Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Melihat Karakteristik Waliyullah Pada Diri Gus Dur

tirto.id

Di kesempatan lain, Mahfud MD menceritakan pengalamannya sendiri yang masih ada hubungannya dengan dirinya dan Gus Dur (Waliyullah). Suatu ketika, ketika Gus Dur resmi terpilih sebagai presiden, Mahfud diminta oleh presiden terpilih (Gus Dur) untuk menjadi Menteri Pertahanan. Mulanya Mahfud mengira dirinya adalah Menteri Pertanahan. Namun, setelah diperiksa lebih lanjut, Menteri Pertahanan, bukan tanahnya.

“Gus, saya tidak punya pengalaman di bidang pertahanan,” kata Mahfud MD kepada Gus Dur dan meminta mandat lagi. Namun Gus Dur tidak bergeming. Dia tetap pada keputusan Mahfud MD yang berasal dari Madura sebagai Menteri Pertahanan.
“Saya tidak punya pengalaman jadi presiden atau presiden,” kata Gus Dur dengan argumen yang tak bisa dibantah Mahfud.

Akhirnya, pengumuman terkait kementerian dibuat. Dan benar saja, Mahfud MD didapuk sebagai Menteri Pertahanan. Hal ini sekaligus memicu polemik dan keributan di kalangan elit politik. Dari Megawati sebagai Wakil Presiden hingga Amin Rais sebagai Ketua MPR saat itu, mereka tidak setuju dengan keputusan Gus Dur mengangkat Mahfud MD sebagai Menteri Pertahanan.

Gara-gara kabar buruk itu, Gus Dur dihina dan dilecehkan karena Menteri Pertanahan, Mahfud akhirnya ingin mengundurkan diri. Meski banyak teman Mahfud yang tidak setuju, tekad Mahfud untuk mundur dari Menteri Pertahanan sudah bulat. Namun, sebelum surat pengunduran diri itu ditulis, tiba-tiba Gus Dur memanggil Mahfud untuk tidak mengundurkan diri.

“Fud, jangan mengundurkan diri. Bekerja untuk beberapa bulan ke depan. Nanti orang akan tahu karya-karya hebatmu,” kata Gus Dur saat dihubungi Mahfud MD. Di sinilah keyakinan Gus Dur kembali muncul dan terbaca. Padahal, menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu, tidak ada yang memberi tahu Gus Dur bahwa dia akan mengundurkan diri. Tapi Gus Dur sudah tahu sebelumnya apa yang akan dilakukan Mahfud.

Baca Juga  Piagam Madinah, Refresentasi Moderasi Beragama

“Keyakinan Gus Dur terbukti dalam kasus ini,” jelas Mahfud MD pada suatu kesempatan.

Perwalian Gus Dur

Tentang perwalian Gus Dur, buku Bukti Perwalian Gus Dur telah ditulis oleh Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin. Dilansir dari laman jatim.nu.or.id, amanat Gus Dur itu sangat terlihat saat melakukan audiensi dengan kepentingan rakyat.

Gus Dur layak dikategorikan sebagai waliyullah, karena semasa hidupnya ia tampil sebagai sosok kiai yang sangat kuat, seorang pemimpin dengan komitmen yang sangat tinggi untuk mengangkat derajat ummat. Juga dikenal selalu membela hak-hak warga negara yang lemah (mustadl’afin) di hadapan penguasa yang otoriter. Dan selalu berperilaku rendah hati, meskipun memiliki banyak kesempatan untuk hidup dalam kemewahan.

Kesaksian dalam buku ini membuktikan dan membuktikan bahwa Gus Dur adalah sosok yang dekat dengan umat, sekaligus dengan Allah SWT. Hal ini sesuai dengan sifat-sifat wali sebagaimana tercantum dalam teks Al-Qur’an dan Hadits. Maka buku ini layak dibaca lebih lanjut tentang nilai-nilai perwalian pada sosok Abdurrahman Wahid Ad-Dakhil alias Gus Dur.

Tentu masih banyak lagi karomah-karomah dari Gus Dur yang tidak bisa disebutkan di sini. Setidaknya kita bisa membaca, memahami, dan memahami bahwa Gus Dur adalah pribadi yang kwasul khawas, yang memiliki keunikan tersendiri yang tidak lepas dari nilai-nilai waliyullah. Gus Dur memiliki kepribadian yang perlu diteladani, menjadi Abraham dan panutan dalam kehidupan Gus Dur yang sederhana. Namun, pada kenyataannya, ia memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang layak dan bahkan mewah.

Penutup

12 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 30 Desember 2009, Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur wafat di sisi Allah swt. Kepergian Gus Dur merupakan duka yang mendalam dan kehilangan yang besar bagi Indonesia. Gus Dur mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Rabu (30/12/2009), pukul 18.45 WIB.

Baca Juga  Wawasan Kajian Al-Quran (1): Mengenal Al-Quran

Semoga jasad Gus Dur pergi untuk selama-lamanya. Namun akhlak, keteladanan, kesopanan, dan kesederhanaannya tetap menjadi kepribadian generasi kita khususnya nahdliyyin untuk selalu hidup dalam nilai-nilai sosial. Semoga kita bisa (lagi) membaca bahwa perwalian Gus Dur adalah sumber inspirasi untuk mensejahterakan rakyat. Wallahu A’alam!

Penyunting: Ananul Nahari Hayunahargumentasi yang melarang Aborsi Itu tidak logis