Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Memahami Keberkahan Pendapatan Keuangan dalam Al-Qur’an

pendapatan
Sumber: https://www.eqrae.com

Di kehidupan ini kita sebagai umat muslim tidak hanya menjalankan kegiatan berupa ibadah ataupun yang menjuru terhadap keagamaan. Akan tetapi Allah juga menganjurkan kepada makhluknya untuk beraktivitas lainnya, sebagai bentuk lain dari ibadah seperti mencari pendapatan atau penghasilan.

Dalam Islam mencari pendapatan sangatlah di perbolehkan, dalam surat Al – Baqarah ayat 198  Allah berfirman:

“ Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. “ ( QS Al – Baqarah : 198 ).

Ayat di atas menjelaskan bahwasannya Allah memerintahkan kepada kita untuk mencari rezeki dari pendapatan. Hasil dari pendapatan tersebut yang nantinya akan digunakan untuk melakukan suatu ibadah.

Terkadang dalam mencari pendapatan kita terlupa akan yang namanya dengan syari’at dan ketentuan. Bahkan tak banyak dari umat muslim terjebak dengan adanya pendapatan yang diluar daripada yang sudah di tentukan oleh Allah SWT.

Keberkahan dalam Bahasa Arab

Berkah dalam bahasa Arab yaitu Barokatun yang bermakna nikmat – nikmat dan kebaikan yang di berikan oleh Allah kepada makhluknya. Sedangkan berkah dalam istilah yaitu melimpahnya rezeki, kenikmatan, dan segala urusan di duniawi. Dalam kamus besar KBBI berkah sendiri memiliki arti karunia Tuhan yang mendatangkan kenikmatan bagi kehidupan manusia.

Keberkahan adalah kunci dari pendapatan yang disyariatkan oleh Allah. Terkadang umat muslim lupa dan lalai akan keberkahan. Tak jarang juga umat muslim tidak tahu akan keberkahan yang ia dapat dari pendapatannya.

Seperti layaknya karyawan perusahaan yang bekerja di bawah naungan atasan. Mereka tidak tahu penghasilan yang di dapatkan dari mana asalnya. Dalam surat An-Nisa ayat 29 menjelaskan umat muslim tidak diizinkan untuk memakan harta yang batil:

Baca Juga  Pesan Moral Q.S. Al-Mumtahanah (60): 8 Perihal Sumbangan Non-Muslim

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar). Kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu“ (QS. An-Nisa: 29)

Pendapatan Yang Tidak Manfaat

Allah SWT telah melarang umat manusia dalam mencari pendapatan dengan cara yang tidak baik seperti menyuap, dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi bahwasannya, :

Dari Abdullah bin ‘Amr RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Laknat Allah atas setiap orang yang memberi suap dan yang menerima suap. (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Menjual barang haram, dalam islam banyak sekali larangan-larangan yang di tetapkan oleh Allah SWT contohnya sepeti: meminum miras dan menjualnya, menjual barang curian, dan produk-produk yang mengandung bahan bahan berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Riba, telah tertulis jelas bahwasannya Allah telah melarang kepada umatnya untuk melakuakan praktek riba, dalam surat Al-Baqarah ayat 275 telah menjelaskan :

“ Orang – orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melaikan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urursannya ( terserah ) kepada Allah. Barangsiapa mengulanginya maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. “( QS Al Baqarah : 257 )

Mencari Pendapatan Yang Berkah

Setelah itu bagaiamana cara mengelola pendapatan agar menjadi suatu yang bermanfaat dan berkah bagi hidup kita?

Baca Juga  Menggali Adab Kepada Al-Qur'an Pada QS Sad: 29

Ada banyak cara mengelola pendapatan agar menjadi suatu yang bermanfaat dan berkah. Pertama, dengan cara bersedekah kepada yang membutuhkan. Selain daripada bersedekah terdapat pula berinfaq. Berwakaf memberi kepada fakir dan miskin. Serta yatim dan piatu, mereka merupakan tabungan bagi umat muslim di akhirat kelak. Dalam surat Al Baqarah ayat 254 telah menjelaskan :

“ Wahai orangorang yang beriman! infakkanlah Sebagian dari rezeki yang telah kami berikan kepadamu sebelum dating hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang – orang kafir itulah orang yang dzalim “ ( QS Al Baqarah : 254 ).

Kedua, selain bersedekah sebagai umat muslim kita juga dapat menabung. Menabung berguna pada saat yang akan datang. Ketiga, tidak menghamburkan uang atau boros; nafsu dalam diri manusia memanglah sangat sulit ditahan. Tetapi dalam Islam tidak dianjurkan akan boros atau mengamburkan uang. Dalam surat Al Furqan ayat 67 menjelaskan tidak dianjurkannya boros :

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar .“ ( QS Al Furqan: 67 ).