Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Melacak Historisitas Diskursus Kajian Wujūh wa Nadzair

Sumber: istockphoto.com

Kajian linguistik merupakan salah satu pembahasan dalam tafsir sejak era klasik. Linguistik adalah salah satu ittijah (kecenderungan) dalam tafsir yang menekankan pada kajian makna kata dan ayatnya, dilalah dan i’rab, serta membaginya kedalam gharīb, musykīl dan mutasyabbih. Kajian makna dalam al-Qur’an sangat penting karena untuk memahami maksud suatu ayat diperlukan pemahaman terhadap makna suatu kata. Para ulama dalam perhatiannya terhadap lafadz menemukan satu lafadz yang menunjukkan satu makna, dua makna, dan beberapa makna. Lafadz yang memiliki satu makna maka dihukumi menggunakan makna itu sendiri. Adapun lafadz yang memiliki dua atau beberapa makna maka menggunakan tarjih untuk menentukan salah satu maknanya. Dalam diskursus ilmu al-Qur’an kajian ini dinamakan wujūh wa nadzair.

Sejarah Munculnya Kitab

Awal munculnya pemikiran wujūh wa nadzair sudah ada sejak zaman Nabi, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Muqātil ibn Sulaimān:

لا يكون الرجل فقيها كل الفقه  حتى يرى في القرأن وجوها كثيرة

Seseorang tidak akan benar-benar paham akan al-Qur’an sampai ia mengetahui makna yang beragam di dalam al-Quran

Selain itu terdapat riwayat perkataan Alī ibn Abī Thālib ketika mengutus Ibn Abbās kepada kaum Khawārij “pergilah kepada mereka dan berdebatlah dengan mereka tetapi jangan berhujjah kepada mereka dengan Al-Qur’an karena Al-Qur‟an mempunyai banyak wajah, tetapi berdebatlah dengan mereka dengan sunnah”.

Dalam kitab wujūh wa nadzair karya Salwā Muhammad, kitab paling tua yang membahas kajian ini ditemukan pada abad ke-2 yaitu kitab Wujūh wa Nadzair fī al-Qur’an al-Karīm karya Muqātil ibn Sulaimān al-Balkhī (W150). Di dalam Kasyfu al-Dzhunnūn juga disebutkan kitab karya Ikrimah Maulā ibn Abbas (W105) dan Alī ibn Abī Thalhah (W143). Namun kedua kitabnya tidak sampai kepada kita hanya berupa informasi samar, yang menunjukkan pemikiran al-wujūh wa al-nadhair telah ada sejak awal. Pada abad ini juga ditemukan kitab Al-Wujuh wa al-Nadhair fī al-Qur’an al-Karīm karya Harun ibn Musa (W170). Akhir abad ke-2 ada Al-Taṣārīf karya Yahyā ibn Salām (W 200).

Baca Juga  Konspirasi Ramalan ‘The Simpsons’, Bagaimana Menurut Islam?

***

Pada abad ke-3 ada Al-Hakīm al-Tirmidzī dengan kitabnya Taḥṣīl Nadzāir al-Qur’an yang berisi bantahan gagasan tentang wujūh dalam al-Qur’an, dan mengawali perubahan arah pikiran terhadap gagasan wujūh. Menurutnya setiap lafadz hanya memiliki satu makna asal. Sedangkan penafsiran dengan makna lain itu berasal dari satu makna asal. Setelahnya ada kitabnya al-Aṣma’ī (W 224), dan al-Ajnās min al-Kalām al-‘Arāb wa mā Isytabah fī al-Lafdz wa Ikhtilāf fi al-Ma’nā karya Abī Ubaid al-Qāsim ibn Sallam (W 224).

Pada abad ini para ahli bahasa mulai membahas kajian Wujūh wa Nadzair dalam kitab khusus yang sebelumnya masih menjadi bagian dalam pembahasan ilmu al-Qur’an, salah satunya kitab Mā Ittifaq Lafdzuhu wa Ikhtilaf Ma’nāhu fī al-Qur’an al-Karīm karya Al-Mubarrad (W 286) dan Al-Munajjad fī al-Lughah karya Kara’ al-Naml (W 310). Kitab Al-Munajjad fī al-Lughah menggunakan metode penyusunan sesuai urutan huruf hijaiyah seperti kamus. Adanya perubahan arah pemikiran dari Al-Hakīm al-Tirmidzī tidak membuat pemikiran lama berhenti begitu saja. Banyak para ulama pada abad setelahnya yang menulis dengan pemikiran lama.

Pada abad ke-5 muncul kitabnya al-Dāmaghānī (W 478) yang disebutkan al-Suyuti dalam al-Itqan yaitu kitab al-Wujūh wa al-Nadzair fī al-Qur’an al-Karīm. Kitab ini memuat sekitar 500 kata yang disusun berdasarkan urutan hijaiyah dengan penjelasan yang singkat. Selain itu ada kitab Wujūh al-Qur’an karya Ismāil al-Hairi al-Naisibūrī namun belum tercetak dan masih berupa manuskrip.

***

Di akhir abad ke 6 muncul kitab Nazhah al-‘Ain al-Nawādzir fī ‘Ilm al-Wujūh wa al-Nadzair karya Ibn al-Jauzī (W 598). Dalam kitabnya beliau mengkritik ulama sebelumnya dalam ilmu ini yang hanya taqlid mengutip dari ulama sebelumnya tanpa memikirkan apa yang dikutip. al-Jauzī memberikan ta’rif ilmu ini dan berpendapat bahwa lafadz nadzair (dua kata atau lebih yang memiliki makna sama) itu tidak sepenuhnya sama, maknanya berbeda-beda satu dengan makna yang lain.

Baca Juga  Memupuk Potensi Pembelajaran Perspektif Al-Qur'an

Di abad ke-8 muncul kitab Baṣāir dzawi al-Tamyīz fī Laṭāif al-Kitāb al-‘Azīz oleh Fairuzzabadi. Selain menjelaskan aspek al-wujuh wa al-nadhair kitab ini menghimpun beberapa ilmu al-Qur’an. Kitab ini disusun berdasarkan tartib surah dalam al-Qur’an, kemudian membahasnya dalam 9 aspek pembahasan yaitu: tempat turunnya surat, jumlah ayat huruf dan kalimat, perbedaan qurra dan jumlah ayat, pemisah surat, nama surat, maksud dan kandungan surat, naskh dan mansukh surat, ayat mutasyabbih dari surat, dan keutamaan surat. Pandangan Fairuzzabadi mengenai wujuh wa nadzair dalam kitabnya lebih luas jika dibandingkan dengan kitab lain yang secara khusus membahas wujuh wa nadzair. Di abad ke-9 Hindun Shalabī menuturkan kitab wujuh wa nadzair dalam al-Qur’an yang telah tercetak yaitu Kasyf al-Sarāir ‘an Ma’nā al-Wujūh wa al-Nadhāir karya Syamsuddin ibn ‘Imad (W 887).

Dari beberapa kitab yang disebutkan hanya 7 yang sudah tercetak yaitu al-Wujūh wa al-Nadzair fī al-Qur’an al-Karīm (Muqatil ibn Sulaiman), Al-Wujuh wa al-Nadhair fī al-Qur’an al-Karīm  (Harun ibn Musa), Taḥṣīl Nadzāir al-Qur’an (al-Hakim al-Tirmidzi), al-Wujūh wa al-Nadzair fī al-Qur’an al-Karīm (al-Damāghanī), Nazhah al-‘Ain al-Nawādzir fī ‘Ilm al-Wujūh wa al-Nadzair (Ibn al-Jauzī), Baṣāir dzawi al-Tamyīz fī Laṭāif al-Kitāb al-‘Azīz (Fairuzzabadi), Kasyf al-Sarāir ‘an Ma’nā al-Wujūh wa al-Nadhāir (Syamsuddin). Selain dari kitab tersebut masih berupa manuskrip dan belum tercetak.

Editor: An-Najmi

Hilyah Zakiyah
Mahasantri Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir STAI Al-Anwar Sarang Rembang