Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Memahami Al-Qur’an Melalui Pembacaan Integratif-Interkonektif

Al-Kautsar
Sumber: https://www.freepik.com/

Sebagai seorang Muslim, kita mesti meyakini bahwa segala apa yang Allah ciptakan tidak ada yang sia-sia. Bahkan terhadap sesuatu yang seringkali kita anggap biasa dan tak berguna (useless), sebenarnya terkandung manfaat dan pelajaran yang berharga. Tentu saja, bagi orang yang mau berpikir.

Satu di antara benda yang Allah tetapkan atasnya beberapa fungsi dan/atau manfaat bagi manusia adalah bintang. Di dalam al-Quran, Allah sebutkan bahwa bintang mempunyai beberapa fungsi; sebagai hiasan langit bagi orang yang memandangnya (QS. al-Hijr: 16, QS. al-Mulk: 5); sebagai pelontar setan yang mencuri-curi dengar pembicaraan malaikat (QS. al-Mulk: 5, QS. ash-Shaffat: 6-10, QS. al-Hijr: 18), dan; sebagai petunjuk bagi manusia (QS. an-Nahl: 16, QS. al-An’am: 97).

Di tengah gelapnya malam, bintang dapat menjadi petunjuk bagi seseorang dalam menentukan arah, baik ketika di darat maupun laut. Akan tetapi, petunjuk tersebut hanya dapat diperoleh ketika seseorang mengetahui makna di balik keterhubungan hamparan bintang-bintang tersebut.

“Simple common sense is enough for us to recognize that if we look at only one star, or just a few stars, without a knowledge of the big picture that emerges from a study of the totality of stars, we can make mistakes when selecting direction”. Demikian kata mufasir-sufi asal Trinidad, Imran Nazar Hosein.

Sederhananya, Imran Hosein ingin mengatakan bahwa kesalahpahaman dalam memahami kemenyeluruhan dan keterhubungan bintang –yakni dengan hanya melihat pada satu atau beberapa bintang saja—akan menegasikan fungsi bintang sebagai petunjuk. Alih-alih mendapat petunjuk, sebaliknya, malah tersesat.

***

Jika ditarik ke realitas pemahaman dan praktik keagamaan, pembacaan atas al-Qur’an yang sepotong-potong akan melahirkan pemahaman yang kurang tepat, keliru, bahkan bertolak belakang. Implikasi negatifnya dapat berwujud tindakan ekstrem, baik ekstrem keras maupun ekstrem lunak.

Baca Juga  Membaca Situasi Pandemi Lewat Strukturalisme De Saussure

Kedua kutub ekstrem tersebut, sekali lagi, muncul karena pembacaan yang tidak menyeluruh. Al-Qur’an tidak dipahami secara integratif dan interkonektif. Padahal, petunjuk yang termuat dalam al-Quran –yang dapat mengantarkan pada ketakwaan pada Allah dan cinta kasih pada sesama dan semesta—hanya bisa didapat melalui pemahaman atas sistem makna (system of meaning) al-Qur’an.

Ya, bahkan melalui pembacaan yang parsial pun, sebenarnya kita dapat meraih pelajaran dan/atau nilai dari al-Quran. Akan tetapi, pembacaan yang integratif dan interkonektif akan menghasilkan pemahaman atas pandangan dunia (worldview/weltanschauung) al-Quran.

Pembacaan Intergratif-Interkonektif

Pembacaan yang integratif-interkonektif dapat mengantisipasi atau meminimalisir kesalahpahaman ketika kita menemukan ayat yang ‘seolah’ inkonsisten atau kontradiktif. Lebih jauh, pembacaan yang integratif-interkonektif tidak hanya melibatkan ayat al-Qur’an an sich, tapi juga hadits, pengetahuan lain ‘di luar’ al-Quran, dan lain-lain. Oleh karena al-Quran merupakan sumber primer, maka posisinya tidak dapat/boleh digantikan dengan sumber lain yang sifatnya sekunder.

Secara fungsional, di antara tujuan diturunkannya al-Qur’an adalah sebagai petunjuk dan pembeda antara yang haq dan bathil. Petunjuk itu diberikan Allah (yang merupakan Sumber Pengetahuan) kepada manusia (yang merupakan tempatnya salah dan lupa). Hal ini mengandung dua konsekuensi: logis dan moril-spirituil.

Pertama, konsekuensi logis. Yang namanya petunjuk sudah tentu bersifat jelas dan empirik. Tidak mungkin ada petunjuk yang samar-samar, atau bahkan sampai menyesatkan. Apalagi dalam konteks ini yang memberi petunjuk adalah Allah. Mustahil Allah menyesatkan hamba-Nya.

Artinya, ketika kita membaca dan berusaha memahami al-Qur’an, tetapi tidak dapat menangkap pesan yang terkandung di dalamnya (atau sebaliknya malah menjauh dari ajaran al-Qur’an), maka persoalannya bukan di petunjuknya, melainkan kita sendiri sebagai pembaca pesan: bisa jadi terletak pada metode dan pendekatan yang digunakan, bisa juga terletak pada ‘ketidaksiapan’ pikiran dan hati menerima kebenaran.

Baca Juga  Perbedaan Umat Islam dan Orientalis dalam Mengkaji Al-Quran

Kedua, konsekuensi moril-spirituil. Al-Qur’an merupakan kalamullah. Allah merupakan satu-satunya Tuhan; Tuhan yang Maha Mengetahui. Dari-Nya-lah segala pengetahuan bermula. Pengetahuan (kebenaran) sejati ada pada-Nya.

Logika sederhananya, pembacaan yang integratif-interkonektif harus diiringi pula dengan kesiapan dan kesediaan untuk melakukan pembersihan hati (tazkiyatun nafs) agar mendapat bimbingan langsung dari-Nya. Keduanya ibarat dua sisi mata uang: menyatu, tidak dapat dipisahkan.

Perpaduan keduanya akan melahirkan pemahaman dan praktik keagamaan yang santun, penuh kasih, dan cinta. Sebaliknya, apabila al-Qur’an dibaca secara parsial dan tanpa ada bimbingan Allah, entah apa jadinya. Wallahu A’lam.

Editor: An-Najmi Fikri R