Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Memaknai Covid-19 sesuai Kitab Wabah Karya Atsqolani (1)

wabah
Sumber: lazada

Wabah Covid-19 semakin membabi buta di akhir bulan Juni sampai Juli 2021 ini di Indonesia. Atas lonjakan fase ke dua ini, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan pengetatan aturan seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), namun redaksinya berganti istilah juga poin kebijakan dengan sebutan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat di wilayah Jawa dan Bali.

Dalam ulasan singkatnya, peraturan darurat atas lonjakan fase ke dua membatasi dan melarang: WFH (work from home) 100 %, belajar daring, pasar dibatasi, Mall ditutup, kegiatan konstruksi dibatasi, tempat ibadah ditutup, kegiatan sosial ditutup, transportasi umum dibatasi, resepsi pernikahan dibatasi, pelaku perjalanan diperketat, dan wajib bermasker. Sebenarnya pola tersebut sebagai langkah preventif atas penyebaran virus ini secara luas untuk respon lonjakan kasus fase ke dua juga tentunya.

Kitab Badhlul Ma’aun fi Fadhlit Tho’un

Tidak salah bahwa antara tahun 773-852 H seorang Mualif Al Hafidz ternama dari Mesir bermadzhab Syafi’i telah menyusun kitab dengan nama” Badhlul Ma’aun fi Fadhlit Tho’un”, kitab ini meramu sebuah histori, penyebab serta latar belakang wabah dan thoun dengan solusi untuk menghadapinya. Salah satu yang melatarbelakangi beliau untuk menyusun kitab ini yaitu bahwa tiga putri beliau  sekaligus wafat disebabkan thoun. Mereka adalah Fatimah dan Aliyah wafat ditahun yang sama 819 H sedangkan Zain Khotun tahun 833 H. Tentu bukanlah tanpa sebab diawal pembahasanya, kitab ini sangat detail mengulas riwayat hidup Al Hafidz mulai dari riwayat kehidupan ketika masih kecil, kelebihan beliau, masa tua sampai wafatnya.

Lebih menakjubkanya lagi detail setiap fan dari riwayat hidup Al hafidz dijelaskan sendiri-sendiri tidak dalam satu rangkaian fan khusus, namun berbeda. Bisa jadi beliau ingin mengkategorikan wabah dan tho’un ini berkaitan erat dengan keluarganya sebagai alasan menyusun kitab tersebut atau bisa juga menyampaikan bahwa wabah dan tho’un itu menyangkut harkat orang banyak sehingga rentan sekali kasus penyebaran beserta dampak yang telah disebabkanya.

Baca Juga  Nuzul Qur’an: Al-Qur’an Diturunkan Bukan Hanya Untuk Dibaca

Di awal bab Syeikh Ibnu Hajar mendefinisikan asal muasal thoun dalam perspektif hadits. Ada banyak riwayat hadits tentang asal-usul tho’un, namun sebagian besar menjelaskan kaidah secara implisit bahwa thoun merupakan sebuah penyakit dalam konteks pandemi, menular, dan mewabah di sebuah daerah. Akan tetapi, diriwayatkan oleh Said Bin Malik, Usamah Bin Zaid, Khuzaimah Bin Tsabit Radiyallohu Anhum Rasulullah SAW bersabda bahwa tho’un tergolong wabah yang diberikan kepada suatu kaum sebagai kemurkaan serta adzab dari allah SWT. Hadits tersebut merupakan penegasan secara eksplisit tentang hikmah dibalik adanya tho’un di suatu masa dan daerah tertentu. Tidak mungkin sesuatu fenomena itu akan terjadi apalagi musibah yang sifatnya global ini kecuali Allah SWT telah meridhoinya. Dalam Surat At Taghabun ayat 11 Allah SWT berfirman bahwa:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ

Artinya: Tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas seizin Allah SWT……..(QS: At Thaghabun ayat 11).

Mendefenisikan Tho’un

Jelaslah bahwa tho’un merupakan peringatan yang serius dari Allah untuk kaum dalam menampakan sebuah peringatan yang besar. Akan tetapi disebagian bab selanjutnya, Syeikh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa thoun merupakan adzab kepada orang kufar, sedangkan bagi seorang muslim thoun merupakan rahmat dari Allah SWT. Dalam hadits  :

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

Rahmat sangat dibutuhkan oleh kita semua untuk mencapai keridhaan Nya serta selamat di dunia dan terutama di akhirat nanti.

Baca Juga  Hakekat Larangan Berzina: Manusia Sebagai Khalifah

Diceritakan dari Abdullah Bin Hakim berkata: Ubaidillah Bin Musa dari Israil menceritakan kepada Abu Ishaq dari Umarah dari Ali Bin Abi Thalib RA : sesungguhnya para kaum dari nabi-nabi terdahulu mendapatkan cobaan berupa kelaparan, Rasul menjawab tidak, mempunyai banyak musuh, Rasul menjawab tidak, akan tetapi kematian yang ringan, Rasul menjawab iya. Allah memberikan cobaan berupa thoun. Redaksi hadits tersebut menjelaskan bahwa thoun merupakan kamatian yang ringan. Walaupun kita tidak menampik bahwa rasa sakaratul maut sangatlah berat. Bahkan Rasulullah SAW tidak bisa menahan rasa sakit Ketika tercabutnya ruh Muhammad SAW. Allahumma sholli ala sayyidina wamaulana Muhammad.

Ada yang menarik dari untaian tho’un ini yang mana lebih khusus daripada wabah. Ahli lughat menyatakan bahwa wabah itu lebih umum dengan konsekuensi waktunya yang fleksibel bisa short dan long time. Akan tetapi, tho’un lebih khusus pada pandemi dengan klasifikasi penyakit tertentu yang spontan terjadi dan juga periodeisasinya tertentu. Disini kita bisa simpulkan dengan sederhana bahwa covid-19 merupakan wabah secara arti sempit dari para lughah (ahli Bahasa). Disamping itu, sebuah Riwayat dalam hadits Bukhori Muslimdan kitab Muwatho’ menjelaskan bahwa Dajjal dan Thoun tidak akan mungkin dapat masuk ke Madinah. Dari sisi grafik covid-192021 terakhir Mei di Arab Saudi menggambarkan capaian kasus di angka 400 ribuan sedangkan kematian mencapai 7 ribuan lebih. Hal itu juga menjadi fakta atas keganasan covid-19 yang juga bisa disebut sebagai wabah.

Editor: An-Najmi Fikri R

Ahmad Afif
Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Pusat 2020-2025 Dewan Pendidik Pondok Pesantren Cendekia Amanah,Kota Depok