Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Melihat Kemajuan Peradaban Islam di Andalusia (2)

andalusia
Sumber: Penulis

Pengaruh Andalusia Terhadap Kemajuan Barat

Kemajuan peradaban Islam di Andalusia memberikan pengaruh yang besar bagi Eropa. Banyak orang Eropa yang datang ke Andalusia untuk menuntut ilmu di Universitas Cordova. Selain itu, orang-orang Eropa juga menerjemahkan karya-karya umat Islam ke dalam bahasa Latin sehingga orang Eropa yang tidak dapat berbahasa Arab dapat membaca karya-karya monumental umat Islam.

Usaha-usaha orang Eropa itu pada akhirnya membuahkan hasil. Eropa berhasil bangkit dari zaman kegelapan untuk selanjutnya mencapai zaman keemasan sampai sekarang. Bangsa Eropa yang sebelumnya berada dalam kondisi kebodohan dan tahayul kemudian menjadi bangsa yang maju. Mereka yang meyakini bahwa bumi itu datar seperti sebilah papan setelah melihat dan membaca karya al-Idrisi menjadi tahu dan berubah pikiran menjadi meyakini bahwa bumi itu bundar.

Zaman Kegelapan berhasil mereka tinggalkan dengan cara menggunakan pemikiran dan penemuan yang dihasilkan oleh ilmuwan-ilmuwan dari Spanyol Islam. Pemikiran filsafat Ibn Rusyd dengan cemerlang berhasil merubah pola pikir bangsa Eropa menjadi rasional dan empiris. Sejarah mencatat bahwa proses awal penerjemahan karya-karya ilmuwan Spanyol Islam ke dalam bahasa Latin dilakukan pada tahun 950 M. Pusat kegiatan penerjemahan ada di kota Sisilia.

Kebangkitan Barat

Akan tetapi setelah tahun 1085, pusat utama dalam kegiatan penerjemahan terletak di kota Toledo setelah kota ini berhasil dikuasai oleh penguasa Kristen Eropa. Kegiatan penerjemahan ini mengalami puncaknya pada abad ke-12 hingga abad ke-13 M. Kegiatan penerjemahan kebanyakan dilakukan atas inisiatif penerjemah sendiri meskipun ada beberapa yang dilakukan atas perintah penguasa dan dukungan lembaga tertentu.

Ini sedikit berbeda dengan Islam di Baghdad di mana pemerintah Abbasiyah memberikan dukungan penuh bagi penerjemah-penerjemah untuk menghasilkan karya-karya terjemahan yang bermanfaat. Perbedaan perlakuan terhadap para penerjemah ini dikarenakan pada masa gerakan penerjemahan marak dilakukan oleh penerjemah Eropa, bangsa Eropa tidak memiliki penguasa yang tunggal. Artinya kekuasaan di Eropa dipegang oleh berbagai penguasa maka tidak mengherankan kalau misalnya Raja Roderick II yang memerintah Sisilia mendukung kegiatan penerjemahan sementara penguasa lainnya tidak.

Baca Juga  Tiga Pesan untuk Para Penghafal Alquran

Selain itu, sebagian besar bangsa Eropa juga masih dalam suasana kebodohan. Inilah yang menyebabkan kegiatan penerjemahan di Eropa kebanyakan dilakukan atas inisiatif pribadi para penerjemah.Banyak sekali penerjemah-penerjemah Eropa yang dicatat oleh sejarah, di antara yang terkenal dan paling berjasa adalah Adelard dari Bath (1080-1152), seorang sarjana Inggris yang banyak menerjemahkan karya matematika dan astronomi ilmuwan Islam.

Kemudian Gerard dari Cremona (1114-1187), seorang penerjemah yang memiliki kemampuan berbahasa Arab yang baik sehingga dia memiliki kemampuan menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Untuk melakukan penerjemahan dia sengaja pergi ke kota Toledo yang menjadi kota penting penerjemahan. Gerard dianggap sebagai penerjemah terbesar dan terhebat di antara semua penerjemah Eropa. Dia menerjemahkan 21 buku kedokteran dan sekitar 30 buku dari berbagai bidang kajian seperti matematika, astronomi, dan lainnya.

Perubahan Besar-Besaran Eropa

Pengaruh besar Gerard bagi Eropa tidak dapat dibantah lagi. Dia menyebabkan terjadinya perubahan kurikulum di universitas-universitas Eropa setelah terjemahannya dibaca oleh pelajar dan sarjana-sarjana Eropa.Sosok penerjemah terkenal lainnya adalah raja Alfonso X (1221-1284). Dia adalah raja Castile dari tahun 1252-1254. Alfonso seringkali memerintahkan sarjana Eropa untuk menerjemahkan bukubuku karya ilmuwan Islam Spanyol.

Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah buku-buku dalam bidang hukum, astronomi, dan sejarah. Dalam hal ini Alfonso mungkin lebih layak disebut sebagai pendukung kegiatan penerjemahan, seperti al-Ma‘mun dan Harun arRasyid pada masa dinasti Abbasiyah. Penerjemah lainnya yang cukup banyak menerjemahkan buku-buku ilmuwan Islam adalah Michael Scot (1217-1235). Dia adalah seorang konsultan ilmuwan raja Sisilia Frederick II (1194-1250).

Raja-raja Sisilia memang terkenal mendukung pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, mereka seringkali mendukung penerjemah yang akan melakukan penerjemahan. Bahkan, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di Eropa, raja Sisilia mengajak ilmuwan-ilmuwan dari Spanyol Islam untuk melakukan penelitian di wilayah kekuasaannya. Salah satu ilmuwan Spanyol Islam terkemuka yang bekerja di Sisilia adalah Syarif al-Idrisi.Penerjemah-penerjemah di atas membuktikan bahwa telah terjadi proses penerjemahan karya-karya ilmuwan Islam Spanyol ke dalam bahasa Latin, Ibrani (Hebrew), dan bahasa-bahasa Eropa lainnya.

Baca Juga  Etika Beragama dalam Islam: Menjadi Umat Moderat (2)

Karya-karya terjemahan itu selanjutnya dipelajari secara luas disekolah-sekolah dan universitas di Eropa sehingga mereka kemudian berhasil mengembangkannya. Dari teori-teori dasar yang dikembangkan oleh ilmuwan Spanyol Islam selanjutnya ilmuwan Eropa berhasil menciptakan teori-teori yang lebih lengkap dan kompleks.

Dari penemuan-penemuan dasar (pada Abad Pertengahan penemuanpenemuan itu sudah sangat maju untuk ukuran masa itu) ilmuwan Spanyol Islam dari Andalusia selanjutnya ilmuwan Eropa dapat menciptaan penemuan-penemuan yang lebih maju dan canggih. Ilmuwan-ilmuwan Spanyol Islam telah berhasil membuat bangsa Eropa yang sebelumnya tidak mengenal ilmu pengetahuan, bahkan cenderung tidak menyukainya, menjadi kenal dan menyukainya.

Editor: An-Najmi Fikri R

Salman Akif
Mahasiswa Fakultas Hukum Islam, Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo