi bukan secara nasional, namun dari aspek segi mikro tentunya. Bisa jadi hitungan 70 % dalam herd immunity ini dijangkau di wilayah per kabupaten yang termasuk zona hitam ke oranye untuk selanjutnya daerah yang masih zona kuning ke hijau bisa mendapatkan porsi selanjutnya. Bukan tracing vaksinasi berdasarkan jenjang komunitas prioritas dalam mendapatkanya.

Baca Juga  Utopia Kelahiran Neo-Cak Nur (1): Pergeseran Orientasi Kalangan Muda

Akan tetapi tantanganya adalah target nasional juga harus dikejar dengan masa PPKM darurat secara nasional. Di samping itu, ada lagi challenge yaitu stok vaksin. Bukan hanya tho’un atau wabah, namun seluruh penyakit juga harus ada upaya dengan berdo’a kepada Allah SWT untuk kesehatan dan minta dijauhkan daripadanya.

Editor: An-Najmi Fikri R

Ahmad Afif
Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Pusat 2020-2025 Dewan Pendidik Pondok Pesantren Cendekia Amanah,Kota Depok