Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Memahami Konsep Kesedihan di dalam Al-Qur’an

Sumber: https://www.statusvideosguru.com/

Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia pasti mengalami suka dan duka sebagai dua keadaan yang berlawanan. Keduanya dialami secara silih berganti. Saat suka manusia akan berbahagia, sebaliknya, saat berduka manusia akan bersedih hati. Bahagia adalah dambaan setiap manusia, namun tidak dengan sedih. Sedih justru menjadi suatu hal yang tidak diharapkan oleh manusia. Meskipun demikian, sedih pasti tetap menghampiri karena sedih adalah fitrah manusia.

Memahami Kesedihan

Sedih adalah sebuah emosi yang bertolak belakang dengan senang dan gembira. Ia adalah wujud emosi kegelisahan menyangkut sesuatu yang negatif yang sedang dan pernah terjadi. Meriam-Webster Dictionary mengartikan sad (sedih) sebagai perasaan atau ekspresi yang muncul karena kegagalan. Kesedihan yang dialami seseorang dapat diekspresikan dalam bentuk menangis, bingung, kecewa, patah hati, putus asa, dan tidak berdaya.

Sedih memiliki berbagai macam faktor. Menurut Al-Kindi penyebab utama kesedihan adalah penyesalan atas kepergian orang-orang atau kekayaan duniawi yang kita cintai. Misalnya sedih karena kehilangan orang yang disayangi, kehilangan sesuatu yang sangat berharga, tertimpa bencana, dan gagal mewujudkan urusan yang penting.

Intinya, sedih itu muncul kebanyakan dikarenakan oleh hal-hal yang mengecewakan atau ketidakmampuan atau karena kehilangan. Dan dalam mengalami kesedihannya itu tidak sedikit manusia yang berlarut-larut dalam sedihnya. Sehingga sedih yang berkepanjangan itu seringkali membawa dampak yang kurang baik. Misalnya malas beraktivitas, mengabaikan tugas, stress, depresi bahkan memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh diri.

Term Sedih Dalam Al-Qur’an

Di dalam Al-Qur’an juga didapati pembahasan kesedihan. Sedih dalam Al-Qur’an digambarkan dalam beberapa term di. Seperti, huzn, asa, asafa, hasra, gham, bakaa dan ibtias. Kata huzn dan berbagai derivasinya adalah yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Istilah huzn dalam penyebutannya dalam Al-Qur’an seringkali berdampingan dengan kata laa. Baik laa nahyi maupun laa nafyi, yang menunjukkan bahwa sedih adalah sesuatu yang dilarang atau dinafikan. Dari hal itu, dapat diketahui bahwasanya kesedihan adalah sesuatu yang harus dihindari.

Baca Juga  Tafsir Saintifik: Menelisik Fenomena Tidur Ashabul Kahfi

Adapun ketika ditinjau dari aspek bahasanya, kata huzn yang digunakan dalam Al-Qur’an tidak ada satu pun yang berbentuk kata kerja madhi. Akan tetapi dalam bentuk kata kerja mudhari’ dan masdar. Secara makna, hal tersebut menunjukkan bahwa rasa sedih itu hanya akan terjadi pada saat kini atau yang akan dating. Alias datangnya senantiasa terlambat setelah sesuatu terjadi.

Penjelasan tersebut juga selaras dengan salah satu penjelasan dalam Tafsir Taisir Karim Ar-Rahman. Tepatnya pada tafsiran surat al-Baqarah ayat 38 yang di dalamnya mengandung lafadz khauf dan huzn. Huzn dimaknai sebagai sesuatu yang tidak disenangi manusia karena suatu hal yang telah terjadi. Sedangkan khauf adalah sesuatu yang tidak disenangi karena suatu hal yang baru akan terjadi atau bisa saja terjadi suatu saat nanti.

Adapun term-term lainnya juga tetap memiliki arti sedih namun ada sedikit perbedaan. Term asafa artinya berduka cita, kesedihan yang mendalam. Atau sedih yang disertai dengan marah yakni bergejolaknya darah dalam hati dan perasaan tersiksa. Untuk term Asa, Ar-Razi mengartikannya sebagai kesedihan yang teramat sangat. Dan term hasrah diartikan sebagai penyesalan yang amat mendalam.

Ragam Sedih Dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, penyebab munculnya rasa sedih dalam jiwa manusia ada beberapa macam. Yaitu di antaranya: diusir dari tempat kediaman, tidak merasakan kenikmatan hidup, dakwah tidak diterima, berpisah dengan anak, ditimpa bencana. Bahkan ketidaktaatan kepada perintah rasul, penghinaan dan perbuatan licik orang-orang kafir terhadap Al-Qur’an. Selain itu, azab neraka, hari pembalasan, rasa sakit menjelang melahirkan anak, berpisah dengan atau khawatir akan keselamatan anak.

Di sisi lain, pembicaraan rahasia, orang-orang yang bergelimang kekafiran, perceraian, kesesatan, siksa, teman-teman yang tidak memperoleh karunia Allah dan tidak mau berjihad di jalan-Nya. Orang-orang kafir dan orang-orang tidak berbuat kebajikan, tidak memiliki harta kendaraan untuk dinafkahkan guna keperluan perang, dan kedurhakaan anak terhadap orang tua.

Baca Juga  Tafsir Ath-Thabari: Kitab Tafsir Spektakuler

Kisah Kesedihan Nabi Yakqub

Contoh salah satu kisah kesedihan yang tertera di Al-Qur’an adalah kisah kesedihan Nabi Ya’qub as. Karena kehilangan Nabi Yusuf, putranya. Kisah tersebut ada pada surat Yusuf ayat 84-86, yang artinya sebagai berikut:

Artinya: “Dan dia (Ya’qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau (mengidap penyakit) berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa. Dia (Ya’qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Menghindari Kesedihan

Adapun cara untuk menghindari kesedihan jika menurut Ar-Razi di antaranya adalah:

  1. Seseorang harus menjauhi sebab-sebab kesedihan, yaitu tidaklah boleh terlena oleh kenikmatan dan keindahan.
  2. Menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini kecuali Allah Swt
  3. Tidak mencintai sesuatu secara berlebihan

Sedangkan cara untuk menghadapi kesedihan di antaranya adalah dengan:

  1. Tidak membesar-besarkan apa yang telah hilang dan sadar bahwa itu adalah hal yang memang mungkin terjadi.
  2. Menerima kenyataan dan memotivasi diri untuk tidak bersedih. Hal ini dapat diupayakan dengan cara mencari kesibukan yang dapat mengurangi kesedihan itu.
  3. Bersikap sabar. Kesabaran itu dapat memberikan ketenangan kepada seseorang dalam meghadapi tantangan di hidupnya. Karena orang yang sabar memiliki keyakinan bahwasanya Allah akan memberikan pertolongan kepadanya.
  4. Berdo’a. Do’a adalah pengikat manusia dengan Allah. Jangan pernah letih untuk berdo’a dan memohon pertolongan Allah, karena hanya Allah lah yang mampu menolong dan mengatur segala urusan manusia.
  5. Memperkuat iman. Iman yang kuat dapat menjadikan seseorang lebih tegar dalam menjalani kehidupan. Orang yang imannya kuat tidak akan mudah putus asa dalam menghadapi berbagai halangan dan tantangan.
  6. Mendekat pada Al-Qur’an. Sebagaimana yang diungkapkan Ulama Aidh Al-Qarni, “Hiduplah Bersama Al-Qur’an! Baik dengan cara menghafal, membaca, mendengarkan, atau merenungkannya. Sebab ia adalah obat paling mujarab untuk mengusir kesedihan.
Baca Juga  Tafsir Q.S. Surah Al-Baqarah Ayat 214: Integrasi Derita dan Pertolongan Allah

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho