Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Memahami Ayat-Ayat Perang: Analisis Penafsiran Sahiron Syamsuddin

perang

Beberapa waktu lalu, bom bunuh diri kembali terjadi di Indonesia. Dikutip dari CNN Indonesia, tercatat dalam dua dekade terakhir ada sembilan aksi teror berupa ledakan bom yang terjadi di Indonesia. Berikut rinciannya, Bom Bali I (2002), Bom JW Marriot (2003), Bom Bali II(2005), Bom Ritz Carlton (2009), Bom Masjid Adz-Dzikra Cirebon (2011), Bom Sarinah (2016), Bom Mapolresta Solo (2016), Bom Kampung Melayu (2017), Bom Surabaya dan Sidoarjo (2018). Adapun yang terbaru adalah Bom Gereja Katerdal Makassar, Minggu (28/3/2021).

Data di atas menunjukan bahwa, penganut teologi maut (meminjam istilah buya Syafi’i) masih eksis di Indonesia. Menurut beberapa sumber, setidaknya ada tiga faktor yang menjadikan seseorang menjadi radikal. Pertama, merasa dimarjinalkan, kedua, adanya komunitas yang mewadahi, ketiga, paham agama yang mendukung.

Mengacu pada tiga alasan  di atas, maka untuk membendung radikalisme, dibutuhkan setidaknya tiga hal. Pertama, menciptakan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. Kedua, berantas komunitas-komunitas yang mewadahi paham radikal. Ketiga, reinterpretasi (menafsirkan ulang) paham agama yang bertentangan dengan perdamaian. Untuk nomor pertama dan kedua, penulis rasa, itu adalah tugas pemerintah. Sedangkan nomor tiga adalah tugas para da’i dan pemuka agama.

Sebagai seorang pemuka agama, Sahiron Syamsuddin mampu melaksanakan tugas ini dengan sangat baik. Sahiron Syamsuddin mampu menafsirkan ulang ayat-ayat perang dengan sangat baik. Tulisan ini akan memaparkan penafsiran Sahiron Syamsuddin tentang ayat-ayat bertema perang dalam Al-Qur’an.

Redefinisi Makna Muhkamat dan Mutasyabihat

Sebelum melakukan penafsiran ulang, terlebih dahulu Sahiron Syamsuddin mendefinisikan ulang makna muhkamat dan mutasyabihat. Pen-definisian ulang ini dilakukan untuk mendukung penafsirannya. Menurut Sahiron Syamsuddin, muhkamat  adalah ayat-ayat yang makna langsungnya sejalan dengan ide moral, misalnya ayat-ayat tentang perdamaian, rekonsiliasi dan sejenisnya.

Baca Juga  Al-Quran untuk Semua

Sebaliknya, mutasyabihat, adalah ayat-ayat yang terlihat bertentangan dengan ide moral, misalnya ayat-ayat tentang perang. Selanjutnya, Sahiron mengutip pandangan Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf bahwa penafsir mestinya menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat di bawah bayangan ayat-ayat muhkamat.

Sahiron memandang bahwa ayat-ayat mutasyabihat, derajatnya lebih rendah dari ayat-ayat muhkamat. Bagi orang Islam, hendaknya lebih condong kepada ayat muhkamat, jika keduanya sulit dicari titik temunya.

Memaknai Kata Jihad dalam Al-Qur’an

Hampir semua kitab fikih klasik memuat di dalamnya satu bab “perang”, dan istilah yang dipakai adalah jihad. Padahal, menurut Sahiron, kata jihad dalam Al-Qur’an memiliki banyak arti. Untuk mendukung pendapatnya, Sahiron mengutip Harun ibn Musa, yang menyatakan bahwa kata jihad dalam Al-Qur’an setidaknya memiliki tiga makna.

Pertama, jihad  bermakna mengajarkan Al-Qur’an dengan perkataan (Q.S 25:52)

…وَجَٰهِدۡهُم بِهِۦ جِهَادٗا كَبِيرٗا 

Penggalan ayat ini, ditafsirkan oleh ibn Musa sebagai sebuah perintah kepada Nabi saw untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang kafir.

Kedua, jihad bermakna al-‘amal (kerja keras), (Q.S 29:6).

وَمَن جَٰهَدَ فَإِنَّمَا يُجَٰهِدُ لِنَفۡسِهِۦ

Ibn Musa menafsirkan ayat di atas sebagai berikut: ‘Barangsiapa yang berbuat baik, niscaya dia berbuat baik kepada dirinya sendiri dan mereka akan mendapat manfaat dari perbuatan baik itu.’

Ketiga, jihad bermakna al-qital bi al-silah (perang), (Q.S 4:95).

لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡقَٰعِدُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ غَيۡرُ أُوْلِي ٱلضَّرَرِ وَٱلۡمُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡۚ فَضَّلَ ٱللَّهُ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ عَلَى ٱلۡقَٰعِدِينَ دَرَجَةٗۚ

 Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat..

Menurut Sahiron seperti yang ia kutip dari Ella Landou Tarreson, kata jihad bisa berarti perang jika: 1. Kata jihad hadir dengan bersamaan dengan istilah-istilah militer, seperti mukhollafun, qo’idun (Q.S 4:95, 9:81, dan 86), atau infiru (Q.S 9:41). 2. Ketika ayat tertentu berbicara tentang aksi militer (Q.S 5:54). 3. Ketika konteks tekstual ayat merujuk pada signifikansi militer (Q.S 9:44). 4. Ketika j-h-d  dalam bentuk ketiga diikuti obyek langsung (Q.S 9:73 dan 66:9).

Baca Juga  Tafsir Tematik (6): Nabi Muhammad Sebagai Tuntunan Dalam Hidup

Mengacu pada empat kriteria di atas, menurut Sahiron, hanya ada sepuluh ayat tentang jihad yang bermakna perang.

Reinterpretasi Ayat Perang dalam Al-Qur’an

Ayat perang dalam Al-Qur’an yang pertama kali turun adalah Q.S 22:39-40

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَٰتَلُونَ بِأَنَّهُمۡ ظُلِمُواْۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصۡرِهِمۡ لَقَدِيرٌ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بِغَيۡرِ حَقٍّ إِلَّآ أَن يَقُولُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُۗ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّهُدِّمَتۡ صَوَٰمِعُ وَبِيَعٞ وَصَلَوَٰتٞ وَمَسَٰجِدُ يُذۡكَرُ فِيهَا ٱسۡمُ ٱللَّهِ كَثِيرٗاۗ وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ 

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,

40.  (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,

Menurut Sahiron, ayat di atas turun di Madinah pasca Nabi saw dan para sahabatnya diusir dari Makkah. Dalam ayat ini, Allah member izin kepada Nabi Saw dan kaum mukmin untuk berperang jika mereka dianiaya. Masih menurut Sahiron, ayat ini diturunkan setelah tidak ada lagi solusi untuk mengatasi perilaku kaum muysrikin Makkah yang terus menerus menindas Nabi saw dan sahabatnya. Berbagai upaya untuk menghindari peperangan seperti memaafkan, bersabar, dan lainnya telah dilakukan Nabi saw, namun kaum Musyrikin tetap menindas Nabi saw dan sahabtnya. Maka perang adalah jalan terakhir.

Baca Juga  Mereka yang Mendustakan Agama

Selanjutnya, Sahiron melakukan analisis linguistik dengan menganalisa kata udzina. Menurutnya, kata udzina di sini menunjukan bahwa peperangan hanya ‘diperbolehkan’, setelah jalan damai tidak dapat ditempuh. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa, Nabi saw dan sahabatnya diusir dari Makkah karena mereka beriman kepada Allah swt. Ini menunjukan di Makkah waktu itu tidak ada kebebasan dalam beragama.

Kesimpulan tentang Ayat Perang

Setelah menganalisis konteks historis ayat dan melakukan analisis linguistik, Sahiron lalu menyimpulkan pesan utama (maghza) dari ayat ini.

Pertama, penghapusan penindasan. Menurut Sahiron, Allah swt membenci pnindasan, oleh karena itu Allah swt member izin bagi orang yang ditindas untuk melakukan perlawanan. Kedua, penegakan kebebasan beragama. Alasan orang musyrikin mengusir dan menindas Nabi saw dan sahabatnya, adalah karena mereka menyembah Allah swt. Ini menunjukan tidak adanya kebebasan beragama di Makkah waktu itu. Karena itu Allah swt membolehkan kaum mukminin untuk berperang. Ketiga, penegakan perdamaian. Peperangan adalah salah satu penegak perdamaian, meski bukan satu-satunya. Karena itu, selama manusia bisa menegakan perdamaian tanpa peperangan, maka perang tidak diperbolehkan.

Penyunting: M. Bukhari Muslim