Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Memahami Tasawuf Sebagai Terapi Qur’ani

terapi qur'ani
Sumber: https://langgar.co/

Terapi berasal dari kata therapic yang berarti kata sifat yang mengandung unsur-unsur atau nilai-nilai pengobatan. Menurut Carl Gustav Jung tokoh Psikologi Analistik, gangguan psikis pada dasarnya bersumber dari masalah spiritual. Oleh karena itu, dapat dilihat dari ungkapan psikoneurosis yang dipahami sebagai penderitaan yang belum menemukan artinya. Penyebab dari penderitaan ini ialah stagnasi spiritual atau sterisas psikis. Artikel ini membahas terapi Qur’ani.

Tasawuf dan Terapi Qur’ani

Sebagaiamana keyakinan di kalangan Sufi bahwa semua penyakit itu datangnya dari Allah SWT. Para Sufi juga percaya bahwa kesembuhan datang dari Allah SWT. Sedangkan dokter, tabib ataupun obat hanya sebuah perantara kesembuhan kita yang datangnya dari Allah SWT.

Pada dasarnya tasawuf sama sekali tidak bertujuan merubah pola terapi psikomodern dan terapi medis dengan terapi Sufi yang penuh dengan spiritual mistis. Namun sebaliknya, hadirnya terapi sufi qur’ani merupakan pelengkap dan penyeimbang terapi yang sudah ada; dengan memaksimalkan peluang kekuatan seseorang untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan metode sufi. Perlu diingat bahwa Allah SWT adalah penyembuh dari segala penyakut dan apapun itu bisa dijadikan sebagai perantara penyembuhan.

Di dalam proses mendekatkan diri kepada Allah SWT seorang sufi melewati beberapa tahap. Di dalam tasawuf ada istilah maqomat secara bahasa memiliki arti pangkat. Dan menurut istilah di dalam tasawuf maqomat merupakan kedudukan atau derajat hamba di sisi Allah SWT yang diperoleh dengan lima cara:

5 Tingkatan dalam Tasawuf

Pertama, Mujahadah, adalah perjuangan spiritual manusia di dalam menahan nafsu dan tidak menuruti kesenangan. Menurut Sigmun Freud dengan teorinya terkait Id, Ego dan Super Ego. Nafsu diibaratkan Id, yaitu bagian jiwa manusia yang paling liar yang memungkinkan akan membahayakan manusia itu sendiri. Sedangkan orang yang didominasi oleh Id-nya merupakan cikal bakal psikopat. Dengan upaya mujahadah secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas moral dan menghindarkan manusia itu sendiri dari penyakit psikopat.

Baca Juga  Tradisi Genealogis: Pertarungan Ideologi Tafsir di Dunia Arab

Kedua, Riyadloh, yaitu olah jiwa, pikiran dan hati dengan latihan menyempurnakan diri terus menerus melalui zikir. Zikir memiliki makna mengingat Allah SWT dan zikir merupakan salah satu kaidah yang diajarkan dalam tasawuf. Berdasarkan penelitian zikir dapat mempengaruhi kondisi psikologis manusia dan di dalam Q.S Ar-Ra’d Allah SWT mengingatkan kita “Ingatlah, dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram”. Hanna Jumhana menyatakan zikir yang dilakukan dengan rendah hati dan suara lembut akan membawa rileksasi dan ketenangan dan kebahagiaan bagi mereka yang melakukannya.

Ketiga, Zuhud, yang memiliki arti mengosongkan tangan dari harta dan mengosongkan hati dari pencarian masalah dunia atau materi. Zuhud dapat dijadikan sebagai terapi bagi penyakit jiwa yang disebabkan oleh materi atau usaha pencarian materi yang tidak pernah merasa puas. Sedangkan ketidakpuasan dalam kerja dapat dilampiaskan dalam berbagai tindakan negatif seperti mengeluh, membangkan, bahkan sampai mencuri. Oleh karena itu, dalam hal ini zuhud dapat dijadikan sebagain kontorol tingkah laku manusia terkait hal-hal negatif dan positif yang berlebihan.

***

Keempat, Qona’ah, secara  bahasa memiliki arti merasa cukup atau rela. Sedangkan menurut istilah sikap rela menerima dan merasa cukup akan menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan kekurangan. Kepuasan disini memiliki arti bersyukur atas segala nikmat yang Allah SWT berikan.  Sikap qona’ah ini dapa dijadikan sebagai terapi diri dari penyakit psikologis yang membawa dampak negatif terhadap kesehatan fisiologis, karena dari dalam diri akan muncul sikap menerima kenyataan dan menghargai diri sendiri.

Kelima, Tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan aktivitas apapun. Orang yang bertawakal atau menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan segenap pikiran, perbuatan, kesadaran, penguatan kepribadian dan rekontruksi mental secara paripurna. Kesdaran, kepribadian dan menal paripurna merupakan efek positif dari bererah diri kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan dan ketulusan hati. Dengan demikian, tawakal adalah formula psikoterapi islam dalam mengatasi kegalauan, stress, depresi, frustasi dan penyakit-penyakit traumatik.

Baca Juga  Merefleksikan Ajaran QS. Al-Ashr di Tahun Baru

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita pahami bahwa dalam penyembuhan dunia medis baik klasik maupun modern, ada nilai-nilai tasawuf yang dapat kita jadikan sebagai terapi qur’ani penyembuhan penyakit dengan bersandar pada ajaran tasawuf. Karena psikologi dan tasawuf memiliki titik temu dalam mengatasi permasalahan manusia baik secara psikologis maupun fisiologis, dengan menjadikan nilai-nilai tasawuf sebagai alternatif terapi psikologis untuk melengkapi pengobatan medis. Sebagai terapi Qur’ani, tasawuf dapat menjadi jawaban alternatif.